Prabowo Ungkap Peran Megawati Saat Dirinya “Luntang-Lantung”, Singgung Etika Politik dan Bisnis di Sidang DPR RI
- account_circle Admin
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pengakuan mengejutkan terkait hubungannya dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam pidato Rapat Paripurna DPR RI ke-19 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Pidato yang awalnya membahas Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027 itu mendadak menjadi sorotan ketika Prabowo berbicara mengenai perjalanan politik pribadinya sebelum menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dalam forum resmi yang dihadiri anggota DPR RI, jajaran kementerian, serta disiarkan secara nasional, Prabowo menyinggung posisi politik partai-partai di Indonesia, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang saat ini berada di luar pemerintahan.
Meski berbeda posisi politik, Prabowo menegaskan bahwa pembangunan dan kebijakan negara tidak boleh dipengaruhi sentimen politik.
“Kalau memang benar untuk rakyat dan sesuai aturan, harus tetap dijalankan,” tegas Prabowo dalam pidatonya.
Suasana sidang kemudian berubah lebih personal ketika Prabowo mengungkap masa-masa sulit yang pernah dialaminya saat berada di luar kekuasaan.
“Waktu saya tidak berkuasa, saya luntang-lantung,” ujar Prabowo di hadapan peserta sidang.
Pernyataan itu langsung menarik perhatian publik ketika Prabowo secara terbuka mengungkap peran Megawati dalam perjalanan hidupnya.
“Ibu Mega bantu saya di bidang ekonomi,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, Megawati juga pernah meminta agar proyek maupun tender yang dimenangkan secara sah oleh dirinya tidak diganggu hanya karena faktor politik. Ia menilai sikap tersebut sebagai contoh etika politik dan profesionalisme dalam pemerintahan.
Prabowo mengatakan prinsip serupa kini diterapkannya dalam memimpin pemerintahan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membedakan latar belakang politik seseorang dalam pemberian hak maupun proyek negara selama seluruh proses berjalan sesuai aturan.
“Kalau dia menang secara benar, ya harus diberikan haknya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian publik nasional dan viral di media sosial. Potongan video pidato Prabowo ramai dibagikan di berbagai platform digital dan memicu beragam respons politik.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan itu menjadi sinyal bahwa komunikasi politik antara Prabowo dan Megawati tetap terjalin baik meski berada di posisi politik berbeda.
Pidato lengkap Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 disiarkan melalui kanal resmi Sekretariat Presiden dan sejumlah media nasional.
Editor – Ray

https://shorturl.fm/uqCm5
20 Mei 2026 8:36 PM