Kader Soroti Pentingnya Pendidikan Politik dan Konsolidasi Ideologi demi Kemapanan Partai Modern
- account_circle Ray
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Dinamisasi langkah strategis dinilai menjadi kunci dalam membangun kemapanan partai politik agar tumbuh sebagai organisasi modern yang solid dan berkelanjutan. Pendidikan politik disebut sebagai fondasi utama untuk memperkuat tatanan manajerial internal sekaligus membentuk massa kader yang konsisten menjalankan kerja nyata pengabdian kepada masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan I Nyoman Sukataya, yang akrab disapa Man Tayax. Ia menegaskan, konsepsi pendidikan politik sejatinya tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan menjadi instrumen konsolidasi ideologi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Menurutnya, ideologi harus hidup sebagai roh perjuangan yang tidak lekang digerus dinamika zaman.
Dalam konteks membangun kemapanan partai, ia memaparkan empat hal pokok yang perlu menjadi perhatian serius. Pertama, penguatan pengetahuan kesejarahan partai sebagai landasan membaca mata rantai pergerakan dari masa ke masa.

Sejarah, kata dia, menjadi kompas ideologis sekaligus pijakan strategis dalam menentukan arah perjuangan politik.
Kedua, reproduksi kader yang tangguh, berkualitas, dan bermartabat. Proses kaderisasi, lanjutnya, perlu dibangun melalui fragmentasi manajerial di tingkat kepengurusan, penguatan peran legislatif di lembaga perwakilan, optimalisasi eksekutif di pemerintahan, serta konsolidasi jejaring eksternal sebagai simpul penguat partai.
“Kaderisasi bukan sekadar formalitas, melainkan proses membangun militansi marwah ideologi,” ujarnya.
Ketiga, pengikisan mental pragmatisme yang dinilai rawan muncul dalam dinamika partai politik. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap konstitusi partai dan konstitusi negara sebagai rambu etik dan hukum dalam berorganisasi. Tanpa disiplin ideologis, menurutnya, soliditas dan kepercayaan publik akan sulit terjaga.
Keempat, kewaspadaan terhadap perilaku oportunis dalam jejaring partai. Ia berpandangan bahwa mekanisme penghargaan dan sanksi (reward and punishment) harus ditegakkan secara konsisten, terutama dalam pemberian rekomendasi jabatan, baik di struktur pengurus, legislatif, eksekutif, maupun jaringan eksternal.
Sebagai warga masyarakat yang mengaku menggandrungi ideologi Pancasila dan Marhaenisme, Man Tayax menyatakan komitmennya untuk terus mengawal nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Ia menilai ideologi Pancasila dan Marhaenisme harus tetap menjadi pijakan utama dalam menjaga kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta amanat penderitaan rakyat.
“Partai harus tetap tegak lurus pada Tuhan, Pancasila, Marhaenisme, NKRI, dan amanat penderitaan rakyat. Kritik adalah bagian dari kecintaan agar partai tetap berada di jalur ideologisnya,” tegasnya.
Pandangan tersebut menjadi refleksi bahwa di tengah kompetisi elektoral dan dinamika kekuasaan, penguatan ideologi, kaderisasi, serta integritas organisasi tetap menjadi prasyarat utama dalam membangun partai politik yang modern dan dipercaya publik.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar