Jet Tempur F-16 Ukraina Dilaporkan Jatuh, Taktik Hanud Rusia Jadi Sorotan
- account_circle Admin
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Langit Ukraina kembali diwarnai eskalasi serius konflik udara. Sebuah jet tempur F-16 Fighting Falcon yang dioperasikan Angkatan Udara Ukraina dilaporkan jatuh dalam sebuah insiden yang langsung menarik perhatian komunitas militer internasional, termasuk negara-negara anggota NATO.
Berbagai laporan dan analisis awal menyebutkan, pesawat tempur buatan Barat tersebut diduga ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia menggunakan taktik berlapis. Tidak seperti pola serangan konvensional, jet F-16 itu disebut menjadi sasaran dua rudal pertahanan udara jarak jauh S-300 yang ditembakkan secara berurutan.
Menurut penilaian sejumlah pengamat militer, rudal pertama kemungkinan berfungsi untuk mengganggu sistem peperangan elektronik (electronic warfare/EW) pesawat atau memaksa pilot melakukan manuver ekstrem guna menghindari serangan. Dalam kondisi tersebut, rudal kedua kemudian diluncurkan untuk memastikan target berhasil dilumpuhkan.
Jika dikonfirmasi, metode ini mencerminkan adaptasi signifikan pertahanan udara Rusia dalam menghadapi pesawat tempur generasi keempat yang dilengkapi sistem jamming dan perlindungan elektronik canggih. Penggunaan sistem S-300—platform yang telah berusia puluhan tahun namun terus dimodernisasi—menunjukkan bahwa integrasi taktik dan teknologi masih mampu menghadirkan ancaman serius bagi jet tempur modern.
Insiden ini juga menegaskan tantangan besar yang dihadapi pesawat Barat saat beroperasi di wilayah dengan sistem pertahanan udara berlapis atau konsep Anti-Access/Area Denial (A2/AD) yang kuat. Lingkungan seperti ini secara signifikan membatasi ruang gerak dan efektivitas operasi udara.
Lebih dari sekadar kehilangan satu unit pesawat, peristiwa ini dinilai sebagai pelajaran taktis penting dalam peperangan modern. Efektivitas kombinasi sistem radar, rudal jarak jauh, dan taktik penembakan berlapis menjadi perhatian militer global, termasuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tengah memodernisasi kekuatan udara dan pertahanan udaranya.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar