Festival Penjor Serangan 2026 Perkuat Pelestarian Budaya, BTID dan Desa Adat Bersinergi Dukung Generasi Muda
- account_circle Admin
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Festival Penjor 2026 kembali digelar di Desa Adat Serangan, Denpasar Selatan, sebagai upaya melestarikan tradisi Bali sekaligus mempererat sinergi antara masyarakat adat dan PT Bali Turtle Island Development (BTID). Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas tanpa meninggalkan pakem budaya yang diwariskan leluhur.
Semangat para yowana tampak begitu tinggi dalam proses pembuatan penjor yang berlangsung selama satu hingga dua bulan. Tak sedikit peserta yang bekerja hingga larut malam demi menghasilkan karya terbaik. Dalam tradisi Hindu Bali, penjor bukan sekadar hiasan Hari Raya Galungan dan Kuningan, melainkan simbol gunung suci yang melambangkan kemakmuran, kesucian, serta ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bendesa Adat Serangan, Nyoman Gede Pariartha, mengatakan Festival Penjor merupakan bagian dari rangkaian Pujawali Pura Dalem Sakenan yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan pada 17 Juni 2026 dan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026.
Menurutnya, tujuan utama festival bukan semata-mata mencari pemenang, tetapi menjaga kelestarian budaya sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami filosofi penjor melalui proses pembuatannya.
“Melalui festival ini, anak-anak muda belajar menjaga tradisi sekaligus memahami nilai spiritual yang terkandung dalam penjor,” ujarnya di sela kegiatan, Kamis (25/6/2026).
Festival tahun ini diikuti lima banjar, yakni Banjar Ponjok, Banjar Kaja, Banjar Kawan, Banjar Peken, dan Banjar Dukuh. Sementara Banjar Tengah belum dapat berpartisipasi sehingga jumlah peserta berkurang dibandingkan tahun sebelumnya yang melibatkan enam banjar.
Pariartha juga mengapresiasi dukungan BTID yang sejak awal menjadi penggagas sekaligus mitra penyelenggara festival. Menurutnya, biaya pembuatan satu penjor dapat mencapai lebih dari Rp5 juta sehingga bantuan perusahaan sangat membantu masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut.

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian budaya di Desa Adat Serangan melalui berbagai program kolaboratif.
Ia menjelaskan, Festival Penjor 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga sejak diinisiasi BTID. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya yang sepenuhnya didukung perusahaan, tahun ini kegiatan juga mendapat dukungan dari sejumlah sponsor.
“BTID mengalokasikan anggaran sekitar Rp50 juta untuk mendukung penyelenggaraan festival sekaligus memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba,” kata Zefri.
Selain Festival Penjor, BTID juga secara rutin mendukung berbagai kegiatan masyarakat Desa Adat Serangan, mulai dari pembinaan kepemudaan hingga penyelenggaraan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia melalui berbagai perlombaan.
Dalam proses penjurian, aspek yang dinilai tidak hanya keindahan visual penjor. Dewan juri, I Gede Arum Gunawan, S.Ag., M.Ag., menjelaskan bahwa kelengkapan sebelas unsur wajib sebagaimana tercantum dalam Lontar Dharmaning Uparena menjadi syarat utama penilaian.
Setelah seluruh unsur tersebut terpenuhi, penilaian dilanjutkan pada aspek estetika, harmonisasi bentuk dan warna, serta kekuatan konstruksi penjor. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan yang telah disepakati akan memengaruhi perolehan nilai peserta.
Melalui Festival Penjor 2026, Desa Adat Serangan berharap tradisi yang menjadi salah satu identitas budaya Bali ini tetap lestari, sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab generasi muda untuk menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar