Breaking News
light_mode

Pura Sakral Pat Payung, Energi Sentral Pulau Serangan

  • account_circle Ray
  • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Mengunjungi Desa Serangan dan wilayah kawasan Kura Kura Bali tidak lengkap bila tidak Tangkil ke Pura Pat Payung, sebuah kawasan tempat suci yang berada di tengah semak belukar di arah timur menuju pantai serangan ini, yang kira – kira telah berumur 200 tahun yang lalu.

Menurut Jro Mangku setempat, I Ketut Sudiarsa menerangkan bahwa nama Pat Payung  berasal dari kata ‘Pat’ yang berarti empat, dan payung berarti  payung atau peneduh.

Jro Mangku I Ketut Sudiarsa Mapuja.

“Kata Pat Payung diartikan sebagai empat peneduh arah mata angin, yaitu arah timur, arah barat, arah utara, dan arah selatan,” ulas Jro Mangku Ketut Sudiarsa kepada awak Media Gatra Dewata, Selasa (10/3/2026).

Mangku Sudiarsa yang memiliki seorang putra yang bekerja di Negara Paman Sam ini menceritakan kisah sejarah asal mula nama Pura Pat Payung. Ia menceritakan kakek Mangku Sudiarsa seorang nelayan yang memungut batu karang laut unik ditengah laut yang diletakkannya dibawah pohon santen.

“Karang tersebut dilihat bersinar oleh orang sekitar yang di gong gonglah sama anjing – anjing. Kemudian adalah orang ketedunan / kerauhan yang mengatakan akan berdiri sebuah Pura yang digunakan sebagai permohonan pelindung bagi masyarakat sekitar, ” Ungkapnya.

Kemudian kakeknya mendirikanlah sebuah Pura Pat Payung diatas tanah tegalan miliknya, yang juga memiliki hubungan kental dengan Pura Sakenan. Dengan bukti sebuah tugu dengan meru yang menjulang tinggi.

“Setiap masyarakat Desa Sakenan bila akan ada hajatan pasti mepekeling, penyengkeb dan mohon penerang disini”

Pura ini juga memiliki hubungan dengan Pura Ratu Gede Dalem Ped, dengan wujud perempuan yang sudah sangat tua sekali yang kerap disebut Ratu Niang Sakti yang ada hubungannya dengan Pura Tanah Kilap.

“Bila wenten Pujawali ring Pura Tanah Kilap, yang disini itu adalah ibunya, makanya bila upacara itu berlangsung pasti nunas tirthanya disini, ” Ujarnya.

Konon ada cerita lainnya yang beredar di masyarakat, dahulu ada seorang juru kunci Kerajaan Majapahit yang diperintahkan untuk melakukan tapa di Pura Pat Payung. Atas permohonan pangempon pura, pertapa tersebut diminta untuk mencari, bagaimana sejatimya asal mula nama Pat Payung tersebut.

Setelah tapa bratanya selesai, diungkapkan bahwa nama Pat Payung diambil dari cerita zaman dahulu. Ketika Raja Klungkung dan Raja Karangasem berperang, terhempaslah payung miliki Raja Klungkung dan jatuh di Pulau Serangan, tepat di Pura Pat Payung kini berdiri. Sehingga kawasan tersebut dinamai Pat Payung.

Pura yang piodalannya jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Uye yang dikenal dengan Tumpek Kandang, ini mulanya hanya ada satu buah palinggih yang berasal dari kayu dapdap atau turus lumbung. Kemudian, di bawah turus lumbung tersebut diletakkan bebatuan, sehingga lama-kelamaan menjadi banyak dan menyerupai bentuk palinggih.

Setelah mengalami perkembangan, palinggih di pura ini menjadi bertambah, yaitu Palinggih Meru yang merupakan pangayat Pura Dalem Sakenan, Palinggih Dukuh Sakti, Palinggih Dewa Pat Payung, dan Palinggih Gong. Penambahan palinggih di Pura Pat Payung dilaksanakan berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik.

Palinggih Gong, salah satu kisah unik yang berada di Pura Pat Payung.

Muasal dibangunnya Palinggih Gong, bermula dari adanya sekaa (kelompok) Gong yang memohon taksu atau kharisma di Pura Pat Payung. Pada mulanya, kelompok ini tergolong lancar dan mampu menguasai banyak lagu-lagu. Namun, setelah beberapa lama berjalan, kelompok tersebut bubar, sehingga alat gambelan tidak lagi dirawat.

Palinggih Ratu Gobleg.

Kejadian aneh terjadi saat gambelan tersebut digunakan kembali, khususnya pada instrumen gong. Siapa pun yang memainkan gong tersebut, pasti akan jatuh sakit. Setelah ditanyakan kepada orang pintar, dikatakan bahwa gong tersebut harus distanakan di Pura Pat Payung. Hingga saat ini diyakini palinggih ini adalah tempat untuk memohon taksu kesenian.

Pelinggih Pura Dalem Jawi, yang berada disekitar kawasan Pura Pat Payung.

Di sekitar kawasan Pura Pat Payung ada juga pelinggih seperti Palinggih Pura Dalem Jawi, Palinggih Ratu Gobleg, Palinggih Ratu Gde Dalem Nusa dan Palinggih Ratu Wong Samar. Semua itu memiliki fungsi dan taksunya sendiri – sendiri, mereka berada ditengah – tengah sentral pertemuan tanah asli Pulau Serangan dan Reklamasi.

Palinggih Ratu Gde Dalem Nusa.

Palinggih Ratu Wong Samar.

Janji BTID untuk penataan Pura Pat Payung adalah menjadikan Pura ini juga sebagai pusat spiritual pengunjung dengan design telaga.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tikus dan Api, Wajah Kelam Keadilan di Abad Pertengahan

    Tikus dan Api, Wajah Kelam Keadilan di Abad Pertengahan

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    DENPASAR – Di masa ketika keadilan sering kali dikendalikan oleh rasa takut, abad pertengahan menyimpan banyak kisah kelam tentang hukuman yang tak hanya menyakiti tubuh, tetapi juga menghancurkan jiwa. Salah satu bentuk penyiksaan paling mengerikan yang pernah tercatat dalam sejarah adalah penyiksaan dengan tikus, metode yang dirancang bukan untuk membunuh dengan cepat, melainkan untuk membuat […]

  • Polda Sumsel Raih Kompolnas Award, Kapolda Dilaporkan ke Propam Terkait Kasus Tongkang Rp30 Miliar

    Polda Sumsel Raih Kompolnas Award, Kapolda Dilaporkan ke Propam Terkait Kasus Tongkang Rp30 Miliar

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    Penghargaan Polda Terbaik 2026 disorot setelah PPWI melaporkan Kapolda dan tiga pejabat Polda Sumsel ke Divpropam terkait penanganan perkara tongkang dan dugaan pemerasan Rp75 juta. PALEMBANG — Penghargaan Polda Terbaik dalam Kompolnas Awards 2026 yang diraih Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) kini menjadi sorotan. Penghargaan tersebut diberikan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dalam malam penganugerahan […]

  • Puluhan Warga Coret Agama Resmi, Pilih Kepercayaan Tuhan YME di KTP!

    Puluhan Warga Coret Agama Resmi, Pilih Kepercayaan Tuhan YME di KTP!

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 10Komentar

    BLITAR – Sebuah fenomena mengejutkan mengguncang Blitar! Puluhan warga Kabupaten Blitar secara terbuka mengganti kolom agama di KTP mereka menjadi “Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”. Langkah berani ini menjadi gelombang baru pasca keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang memberi ruang hukum bagi para penghayat kepercayaan untuk diakui secara resmi dalam dokumen kependudukan. Kepala Dinas Kependudukan […]

  • FOX Hotel Jimbaran Beach Bali Hadirkan Pengalaman Menginap Mewah dengan Sentuhan Budaya Lokal

    FOX Hotel Jimbaran Beach Bali Hadirkan Pengalaman Menginap Mewah dengan Sentuhan Budaya Lokal

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 87Komentar

    Badung, 14 Juli 2025 — Menyatu dalam keindahan alam dan budaya Bali, FOX Hotel Jimbaran Beach Bali mempersembahkan pengalaman menginap yang menggabungkan kenyamanan modern dengan kehangatan khas Pulau Dewata. Terletak strategis di kawasan Jimbaran yang dikenal dengan pantai eksotis dan kuliner lautnya, hotel ini menjadi pilihan sempurna bagi wisatawan yang menginginkan relaksasi, petualangan, maupun perjalanan […]

  • AHM Daftarkan Nama Rayden 160, Isyarat Kehadiran Penantang Baru Yamaha Aerox?

    AHM Daftarkan Nama Rayden 160, Isyarat Kehadiran Penantang Baru Yamaha Aerox?

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 818Komentar

    Pendaftaran merek baru di DJKI memunculkan spekulasi bahwa Honda tengah menyiapkan skutik sporty 160 cc berbasis Air Blade JAKARTA – PT Astra Honda Motor (AHM) dikabarkan tengah menyiapkan amunisi baru untuk memperkuat lini skutik premium di Indonesia. Dugaan tersebut muncul setelah nama “Honda Rayden 160” terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Pendaftaran nama tersebut […]

  • Menyusuri Napas Islam Jawa di Masjid Agung Keraton Surakarta

    Menyusuri Napas Islam Jawa di Masjid Agung Keraton Surakarta

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    SURAKARTA — Senja mulai turun ketika suasana di kawasan Masjid Agung Keraton Surakarta tampak semakin teduh, Kamis (14/5/2026). Di balik gerbang bergaya perpaduan Jawa, Arab, dan Eropa, masjid bersejarah ini masih berdiri kokoh sebagai saksi perkembangan Islam dan budaya Jawa yang terus hidup hingga kini. Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Solo itu merupakan […]

expand_less