Promosi Pariwisata Indonesia Kalah dari Singapura, GIPI Soroti Minimnya Anggaran
- account_circle Vaza Fernantha
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Foto bersama para peserta dan tokoh industri pariwisata dalam kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Rabu (14/10/2026). Tampak Farshal Hambali, Kepala Bidang Pariwisata Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), berdiri di barisan depan dua orang dari kiri, turut hadir mengikuti kegiatan yang membahas penguatan promosi dan daya saing pariwisata Indonesia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketua GIPI Hariyadi Sukamdani menilai promosi pariwisata nasional perlu diperkuat melalui dukungan anggaran dan strategi pemasaran yang lebih terarah.
JAKARTA – Penguatan promosi menjadi pekerjaan penting bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi sektor pariwisata. Meski kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Januari–Agustus 2025 tumbuh 5,38 persen, pelaku industri menilai peluang tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan akibat keterbatasan anggaran promosi.
Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap promosi pariwisata agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain, termasuk Singapura yang dinilai memiliki dukungan pemasaran pariwisata lebih kuat.
Ketua GIPI, Hariyadi Sukamdani, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) GIPI, Rabu (14/10/2026). Ia menyoroti keterbatasan anggaran Kementerian Pariwisata yang harus digunakan untuk berbagai kebutuhan, sehingga tidak seluruhnya dapat dialokasikan bagi kegiatan promosi.
“Anggaran Kementerian Pariwisata itu sekitar Rp1,8 triliun. Namun, anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk promosi, melainkan juga mencakup biaya operasional kantor,” ujar Hariyadi.
Ia kemudian membandingkan alokasi anggaran tersebut dengan Singapore Tourism Board (STB), lembaga yang menangani promosi dan pemasaran pariwisata Singapura.
“Kalau melihat data yang tersedia, pada 2019 anggaran khusus promosi Singapore Tourism Board hampir mencapai Rp4 triliun jika dikonversi ke rupiah. Sementara itu, anggaran Kementerian Pariwisata Indonesia harus mencakup berbagai kebutuhan, bukan hanya promosi,” katanya.
Menurut Hariyadi, perbandingan tersebut memperlihatkan pentingnya dukungan anggaran yang memadai agar promosi pariwisata Indonesia dapat berjalan lebih efektif. Ia menilai penguatan sektor pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi destinasi, tetapi juga membutuhkan strategi pemasaran yang terukur dan berkelanjutan.
Hariyadi menegaskan, Indonesia perlu mengevaluasi pendekatan promosi yang selama ini dijalankan. Salah satu hal yang dapat menjadi perhatian adalah penerapan strategi berbasis riset pasar, sebagaimana dilakukan oleh Singapore Tourism Board dalam menentukan sasaran wisatawan.
“Kalau kita ingin memiliki pariwisata yang kuat dari berbagai lini, cara kerja kita memang harus diubah. Singapore Tourism Board tidak semata-mata melakukan promosi, tetapi juga menganalisis target pasar secara mendalam. Dengan begitu, anggaran yang tersedia benar-benar digunakan untuk kegiatan promosi yang tepat sasaran,” jelasnya.
Penguatan promosi dinilai penting untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing destinasi, serta mendorong dampak ekonomi pariwisata bagi masyarakat. Dengan dukungan anggaran dan perencanaan yang lebih terarah, Indonesia diharapkan mampu mengoptimalkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Kepala Bidang Pariwisata Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), Farshal Hambali. Ia dikenal sebagai profesional di bidang penerbangan dan aviasi dengan pengalaman dalam manajemen maskapai, operasional pesawat, pengelolaan bandara, serta sektor kedirgantaraan.
Farshal memiliki gelar magister di bidang Pemasaran Pariwisata dan Perhotelan serta tengah menempuh pendidikan doktoral dengan fokus penelitian transportasi udara halal. Ia juga menjabat sebagai Chairman of Barindo ( board of airlines representatives in indonesia), dengan pengalaman membangun kemitraan strategis, memperjuangkan kepentingan industri, dan mendorong pengembangan organisasi.
Kehadiran Farshal dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari keterlibatan unsur pariwisata AWDI dalam mengikuti perkembangan industri dan berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata nasional, termasuk penguatan promosi serta keterhubungan antara sektor pariwisata dan transportasi udara.
Editor – Vaza

Saat ini belum ada komentar