Klaim Trump soal Negosiasi Iran Berbanding Terbalik dengan Sikap Teheran, Ketegangan Masih Membara
- account_circle Admin
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON/TEHERAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait konflik dengan Iran. Ia mengklaim bahwa Teheran sebenarnya tengah terlibat dalam pembicaraan damai, meskipun secara terbuka membantahnya.
Dalam keterangannya kepada media di Gedung Putih, Trump menyebut Iran diam-diam ingin mencapai kesepakatan, namun enggan mengakuinya ke publik. Ia bahkan menyinggung faktor internal sebagai alasan sikap tersebut.
“Mereka sedang bernegosiasi dan sangat ingin membuat kesepakatan, tetapi takut untuk mengatakannya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para negosiator Iran juga khawatir terhadap ancaman dari pihak Amerika.
Pernyataan itu langsung berseberangan dengan sikap resmi Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak sedang melakukan negosiasi dengan Washington dan memilih melanjutkan perlawanan. Ia menyebut pembicaraan damai saat ini justru dapat dimaknai sebagai bentuk pengakuan atas kekalahan.
“Tidak ada negosiasi yang terjadi, dan kebijakan kami adalah melanjutkan perlawanan,” tegas Araghchi.
Di tengah klaim yang saling bertolak belakang tersebut, Trump juga menyatakan optimisme bahwa Amerika Serikat telah memenangkan konflik. Namun, ia mengakui belum dapat memastikan kapan perang akan benar-benar berakhir. Trump tetap membuka kemungkinan eskalasi, termasuk serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran apabila jalur diplomasi gagal.
Situasi ini semakin kompleks dengan adanya pernyataan Gedung Putih sebelumnya yang memperingatkan akan “melepaskan kekuatan penuh” jika Iran tidak mengakui kekalahan. Sementara itu, Iran tetap mempertahankan posisi strategisnya, termasuk jalur minyak vital di Selat Hormuz.
Di dalam negeri, Trump juga menyinggung kritik dari Partai Demokrat yang mendesaknya meminta persetujuan Kongres atas operasi militer tersebut. Ia menolak istilah “perang” dan lebih memilih menyebutnya sebagai “operasi militer”, sembari menuduh lawan politiknya berupaya mengalihkan perhatian publik.
Hingga kini, sinyal yang disampaikan Washington masih dinilai inkonsisten—di satu sisi membuka peluang diplomasi, di sisi lain tetap mengancam eskalasi militer. Perbedaan narasi antara kedua negara pun memperlihatkan bahwa jalan menuju penyelesaian konflik masih jauh dari kata pasti.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar