BTID dan Yowana Desa Serangan Perkuat Pelestarian Budaya Melalui Festival Penjor 2026
- account_circle Admin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Festival yang memasuki tahun ketiga ini menjadi ruang kolaborasi generasi muda dalam menjaga tradisi Galungan dan Kuningan sekaligus memperkuat identitas budaya Desa Serangan.
DENPASAR – Semangat pelestarian budaya kembali menggema di Desa Serangan menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun itu diwujudkan melalui Festival Penjor Desa Serangan 2026 yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga.
Festival yang melibatkan yowana atau pemuda-pemudi dari enam banjar adat di Desa Serangan tersebut menjadi simbol sinergi antara masyarakat adat dengan PT Bali Turtle Island Development (BTID) selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.

Penyelenggaraan festival tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan rangkaian Puja Wali Pura Dalem Sakenan yang berlangsung dalam suasana Hari Raya Galungan pada 17 Juni 2026 dan Hari Raya Kuningan pada 27 Juni 2026.
Sebagai tradisi penting dalam kehidupan umat Hindu Bali, penjor tidak hanya berfungsi sebagai ornamen perayaan. Penjor merupakan simbol rasa syukur atas kemakmuran dan anugerah kehidupan yang diberikan Sang Pencipta melalui alam semesta.
Sekretaris Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Ketut Budiasa, sebagaimana dikutip Kompas.com, menjelaskan bahwa penjor melambangkan gunung sebagai sumber kesucian dan kemakmuran. Penjor juga menjadi ungkapan terima kasih kepada bumi yang telah menyediakan ruang kehidupan dan kesejahteraan bagi manusia.

Menjelang pelaksanaan festival, aktivitas persiapan telah berlangsung di masing-masing banjar. Para pemuda mulai melakukan koordinasi serta mengumpulkan berbagai bahan yang akan digunakan untuk membuat penjor terbaik mereka.
Ketua Pelaksana Festival Penjor Desa Serangan, Audi, mengatakan antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi. Menurutnya, festival bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan ngayah.
“Semangat ngayah yang ditunjukkan selama proses persiapan menjadi nilai penting yang patut diapresiasi. Kami berharap seluruh peserta dapat menampilkan karya terbaiknya dalam Serangan Penjor Festival 2026, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjadikan ajang ini sebagai sarana belajar dan melestarikan warisan budaya leluhur,” ujarnya.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari BTID. Selain memberikan apresiasi dan pembinaan kepada enam banjar peserta, perusahaan turut membantu memperluas jaringan kemitraan, menggalang dukungan sponsor, serta mempromosikan festival agar dikenal lebih luas.
Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual masyarakat Bali sekaligus dukungan terhadap kreativitas generasi muda Desa Serangan.
“Kami sangat mengagumi bagaimana masyarakat Bali memuliakan kesucian momen Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kami ingin komitmen kami dalam merangkul dan maju bersama muda-mudi di Desa Serangan terus berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, semangat kolaborasi yang terjalin diharapkan mampu menginspirasi para yowana untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya warisan leluhur dengan penuh kebanggaan.
Untuk menjaga kualitas dan objektivitas kompetisi, panitia akan menghadirkan tim juri profesional yang berasal dari kalangan budayawan Kesiman, Ubud, serta perwakilan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Proses pemasangan penjor hingga penilaian dijadwalkan berlangsung pada 22–25 Juni 2026.
Melalui Festival Penjor Desa Serangan, pengembangan kawasan KEK Kura Kura Bali diharapkan dapat berjalan seiring dengan penguatan kapasitas, kreativitas, dan pemberdayaan generasi muda setempat. Festival ini sekaligus menjadi ruang bersama untuk merawat nilai spiritual, memperkuat identitas budaya, dan menjaga harmoni sosial masyarakat Desa Serangan di tengah dinamika pembangunan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar