AS Kembangkan Senjata AI Anti-Drone, Mampu Lumpuhkan 50 Drone Tanpa Tembakan
- account_circle Admin
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON – Amerika Serikat dikabarkan tengah mengembangkan teknologi senjata berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu melumpuhkan hingga 50 drone musuh sekaligus tanpa perlu menggunakan peluru maupun rudal. Teknologi pertahanan modern tersebut memanfaatkan gelombang elektromagnetik dan sistem gangguan elektronik untuk mengambil alih atau menonaktifkan kendali drone lawan secara massal.
Pengembangan sistem anti-drone itu dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ancaman serangan drone dalam berbagai konflik modern. Penggunaan drone murah dalam peperangan dinilai semakin berbahaya karena mampu menyerang pasukan militer, fasilitas strategis, hingga infrastruktur penting dengan biaya relatif rendah.
Teknologi AI yang dikembangkan militer Amerika Serikat disebut mampu mendeteksi, mengidentifikasi, serta menentukan prioritas target secara otomatis hanya dalam hitungan detik. Sistem tersebut dapat membedakan drone musuh dari objek lain di udara sekaligus menghitung tingkat ancaman paling tinggi yang harus dilumpuhkan terlebih dahulu.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya menghadapi serangan drone berkelompok atau swarm drone yang selama ini sulit ditangani sistem pertahanan konvensional. Selain bekerja lebih cepat, metode non-peluru tersebut juga dianggap lebih efisien karena tidak memerlukan penggunaan rudal atau amunisi mahal untuk menghancurkan drone berukuran kecil.
Militer AS menilai senjata berbasis AI akan menjadi bagian penting dalam strategi peperangan masa depan. Ancaman drone kini semakin kompleks karena dapat digunakan untuk misi pengintaian, serangan bahan peledak, hingga operasi bunuh diri.
Sejumlah negara saat ini juga berlomba mengembangkan sistem pertahanan anti-drone yang lebih otomatis dan efektif. Kehadiran teknologi baru tersebut diperkirakan mampu memperkuat sistem pertahanan udara modern sekaligus meminimalkan risiko kerusakan besar akibat serangan drone massal.
Meski demikian, penggunaan teknologi senjata berbasis AI juga memunculkan kekhawatiran terkait etika perang dan potensi penyalahgunaan sistem otomatis dalam konflik bersenjata di masa mendatang. Pengamat menilai regulasi internasional diperlukan agar penggunaan teknologi AI militer tetap berada dalam kendali manusia.
Editor – Ray

https://shorturl.fm/iqHYW
25 Mei 2026 12:05 PMhttps://shorturl.fm/9BvvO
25 Mei 2026 7:37 AM