Breaking News
light_mode

Wabar, Mamalia Mirip Marmut di Arab yang Dikaitkan dengan Abu Jahal dan Dipercaya Berkhasiat untuk Vitalitas Pria

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hewan kecil penghuni bebatuan ini bukan tikus atau marmut. Secara ilmiah, wabar atau rock hyrax justru masih satu kelompok kekerabatan evolusioner dengan gajah dan dugong.

DENPASAR – Di tengah bentang alam berbatu dan tandus kawasan Timur Tengah, terdapat seekor mamalia kecil yang sekilas menyerupai marmut berukuran besar. Masyarakat Arab mengenalnya dengan nama wabar, sementara dalam dunia zoologi hewan tersebut dikenal sebagai rock hyrax dengan nama ilmiah Procavia capensis.

Penampilan wabar memang mudah membuat orang keliru. Tubuhnya relatif pendek, berkaki kuat, dan memiliki kemampuan memanjat serta bergerak lincah di antara bebatuan. Namun, secara klasifikasi, hewan ini sama sekali bukan tikus maupun marmut.

Rock hyrax merupakan mamalia herbivora yang mengonsumsi rumput, daun, dan tumbuhan. Hewan ini juga dikenal memiliki kebiasaan berjemur di atas bebatuan, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung aktivitas tersebut.

Penelitian zoologi menyebut rock hyrax sebagai mamalia berukuran kira-kira sebesar kelinci yang hidup di kawasan berbatu dan pegunungan. Studi mengenai anatomi dan evolusinya juga menempatkan hyrax dalam kelompok Paenungulata, bersama gajah dan mamalia laut seperti dugong serta manatee.

“Rock hyraxes are diurnal, rabbit-sized herbivores that inhabit rocky outcrops and mountainous regions,” demikian keterangan penelitian yang diterbitkan melalui PMC mengenai karakter biologis rock hyrax.

Keunikan hubungan evolusioner tersebut menjadi salah satu fakta paling menarik tentang wabar. Hewan yang secara kasatmata terlihat seperti pengerat ternyata berada dalam garis evolusi yang jauh lebih dekat dengan gajah dan sirenia dibandingkan dengan tikus atau marmut.

Dikaitkan dengan Abu Jahal

Nama wabar dalam sejumlah pemberitaan populer di Indonesia juga dikaitkan dengan Abu Jahal, tokoh Quraisy yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW. Wabar bahkan disebut-sebut sebagai hewan yang dahulu dipelihara Abu Jahal dan kemudian masih berkembang biak di kawasan Makkah.

Namun, klaim tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati.

Penelusuran terhadap sumber yang tersedia menunjukkan cerita mengenai wabar sebagai “hewan peliharaan Abu Jahal” lebih banyak muncul dalam pemberitaan populer dan konten media sosial, bukan dalam sumber sejarah primer yang kuat dan mudah diverifikasi. Karena itu, hubungan langsung antara Abu Jahal dan wabar lebih tepat ditulis sebagai klaim atau cerita yang beredar, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terbukti.

Salah satu pemberitaan yang mengangkat cerita tersebut bahkan bersumber dari video konten kreator Alman Mulyana yang merekam wabar di kawasan Makkah. Dalam video itu, Alman menyebut, “Ini guys binatang peliharaan Abu Jahal.”

Pernyataan tersebut merupakan klaim dari pembuat konten, bukan bukti sejarah yang secara independen membuktikan bahwa Abu Jahal benar-benar memelihara wabar.

Dipercaya sebagai obat kuat

Selain cerita sejarah yang kontroversial, wabar memiliki sisi lain yang membuatnya menarik perhatian, yakni kepercayaan tradisional mengenai khasiatnya.

Sejumlah catatan mengenai masyarakat Badui di kawasan Sinai dan Arab menyebut adanya kepercayaan bahwa daging serta darah hyrax memiliki khasiat pengobatan, termasuk dipercaya mempunyai sifat afrodisiak.

Catatan dalam publikasi Afrotherian Conservation menyebut hyrax dari sebuah koloni di Sinai disebut-sebut sesekali dijual kepada warga Saudi karena adanya kepercayaan bahwa darah dan dagingnya mempunyai khasiat medis serta afrodisiak. Catatan tersebut juga secara jelas menyebut informasi itu sebagai kepercayaan masyarakat, bukan hasil pembuktian medis.

Dengan demikian, klaim wabar sebagai “obat kuat” sebaiknya tidak dipahami sebagai fakta medis. Hingga kini, kepercayaan tradisional tersebut tidak dapat disamakan dengan obat peningkat vitalitas yang telah melewati uji klinis dan mendapatkan pembuktian ilmiah mengenai efektivitasnya.

Kepercayaan tersebut, bagaimanapun, membuat wabar memiliki nilai tertentu dalam sebagian komunitas. Sejumlah laporan populer di Indonesia bahkan menyebut harga wabar betina lebih tinggi daripada pejantan. Namun, angka harga yang beredar berasal dari laporan media sosial dan pemberitaan sekunder sehingga tidak dapat dijadikan patokan harga pasar resmi.

Hidup di kawasan Tanah Haram

Keberadaan wabar di sekitar Makkah juga berkaitan dengan ketentuan mengenai perlindungan hewan buruan di kawasan Tanah Haram.

Dalam ketentuan fikih, terdapat larangan berburu hewan darat bagi orang yang sedang berihram. Selain itu, terdapat pula ketentuan khusus mengenai larangan berburu di wilayah Haram. Majelis Ulama Indonesia menjelaskan bahwa orang yang sedang berihram dilarang menangkap atau berburu hewan liar darat yang termasuk hewan buruan.

Karena itu, keberadaan satwa liar di kawasan suci tidak dapat dipandang semata-mata dari sisi ekonomi atau perburuan. Ada aturan keagamaan yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang berada dalam kondisi ihram maupun berada di kawasan yang memiliki ketentuan khusus tersebut.

Di balik penampilannya yang sederhana, wabar akhirnya menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks. Ia merupakan mamalia kecil penghuni bebatuan, bagian dari kelompok evolusioner yang mencakup gajah dan sirenia, sekaligus menjadi objek berbagai kepercayaan tradisional di sebagian masyarakat Arab.

Bagi dunia zoologi, wabar adalah salah satu contoh menarik bahwa kemiripan bentuk tubuh tidak selalu menunjukkan hubungan kekerabatan. Bagi masyarakat, hewan ini memiliki dimensi budaya dan cerita yang berkembang dari generasi ke generasi.

Namun, antara fakta ilmiah dan cerita populer tetap harus dibedakan. Wabar memang nyata, tetapi klaim mengenai hubungannya dengan Abu Jahal serta khasiatnya sebagai obat kuat belum memiliki dasar pembuktian yang setara dengan fakta zoologis mengenai spesies tersebut.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Imigrasi Ngurah Rai Gandeng Gojek, Pengiriman Paspor Kini Bisa Lewat GoSend

    Imigrasi Ngurah Rai Gandeng Gojek, Pengiriman Paspor Kini Bisa Lewat GoSend

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    BADUNG – Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Terbaru, instansi tersebut menjalin kerja sama strategis dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk untuk menghadirkan layanan pengantaran paspor melalui fitur GoSend. Kolaborasi yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Aula Kantor Imigrasi Ngurah Rai pada Senin […]

  • Prof Anom Sepakat dengan Puan, Soroti Koster yang Diduga Abai Terhadap Peringatan Dini Sektor Pariwisata photo_camera 4

    Prof Anom Sepakat dengan Puan, Soroti Koster yang Diduga Abai Terhadap Peringatan Dini Sektor Pariwisata

    • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 8Komentar

    DENPASAR – Gubernur Bali I Wayan Koster kembali menjadi sorotan tajam setelah dinilai terlalu optimistis dalam menanggapi isu pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pariwisata Bali. Pernyataannya yang menyebut isu PHK sebagai “kampanye hitam” dari pesaing destinasi wisata lain justru memicu kritik dari berbagai kalangan, termasuk akademisi pariwisata. Salah satu suara kritis datang dari Prof. […]

  • Ilmuwan China Berhasil Pulihkan Diabetes Tipe 1 Lewat Terapi Sel Punca Pasien Sendiri

    Ilmuwan China Berhasil Pulihkan Diabetes Tipe 1 Lewat Terapi Sel Punca Pasien Sendiri

    • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 6Komentar

    Beijing – Sebuah terobosan medis bersejarah lahir di China. Tim ilmuwan yang dipimpin Prof. Deng Hongkui, ahli biologi sel dari Universitas Peking, berhasil memulihkan seorang pasien diabetes tipe 1 menggunakan sel puncanya sendiri yang direkayasa ulang. Ini menjadi kasus pertama di dunia di mana pasien terbebas dari suntikan insulin berkat terapi seluler. “Setelah lebih dari […]

  • Meme KDM soal Genderuwo Penjaga Hutan, Menampar Cara Negara Merawat Alam

    Meme KDM soal Genderuwo Penjaga Hutan, Menampar Cara Negara Merawat Alam

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    JAKARTA — Pernyataan Kang Deddy Mulyadi (KDM) yang menyebut bahwa “lebih baik hutan dijaga oleh genderuwo dan kuntilanak daripada Kementerian Kehutanan” mendadak viral dan menjelma menjadi meme di berbagai platform media sosial. Potongan pernyataan bernada satir itu menyulut reaksi luas publik—mulai dari gelak tawa, kritik tajam terhadap tata kelola hutan, hingga refleksi mendalam tentang kearifan […]

  • Indonesia Siaga Hantavirus, Kemenkes Pastikan Dua Suspek di Jakarta dan Yogyakarta Negatif

    Indonesia Siaga Hantavirus, Kemenkes Pastikan Dua Suspek di Jakarta dan Yogyakarta Negatif

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Ray
    • 11Komentar

    JAKARTA – Kementerian Kesehatan memastikan dua kasus suspek hantavirus yang ditemukan di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif serta telah sembuh. Kepastian ini disampaikan di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap wabah hantavirus varian Andes yang muncul di kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, […]

  • Kasus Sing Ken Ken Boutique Hotel Bongkar Dugaan Kolusi Oknum Kurator, Bank, dan Aparat Hukum

    Kasus Sing Ken Ken Boutique Hotel Bongkar Dugaan Kolusi Oknum Kurator, Bank, dan Aparat Hukum

    • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 18Komentar

    MENGGEMPUR MAFIA PAILIT! JAKARTA – Aroma busuk mafia peradilan kembali tercium tajam dalam kasus kepailitan Sing Ken Ken Boutique Hotel di kawasan Legian–Seminyak, Kabupaten Badung, Bali. Hotel mewah yang dulunya berdiri megah di Jalan Arjuna No. 1 kini tinggal puing-puing, setelah asetnya diduga digerogoti oleh oknum yang seharusnya menjaga, bukan menguras. Kasus ini bermula dari […]

expand_less