HUT ke-6 Yayasan Kesatria Keris Bali, Jro Bima Serukan “Mulat Sarira, Nyujur Rahayu” dan Jaga Tanah Bali
- account_circle Ray
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Angin Kencang Buka Paksa Backdrop Saat Jro Bima akan Berpidato, Hadirin Menyebutnya Sebagai Tanda Berkah Alam
DENPASAR – Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB) adakan hari jadinya yang ke – 6, Yayasan ini resmi didirikan pada tanggal 6 September 2020 bertempat di Pendopo Puri Agung Klungkung. Peresmian awal ditandai dengan penyerahan bendera pataka yayasan oleh Ida Ratu Dalem Klungkung kepada pihak yayasan dengan disaksikan para penglingsir puri di Bali.
Kini Yayasan Kesatria Keris Bali genap berdiri 6 tahun, yang dalam sambutan ketua umum I Ketut Putra Ismaya Jaya (Jro Bima) mengatakan baru beranjak sekolah, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.

I Ketut Putra Ismaya Jaya merupakan tokoh Bali yang getol bersuara lantang bila berhubungan dengan kearifan lokal jagad Bali, dengan visi dan misinya mengusung filosofi ngayah (pengabdian tulus), menjaga taksu Bali, serta melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Bali (satya nindihin gumi Bali).
“Ngayah, Ngayah, Ngayah, Sukses, ” Pekik suara menggema di wantilan Pura Dang Kahyangan Pura Luhur Candi NarmadaTanah-Kilap, Minggu 6 September 2026.
Berbeda dengan ormas pada umumnya, wadah ini sengaja dibentuk sebagai yayasan dengan fokus utama pada kegiatan sosial dan pelestarian budaya. Dengan kegiatan rutin meliputi aksi sosial seperti donor darah, bantuan kursi roda, bantuan hukum bagi warga kurang mampu, serta aksi bersih-bersih lingkungan dan pura.

Tema HUT ke – 6, kali ini adalah “Mulat Sarira, Nyujur Rahayu” merupakan ungkapan dalam bahasa Bali. Mulat sarira = introspeksi diri, melihat dan mengoreksi diri sendiri.
Nyujur rahayu = menuju keselamatan, kebaikan, kesejahteraan, atau kehidupan yang harmonis.
Jadi, secara keseluruhan dapat dimaknai:
“Dengan selalu introspeksi dan memperbaiki diri, kita menuju kehidupan yang selamat, baik, dan sejahtera.”

Dalam konteks filosofis Bali, ungkapan ini mengandung ajaran agar seseorang tidak hanya menyalahkan orang lain, tetapi terlebih dahulu melihat ke dalam diri, memperbaiki perilaku, dan menata kehidupan menuju keharmonisan (rahayu).
Dengan semangat perayaan HUT ke-6 menjadi pembuktian komitmen 6 tahun perjalanan mereka dalam bergerak di jalan dharma (kebaikan) untuk membantu masyarakat Bali secara sukarela.

Ada pula kejadian yang aneh, fenomena saat Ketua Umum I Ketut Putra Ismaya Jaya akan berpidato, dengan semangat para hadirin meneriakan dan tepuk tangan begitu pula alam semesta merestui dengan mendatangkan angin cukup besar membuka paksa backdrop (penutup panggung) yang telah terikat rapat saat ini.
Tentu ini membahagiakan para anggota yang hadir, lantaran mereka percaya I Ketut Putra Ismaya Jaya direstui alam Bali untuk satya nindihin gumi Bali.

Hadir pula tokoh – tokoh Bali, ormas – ormas yang bersinergi, Dewa Rai tokoh DPRD Bali, serta Dewan penasehat mereka Komandan Korem (Danrem) 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, S.H., I Made Mariata S.H., (Kadek Plawa) dan lainnya.
I Kadek Mariata (yang juga dikenal dengan nama Kadek Plawa atau Made Mariata) adalah seorang advokat dan relawan hukum di Bali yang aktif mendampingi masyarakat dalam persoalan hukum, seperti sengketa tanah.

Ida I Dewa Agung Hadisaputra, S.H., juga tak kalah sosial, aktif memimpin berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan tradisi gotong royong “Ngayah”, bedah rumah, penyedia air bersih di desa – desa di Bali dan sebagainya.
Dalam wawancara singkatnya, Danrem berpesan bahwa dirinya dipercaya sebagai penasehat Yayasan Kesatria Keris Bali.

” Kepada seluruh anggota dan masyarakat Bali teruslah selalu bergerak berdampingan berlandaskan pada kebenaran atau dharma, “ucapnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan mengundang menyandang disabilitas Tuna Netra untuk bernyanyi diatas panggung yang mengundang decak kagum para hadirin sambil maju berbondong – bondong memberikan saweran (punia) untuk biduan cilik ini. Ida I Dewa Agung Hadisaputra juga sempat berduet dengan menyanyikan lagu Bali.
“Luar biasa suaranya, ” Sebut Komang Satya salah satu hadirin.

Kegiatan selanjutnya ada puisi, tarian teatrikal, bondres dan bersembahyang bersama.
*Bondres adalah seni pertunjukan lawak tradisional Bali yang menggunakan topeng atau riasan wajah untuk mengocok perut penonton.

I Nyoman Ardika (Sengap) saat pertunjukan berceloteh lucu saat mengejek Ketua Umum Yayasan Kesatria keris Bali dengan calon gagal, padahal itu juga menuding dirinya sendiri bahwa gagal pula saat mencalonkan diri menjadi wakil Bupati Tabanan.
“Walau gagal tetapi menang dalam menjaga Bali atau nindihin Bali, ” Ujar Sengap.
Acara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama kemudian dilanjutkan dengan pengundian hadiah utama sebuah motor dan hadiah hiburan lainnya.

“Jadi, syukur walaupun tadi ada gerimis hujan tapi itulah berkah buat kami bisa tetap menjadi saudara di tanah Bali, menjaga tanah Bali dan ikut serta bangkitkan taksu tanah Bali”
Lanjutnya berpesan kepada generasi muda untuk ikut menjaga tanah Bali, ” Kita sudah menikmati jangan yang muda menghancurkan karena generasi yang muda ini harus menjaga lebih baik lagi seperti para leluhur kita menjaga tanah Bali bisa kita nikmati sampai ke anak cucu kita nanti”
“Jangan kita hancurkan tanah Bali kita, ” Pungkas Jro Bima.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar