Serangan Torpedo AS Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudra Hindia, 87 Pelaut Tewas
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
IRAN – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah meluas hingga ke Samudra Hindia setelah kapal perang Iran IRIS Dena dilaporkan tenggelam akibat serangan torpedo yang diluncurkan kapal selam United States Navy pada 4 Maret 2026.
Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 87 pelaut Iran dan memicu gelombang kecaman internasional.
Serangan terjadi di perairan internasional sekitar 19 mil laut dari pesisir selatan Sri Lanka, ketika kapal fregat milik Islamic Republic of Iran Navy itu sedang dalam perjalanan pulang ke Iran setelah menghadiri latihan angkatan laut multinasional MILAN 2026 yang diselenggarakan oleh Indian Navy.
Menurut otoritas Sri Lanka Navy, kapal tersebut sempat mengirimkan sinyal darurat setelah terjadi ledakan hebat sebelum akhirnya tenggelam dalam hitungan menit. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 32 awak yang selamat, sementara puluhan lainnya dilaporkan hilang.
Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa kapal selam AS menembakkan torpedo berat jenis Mark-48 yang menghantam kapal Iran tersebut. Ia menyebut operasi itu sebagai bagian dari kampanye militer yang lebih luas terhadap kekuatan maritim Iran.
Iran Kecam Serangan
Pemerintah Iran mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai “kekejaman di laut”. Teheran menegaskan bahwa IRIS Dena saat itu tidak sedang melakukan operasi tempur dan hanya dalam perjalanan pulang setelah menghadiri kegiatan diplomatik militer di India.
Serangan tersebut juga memicu perdebatan politik di India. Sejumlah politisi oposisi mempertanyakan sikap pemerintah yang dinilai terlalu diam, mengingat kapal Iran itu baru saja menjadi tamu resmi dalam latihan militer yang digelar New Delhi.
Eskalasi Konflik
Pengamat menilai penenggelaman IRIS Dena menandai eskalasi serius konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya terfokus di kawasan Teluk. Insiden ini sekaligus memperluas potensi konflik ke jalur pelayaran strategis di Samudra Hindia, yang menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, berbagai pihak menyerukan agar komunitas internasional segera melakukan de-eskalasi guna mencegah konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Editor – Ray

Share your link and rake in rewards—join our affiliate team!
9 Maret 2026 8:13 PM