Breaking News
light_mode

Sunda Tidak Lemah, Kita yang Salah Membaca Sejarah

  • account_circle Ray
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Orang Sunda kerap dicitrakan sebagai lembut, menghindari konflik, dan cenderung mengalah. Dalam iklim wacana nasional yang mengagungkan ketegasan, dominasi, dan keberanian frontal, karakter ini sering disalahartikan sebagai kelemahan kultural.

Sunda lalu ditempatkan di pinggiran narasi sejarah, seolah-olah menjadi peradaban yang kalah sebelum bertanding. Cara pandang ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan.

Sejarah Sunda justru menunjukkan pilihan peradaban yang berbeda, bukan inferior. Karakter menghindari konflik bukan lahir dari ketidakmampuan berkuasa, melainkan dari orientasi nilai yang menempatkan etika dan pengendalian diri di atas hasrat ekspansi.

Tradisi Sunda Kuno tumbuh dalam kerangka etos resi dan brahmana, sebuah pandangan hidup yang memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus dibatasi, bukan dipamerkan.

Naskah-naskah Sunda Kuno seperti Sang Hyang Siksa Kandang Karesian menempatkan karesian sebagai pusat pembentukan manusia ideal.

Karesian bukan ruang pelarian dari dunia, melainkan institusi pendidikan moral. Di sana, kebijaksanaan batin, keseimbangan, dan kendali diri menjadi tujuan utama. Dalam struktur ini, otoritas etika memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan otoritas politik. Ini bertolak belakang dengan logika modern yang menjadikan kekuasaan sebagai ukuran keberhasilan peradaban.

Pilihan nilai tersebut tercermin secara konkret dalam lanskap sejarah Sunda. Berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang meninggalkan candi-candi raksasa dan simbol kejayaan politik, tanah Sunda relatif miskin bangunan monumental kerajaan. Fakta ini sering dibaca sebagai kekurangan, padahal justru mengindikasikan bahwa kekuasaan tidak dijadikan pusat kebudayaan.

Sunda tidak merasa perlu mengabadikan kekuasaan dalam batu, karena legitimasi sosial tidak bertumpu pada kemegahan material.

Kekuasaan dalam tradisi Sunda bersifat fungsional dan etis. Raja tidak berdiri mutlak.

Dalam Carita Parahyangan dan Amanat Galunggung, penguasa terikat oleh tata nilai kosmologis dan moral. Ketika raja melanggar nilai tersebut, kehancuran dipahami sebagai konsekuensi etis, bukan sekadar kegagalan politik. Ini menegaskan bahwa dalam imajinasi Sunda, kebijaksanaan berada di atas takhta.

Prinsip silih asih, silih asah, silih asuh bukan sekadar slogan kultural, melainkan fondasi sosial. Konflik tidak dipandang sebagai arena pembuktian kekuatan, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Dalam filsafat resi, menguasai diri sendiri memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan menaklukkan orang lain.

Karena itu, sejarah Sunda relatif minim narasi penaklukan dan perang ekspansif.

Label “pengalah” yang kerap dilekatkan pada orang Sunda seharusnya dibaca ulang. Mengalah dalam kerangka etos resi bukan tanda kekalahan, melainkan bentuk tertinggi dari pengendalian diri. Diam bukan ekspresi ketakutan, melainkan strategi etis untuk menjaga harmoni sosial. Ini bukan kelemahan, melainkan pilihan peradaban.

Masalahnya, narasi sejarah nasional terlalu lama dibangun dengan kacamata kekuasaan, siapa menaklukkan siapa, siapa membangun paling besar, siapa paling keras bersuara. Dalam kacamata ini, peradaban yang memilih jalan sunyi akan selalu terlihat kalah. Sunda menjadi korban dari cara membaca sejarah yang bias terhadap agresi dan monumentalitas.

Sudah saatnya karakter Sunda dibaca sebagai ekspresi kesadaran budaya, bukan kekurangan. Sunda tidak gagal menjadi peradaban besar; Sunda memilih untuk tidak menjadikan kekuasaan sebagai pusat kehidupan. Dalam situasi dunia yang hari ini dilanda krisis etika, kekerasan, dan kerakusan kekuasaan, pilihan peradaban semacam ini justru terasa relevan.

Sunda tidak lemah. Kita yang terlalu lama salah membaca sejarah.

 

Editor – Ray

Persembahanku pada Hyang Paduka Prabu Silihwangi.

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • AWDI Perkuat Konsolidasi di Bali, Dorong Percepatan Struktur dan Literasi Public Speaking Generasi Muda

    AWDI Perkuat Konsolidasi di Bali, Dorong Percepatan Struktur dan Literasi Public Speaking Generasi Muda

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), Vaza Fernantha, melakukan kunjungan silaturahmi ke DPW AWDI Bali sebagai bagian dari upaya memperkuat konsolidasi organisasi di daerah. Dalam pertemuan tersebut, ia diterima oleh Sekretaris DPW AWDI Bali, I Made Richy Ardhana Yasa yang akrab disapa Ray. Sementara itu, Ketua DPW AWDI Bali berhalangan […]

  • Aksi Heroik Berujung Duka, Pemuda Gianyar Hilang Terseret Arus di Pantai Purnama saat Tradisi Banyupinaruh

    Aksi Heroik Berujung Duka, Pemuda Gianyar Hilang Terseret Arus di Pantai Purnama saat Tradisi Banyupinaruh

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 7Komentar

    GIANYAR – Suasana sakral tradisi Banyupinaruh di Pantai Purnama berubah menjadi duka setelah seorang pemuda, Agus Suarsa Dharma (27), dilaporkan hilang terseret arus pada Minggu (5/4) pagi. Peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 07.40 WITA ketika seorang remaja, Kadek Raditya (18), terseret arus laut yang cukup kuat. Melihat kondisi tersebut, Agus dengan sigap berupaya memberikan pertolongan […]

  • Menkomdigi! Rekam Wajah di Ruang Publik, Jangan Sampai Hukum Dicari Setelah Kasus Viral

    Menkomdigi! Rekam Wajah di Ruang Publik, Jangan Sampai Hukum Dicari Setelah Kasus Viral

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Pernyataan Menkomdigi Meutya Hafid soal perekaman tanpa izin memicu pertanyaan tentang batas antara privasi, pemrosesan data pribadi, dokumentasi publik, dan kepastian hukum. JAKARTA — Pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengenai perekaman seseorang tanpa izin di ruang publik menuai perhatian. Pernyataan itu muncul setelah polemik konten kreator Ebem Martono yang merekam seorang usher […]

  • Lima Pilar Islam, Fondasi Utama Kehidupan Umat Muslim

    Lima Pilar Islam, Fondasi Utama Kehidupan Umat Muslim

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Islam dibangun di atas lima pilar utama yang menjadi pedoman hidup umat Muslim dalam menjalankan ajaran agama. Kelima pilar tersebut meliputi iman, salat, puasa, zakat atau sedekah, dan ibadah haji. Rukun-rukun ini bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi spiritual dan sosial yang membentuk karakter serta arah kehidupan seorang Muslim. Iman sebagai Landasan Utama […]

  • Kekayaan Instan dan Jejak Uang Kotor yang Tak Pernah Hilang

    Kekayaan Instan dan Jejak Uang Kotor yang Tak Pernah Hilang

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kekayaan yang melonjak secara tiba-tiba kerap mengusik nalar publik. Bukan karena lahir dari terobosan usaha atau akumulasi kerja panjang, melainkan karena muncul tanpa penjelasan yang sepadan dengan riwayat pekerjaan, kewajiban pajak, maupun aktivitas ekonomi yang diketahui. Dalam situasi seperti ini, persoalan utama bukan bagaimana uang digunakan, melainkan bagaimana asal-usulnya dapat dipertanggungjawabkan. Markas Melawan […]

  • Warak Keruron Massal di Pantai Padanggalak, Wujud Penghormatan Spiritual bagi Janin yang Gugur Play Button

    Warak Keruron Massal di Pantai Padanggalak, Wujud Penghormatan Spiritual bagi Janin yang Gugur

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 11Komentar

    DENPASAR – Ratusan umat Hindu mengikuti upacara Warak Keruron, ngelangkir, dan Ngelungah secara massal yang digelar oleh komunitas Atma Widya dan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN). Prosesi upacara dipuput oleh Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan, di Pantai Padanggalak Kesiman Denpasar. Menemui Pinandita I Wayan Dodi Arianta […]

expand_less