Breaking News
light_mode

Nyoman Tirtawan, Pengkritik Keras Tata Ruang Bali: “Jangan Munafik, Aturan 15 Meter Harus Berani Direvisi!”

  • account_circle Ray
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mantan anggota DPRD Bali yang dikenal koleganya sebagai penyelamat uang rakyat Rp98 miliar itu menyoroti ketimpangan penegakan aturan ketinggian bangunan. Ia mendesak pemerintah berhenti bersikap kaku, menutup mata terhadap pelanggaran, dan berani menyusun kebijakan yang logis, objektif, realistis, serta solutif.

DENPASAR — Nyoman Tirtawan kembali melontarkan kritik keras terhadap kebijakan tata ruang di Bali. Kali ini, ia menyoroti aturan pembatasan ketinggian bangunan maksimal 15 meter yang dinilainya perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tidak terjebak dalam regulasi yang kaku, sementara penerapannya di lapangan justru memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penegakan hukum.

Tokoh yang diakui koleganya di DPRD Bali sebagai pahlawan penyelamat uang rakyat Bali sebesar Rp98 miliar itu menegaskan, kritik terhadap regulasi bukan berarti menolak aturan. Sebaliknya, kebijakan publik harus terus dievaluasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat, dan realitas pembangunan.

Menurut Tirtawan, persoalan utama bukan semata-mata soal boleh atau tidaknya bangunan menjulang tinggi, melainkan bagaimana pemerintah menetapkan aturan secara adil, rasional, dan konsisten.

“ Saya punya pendapat supaya perda tinggi bangunan di Bali direvisi dengan pertimbangan yang logis, obyektif dan realistis serta solutif efektif efesien,” demikian pandangan Tirtawan, yang dikutip dari pernyataannya di akun Facebook miliknya.

Pernyataan itu menjadi kritik terbuka terhadap pendekatan penataan ruang yang dinilainya perlu dikaji ulang, terutama ketika aturan yang berlaku berhadapan dengan kebutuhan pembangunan dan keberadaan bangunan ikonik di Bali.

GWK Setinggi 121 Meter, Tirtawan Pertanyakan Konsistensi Aturan

Tirtawan menyoroti keberadaan Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Badung, yang memiliki tinggi total sekitar 121 meter. Angka tersebut jauh melampaui batas umum ketinggian bangunan 15 meter yang dikenal dalam kebijakan tata ruang Bali.

Ia mempertanyakan bagaimana kebijakan pembatasan ketinggian bangunan diterapkan terhadap objek-objek yang berdiri jauh di atas batas tersebut, sementara masyarakat dan pelaku usaha lainnya harus menyesuaikan diri dengan ketentuan yang berlaku.

Garuda Wisnu Kencana Cultural Park

Dalam pandangannya, keberadaan bangunan tinggi semestinya menjadi momentum untuk menguji kembali apakah regulasi yang ada telah dirumuskan secara realistis dan memiliki mekanisme pengecualian yang jelas.

Tirtawan juga menilai kebijakan tidak boleh berhenti pada larangan di atas kertas. Pemerintah harus menjelaskan dasar hukum, kriteria pengecualian, serta mekanisme pengawasan agar tidak menimbulkan kesan adanya standar berbeda dalam pelaksanaan aturan.

Meski demikian, keberadaan GWK yang melampaui 15 meter tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pelanggaran. Status kepatuhan bangunan harus dinilai berdasarkan ketentuan yang berlaku ketika pembangunan dilakukan, perizinan, serta dasar hukum yang secara khusus mengaturnya.

“Kritis Itu Konstruktif, Munafik Itu Destruktif”

Kritik Tirtawan tidak berhenti pada persoalan tinggi bangunan. Ia menyampaikan pandangan yang lebih luas mengenai kebijakan publik yang, menurutnya, kerap menghadapi kesenjangan antara larangan formal dan kenyataan di lapangan.

Ia menggunakan analogi praktik prostitusi untuk menggambarkan persoalan tersebut. Menurut Tirtawan, larangan yang tidak diikuti pengawasan dan pengendalian efektif berpotensi membuat suatu persoalan terus berlangsung tanpa penyelesaian yang memadai.

Turyapada Tower

“Kritis itu sifatnya konstruktif, munafik itu sifatnya destruktif,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi inti kritiknya terhadap pendekatan kebijakan yang hanya mengandalkan larangan, tetapi tidak disertai solusi yang efektif.

Tirtawan mempertanyakan mengapa pemerintah tidak selalu mengevaluasi pendekatan yang terbukti sulit diterapkan secara konsisten. Dalam konteks prostitusi, ia mengusulkan pendekatan pengaturan dan pengawasan untuk mengendalikan dampak sosial serta risiko kesehatan masyarakat, termasuk penyebaran HIV/AIDS.

Namun, persoalan prostitusi dan tata ruang memiliki karakter hukum serta dampak sosial yang berbeda. Analogi tersebut merupakan cara Tirtawan menekankan pentingnya kebijakan yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan semata-mata mempertahankan larangan formal.

Ia juga menyinggung dugaan adanya praktik pembiaran dan perlindungan terhadap pelanggaran dalam berbagai bidang. Pandangan itu merupakan kritik yang disampaikannya dan memerlukan bukti tersendiri apabila diarahkan pada pihak atau kasus tertentu.

Bangunan Tinggi di Perkotaan, Bukan Tanpa Kendali

Dalam usulannya, Tirtawan berpandangan bahwa bangunan tinggi dapat dipertimbangkan untuk kawasan perkotaan yang memiliki harga tanah mahal dan kepadatan penduduk tinggi.

Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dirumuskan berdasarkan karakter wilayah, kebutuhan pembangunan, serta efektivitas pemanfaatan lahan.

Dengan pendekatan itu, pembatasan ketinggian bangunan tidak harus diperlakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi kawasan. Pemerintah dapat mengkaji kemungkinan pengaturan berbeda berdasarkan zonasi, daya dukung lingkungan, keselamatan, dan kepentingan pelestarian budaya Bali.

Akan tetapi, revisi aturan tidak boleh sekadar membuka jalan bagi pembangunan vertikal. Kajian harus mempertimbangkan dampak terhadap lanskap budaya, kawasan suci, sistem transportasi, ketersediaan air, sanitasi, risiko bencana, serta karakter arsitektur Bali.

Dengan demikian, gagasan revisi perlu ditempatkan dalam kerangka penataan ruang yang terukur, bukan menjadi pembenaran untuk mengabaikan perlindungan lingkungan dan warisan budaya.

Perda RTRW Bali Harus Dievaluasi Secara Terbuka

Ketentuan umum mengenai ketinggian bangunan di Bali berkaitan dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023–2043. Ketentuan teknis, pengecualian, dan penerapannya terhadap objek tertentu perlu diperiksa berdasarkan naskah resmi perda beserta peraturan pelaksana dan dokumen perizinannya.

Karena itu, usulan Tirtawan semestinya dijawab melalui kajian terbuka yang melibatkan pemerintah daerah, DPRD, ahli tata ruang, arsitek, akademisi, pelaku usaha, desa adat, serta masyarakat.

Pemerintah juga perlu memberikan penjelasan berbasis dokumen mengenai penerapan batas ketinggian, termasuk dasar hukum bangunan yang berada di atas batas umum tersebut. Transparansi diperlukan agar perdebatan tidak berhenti pada asumsi, melainkan bertumpu pada fakta dan ketentuan hukum.

Pada akhirnya, kritik Tirtawan mengarah pada satu tuntutan mendasar: aturan harus masuk akal, dapat diterapkan, dan ditegakkan secara konsisten. Jika regulasi dinilai tidak lagi menjawab kebutuhan masyarakat, revisi dapat dipertimbangkan melalui prosedur hukum yang berlaku.

Sebaliknya, jika aturan masih relevan dan diperlukan untuk melindungi Bali, pemerintah wajib memastikan pelaksanaannya tidak tebang pilih.

Tirtawan menutup pandangannya dengan seruan keras yang menjadi penekanan kritiknya terhadap kebijakan publik.

“Berhenti munafik, kaku, dan sok suci tapi banyak korupsi he he he.”

Pernyataan tersebut menjadi sindiran tajam terhadap praktik pemerintahan yang, dalam pandangannya, terlalu menonjolkan larangan dan kesan kepatuhan, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan mendasar.

Bagi Tirtawan, ukuran keberhasilan sebuah regulasi bukan sekadar seberapa keras larangan dirumuskan, melainkan seberapa adil, konsisten, dan efektif aturan itu dijalankan untuk melindungi kepentingan masyarakat Bali.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (1)

  • Thanh

    OMT’ѕ supportive comments loopholes encourage growth ѡay of thinking,helping trainees love mathematics аnd feel inspired for exams.

    Ϲhange math difficulties іnto accomplishments ѡith OMT Math Tuition’ѕ mix ᧐f online and on-site
    alternatives, ƅacked by ɑ track record ᧐f student
    excellence.

    Singapore’ѕ focus օn critical thinking tһrough
    mathematics highlights tһe value of math tuition, whicһ assists students
    develop tһe aalytical abilities demanded Ƅy the country’ѕ
    forward-thinking syllabus.

    Тhrough math tuition, students practice PSLE-style concerns
    օn averages and charts, enhancing accuracy аnd speed under examination conditions.

    Вy providing extensive exercise ѡith past O Level papers,
    tuition gears up pupils ѡith knowledge and tһe
    ability to anticipate inquiry patterns.

    Ԝith A Levels аffecting occupation courses іn STEM arеas, math tuition enhances
    foundational abilities fоr future university studies.

    Eventually, OMT’s one-of-a-kind proprietary curriculum complements tһe
    Singapore MOE educational program Ƅy fostering
    independent thinkers geared ᥙр for lifelong
    mathematical success.

    OMT’ѕ on-line tuition saves cash on transport lah, allowing even more concentrate ⲟn resеarch studies and enhanced mathematics outcomes.

    Singapore’ѕ incorporated mathematics educational program
    tаke advantage оf tuition thɑt connects topics tһroughout levels fߋr natural examination preparedness.

    Ηere is my blog: psle math tuition center

    Balas17 Oktober 2026 6:17 PM

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kompolnas Apresiasi Polri Berhasil Sita 197 Ton Narkoba, 51 Ribu Tersangka Diamankan

    Kompolnas Apresiasi Polri Berhasil Sita 197 Ton Narkoba, 51 Ribu Tersangka Diamankan

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    JAKARTA — Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang berhasil menyita 197,71 ton narkoba sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Capaian ini disebut sebagai salah satu operasi terbesar dalam sejarah pemberantasan narkotika di Tanah Air. Komisioner Kompolnas, Mohamad Choirul Anam, menyebut keberhasilan tersebut merupakan bukti nyata keseriusan Polri dalam […]

  • Racun Lebah Madu Terbukti Ampuh Hancurkan Sel Kanker Payudara Agresif

    Racun Lebah Madu Terbukti Ampuh Hancurkan Sel Kanker Payudara Agresif

    • calendar_month Senin, 7 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Penelitian terbaru dari tim Harry Perkins Institute of Medical Research dan University of Western Australia menemukan bahwa racun lebah madu mampu menghancurkan sel kanker payudara agresif, khususnya tipe triple-negative dan HER2-enriched, yang selama ini sulit diobati. Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ciara Duffy ini menggunakan racun dari 312 lebah madu dan lebah bumble […]

  • Zurich Airport Jajaki Kerja Sama dengan PT BIBU Panji Sakti untuk Kelola Bandara Internasional Bali Utara

    Zurich Airport Jajaki Kerja Sama dengan PT BIBU Panji Sakti untuk Kelola Bandara Internasional Bali Utara

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Ray
    • 5Komentar

    Operator Bandara Zurich, Swiss, menyatakan ketertarikan terlibat dalam pengelolaan sekaligus investasi Bandara Internasional Bali Utara. Hasil pembicaraan di Jakarta akan dilaporkan kepada jajaran direksi Zurich Airport untuk menentukan langkah kerja sama selanjutnya. JAKARTA — Bandara Internasional Bali Utara belum berdiri, tetapi pembicaraan mengenai siapa yang kelak mengelola dan mengembangkan bandara tersebut mulai mengemuka. Kamis, 10 […]

  • Gubernur Bali Wajib Tetapkan UMP Setara DKI Jakarta, Biaya Ajegkan Adat Makin Mencekik Warga

    Gubernur Bali Wajib Tetapkan UMP Setara DKI Jakarta, Biaya Ajegkan Adat Makin Mencekik Warga

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    DENPASAR – Desakan keras agar Pemerintah Provinsi Bali menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) setara atau bahkan lebih tinggi dari DKI Jakarta mengemuka tajam dari Sekretaris Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) Bali, Anak Agung Gede Agung Aryawan, ST. Ia menegaskan, tingginya biaya hidup masyarakat Bali yang berkaitan langsung dengan beban menjaga adat, budaya, dan keberlanjutan pariwisata […]

  • Purbaya dan Strategi “Memukul Ekor Ular” Langkah Canggih Politik Prabowo Subianto

    Purbaya dan Strategi “Memukul Ekor Ular” Langkah Canggih Politik Prabowo Subianto

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    Oleh: I Made Richy Ardhana Yasa (Ray) Jurnalis    DENPASAR – Di tengah rutinitas pemerintahan yang sering kali tampak datar, muncul satu nama yang mulai mengguncang keseimbangan lama: Purbaya Yudhi Sadewa. Seorang ekonom tenang, birokrat yang jarang tampil di layar kaca, namun dalam beberapa pekan terakhir, namanya mendadak melesat, membawa getaran ke jantung dua institusi […]

  • Lebaran di Bali Kian Semarak, Nuanu Cultural Week Satukan Tradisi Nusantara dalam Satu Panggung

    Lebaran di Bali Kian Semarak, Nuanu Cultural Week Satukan Tradisi Nusantara dalam Satu Panggung

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    TABANAN – Nuanu Cultural Week digelar di Nuanu Creative City sebagai momentum perayaan keberagaman budaya Indonesia di tengah libur Lebaran. Program ini berlangsung selama sepuluh hari, mulai 20 hingga 29 Maret 2026, menghadirkan pertunjukan seni, workshop, hingga kompetisi budaya yang melibatkan generasi muda. Memanfaatkan periode liburan yang identik dengan mobilitas tinggi masyarakat, penyelenggara menargetkan sekitar […]

expand_less