AKNSB Yogyakarta Memukau PKB XLVIII Lewat Sendratari Satya Paramartha, Kisah Bratasena Sarat Nilai Spiritual
- account_circle Ray
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Menceritakan kisah Bratasena yang diperintahkan oleh gurunya Bernama Resi Durna, untuk mencari air kehidupan (Tirta Perwitasari).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kolaborasi Program Studi Seni Tari, Karawitan, dan Kriya Kulit AKNSB Yogyakarta sukses menyuguhkan pertunjukan artistik yang memikat perhatian penonton di Gedung Ksirarnawa.
DENPASAR – Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya (AKNSB) Yogyakarta menghadirkan pertunjukan Sendratari Satya Paramartha (Pencarian Kebenaran Tertinggi) pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7) sore.

Tampilan sendratari yang ditampilkan sungguh memukau dari unsur Koreografi, kostum, musik Kreativitas Karawitan yang dibawanya, yang terkesan lebih mantap dari tahun – tahun sebelumnya.

Otok Fitrianto, M.Pd., selaku Sutradara Pagelaran pertunjukan Sendratari Satya Paramartha (Pencarian Kebenaran Tertinggi) pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII.
Menemui sutradara Otok Fitrianto, M.Pd., yang bertanggung jawan terhadap pagelaran itu menyebutkan menggarap sendratari itu lantaran menyesuaikan dengan tema Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII yakni “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha, Memuliakan Jiwa Paripurna”
Dalam sendratari itu menceritakan kisah Bratasena yang diperintahkan oleh gurunya Bernama Resi Durna, untuk mencari air kehidupan (Tirta Perwitasari) sebagai syarat mencapai kesempurnaan ilmu. Namun sebenarnya, perintah itu adalah tipu daya untuk mencelakakan Bratasena.

Tanpa ragu, Bratasena menjalankan tugas tersebut dengan penuh tekad. Ia menghadapi berbagai rintangan, termasuk melawan raksasa penunggu hutan gunung Candramuka dan Naga penjaga di samudra luas.
Setelah melewati beberapa rintangan dan mampu mengalahkannya Akhirnya, Bratasena masuk ke dasar lautan dan bertemu sosok kecil bercahaya bernama Dewa Ruci. Dewa Ruci meminta Bratasena masuk ke dalam tubuhnya.

Di dalamnya, Bratasena melihat alam semesta yang luas dan mendapatkan pengetahuan sejati, hakikat kehidupan, asal dan tujuan manusia, kesatuan antara manusia dengan Tuhan. Sejak mendapatkan pencerahan dari Dewa Ruci, Bratasena mencapai kesadaran spiritual tertingginya.
Sebanyak 110 seniman dilibatkan dalam pertunjukan yang mengolaborasikan Program Studi Seni Tari, Seni Karawitan, dan Kriya Kulit. Ketiganya menyajikan perpaduan tari, musik tradisi, dan seni kriya dalam satu kesatuan artistik.

Ali Nur Sotya Nugraha, M.Sn., dari Kaprodi Tari.
Ali Nur Sotya Nugraha, M.Sn., dari Kaprodi Tari juga menyebutkan ada 3 karya yang ditampilkan yakni, penampilan Tari Topeng Gunungsari dari Fragmen Cerita Panji, konser Karawitan membawakan karya Lelagon Pangatak berlaras Pelog Pathet Nem ciptaan maestro Ki Narto Sabdo, dan Sendratari Satya Paramartha.
“Dalam sendratari tersebut kita mengolah basic tari yogya, kita kembangkan dan modifikasi sedemikian rupa tetapi masih terlihat nafas keyogyaannya, ” Ungkap Ali Nur Sotya.

Ima Novilasari M.Sn., dari Kaprodi Kriya Kulit.
Ima Novilasari M.Sn., dari Kaprodi Kriya Kulit juga menyajikan lokakarya (workshop) tatah sungging (membuat wayang kulit). “Kami memamerkan hasil karya mahasiswa yakni wayang kulit gagrak Yogyakarta dan Kulitan jarik gagrak Yogyakarta”

Prodi Kriya Kulit menyajikan lokakarya (workshop) tatah sungging (membuat wayang kulit).
Saat bertandang ke Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, beberapa mahasiswa dikatakannya menanyakan tatahan Yogyakarta yang lebih rumit dari yang ada di Bali. “Tatahan Yogyakarta itu ada yang kecil – kecil sedangkan Bali agak berbeda Tatahannya lebih besar, ” Ungkap Ima.

Bayu Purnama, M.Sn., selaku Kaprodi Karawitan.
Lanjut ke Bayu Purnama, M.Sn., selaku Kaprodi Karawitan, ia menyebutkan bahwa yang akan dibawakan dalam pagelaran itu adalah Karawitan gending (lagu) dolanan karya maestro Ki Narto Sabdo yang di aransemen oleh mahasiswa prodi karawitan.
“Awal kita bawakan Gending Soran yang merupakan pakem gaya Yogyakarta, kemudian kita mengiringi Tari Klana Topeng Alus Gunungsari yang merupakan pakem yang dimiliki oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, ” Ungkapnya.

Dosen kreativitas karawitan Agustinus Welly Hendratmoko, M.Sn. (efek bunyi).
Dalam seni Karawitan ini bersama dosen kreativitas karawitan Agustinus Welly Hendratmoko, M.Sn. (efek bunyi) bersama mengiringi Sendratari Satya Paramartha.

Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., selaku Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya (AKNSB) Yogyakarta.
Prof. Dr. Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., selaku Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya (AKNSB) Yogyakarta menyebutkan support dari pemerintah daerah dari dana keistimewaan yang membuat Praktek Kerja Lapangan (PKL) Mahasiswa bisa terakomodir dengan baik.
“Setiap tahun kita mengadakan ini, tidak aja tari kita juga melaksanakan karawitan, kriya kulit seperti pameran wayang kulit, ” Jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa kedepannya tidak hanya menyajikan kreasi dari tarian basis Yogyakarta saja tetapi akan dikreasikan sesuai dengan perkembangan seni di Indonesia, “Apalagi kita datang ke Bali, jadi anak – anak harus terus diasah kemampuannya untuk berkeeasi walaupun basicnya dari kesenian tari Yogyakarta, ” Ungkapnya.

Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P.., selaku Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Drs. Raden Suci Rohmadi, M.I.P.., selaku Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga ikut hadir menyaksikan pagelaran ini.
“Pemerintah daerah akan tetap komitmen dalam upaya melestarikan budaya Yogyakarta ini dengan dana keistimewaan, ini merupakan bagian dari pembelajaran di AKN Seni Budaya, dukungan itu akan terus kita tingkatkan dalam menunjang pendidikan budaya dan sarana prasarananya, ” Sebut Kabid di Disdikpora tersebut.

Wisnu Dermawan M.Sn., Koreografer.
Terakhir awak media menemui Wisnu Dermawan M.Sn., seorang Koreografer. Ia menerangkan bahwa pertunjukan Sendratari Satya Paramartha adalah kreatifitas baru dari pakem lama khas Yogyakarta.

Pagelaran Tari Klana Topeng Alus Gunungsari yang merupakan pakem yang dimiliki oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Warna yang dominan coklat dan lainnya khas yogyakarta kita kembangkan menjadi leboh menarik, seperti penggunaan warna hijau terang pada naga, laut dengan gradasi biru serta raksasa pada merah, itu semua merupakan sentuhan kreasi kami yang lebih mengikuti jaman walau dasarnya tetap berakar pada budaya Yogyakarta, ” Pungkasnya.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar