Breaking News
light_mode

Man Tayax: Aceh Sudah Diberi Otonomi Luas, Jangan Jadikan Referendum Alat Tekan Jakarta

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kericuhan Hari Damai Aceh dan pengibaran bendera Bulan Bintang kembali memantik kritik. Pengamat sosial Man Tayax mempertanyakan efektivitas pengelolaan otonomi dan Dana Otsus setelah dua dekade perdamaian Helsinki.

BANDA ACEH — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus 2026 yang semestinya menjadi momentum refleksi perjalanan damai justru diwarnai kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kericuhan terjadi setelah massa mengibarkan bendera Bulan Bintang yang identik dengan simbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dalam peristiwa tersebut, bendera Merah Putih dilaporkan diturunkan dan bendera Bulan Bintang dikibarkan.

Pemerintah Aceh kemudian menggelar rapat Forkopimda untuk membahas dinamika kerusuhan tersebut.

Peristiwa tersebut memantik keprihatinan Man Tayax alias I Nyoman Sukataya, seorang pengamat sosial yang mengaku memiliki latar belakang aktivisme nasionalisme dan pernah menjadi relawan kemanusiaan saat bencana tsunami Aceh.

Menurut Man Tayax, persoalan Aceh tidak semestinya terus diletakkan dalam kerangka hubungan “pusat melawan daerah”, terlebih setelah konflik bersenjata berakhir melalui Nota Kesepahaman Helsinki pada 15 Agustus 2005.

“Kalau perang sudah selesai, GAM yang berjuang di hutan sudah menempati kantor gubernur, mengelola sendiri anggaran pembangunan wilayahnya, lalu apa sebenarnya yang masih belum merdeka? Bukankah Aceh sudah merdeka?” kata Man Tayax.

Ia menilai Aceh secara konstitusional tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, dalam perspektif pengelolaan pemerintahan daerah, Aceh telah memperoleh kewenangan khusus yang jauh lebih luas dibandingkan provinsi lainnya.

Saat ini, Aceh dipimpin Muzakir Manaf dan Fadhlullah untuk periode 2025-2030. Muzakir Manaf merupakan mantan Panglima GAM. Keduanya dilantik pada 12 Februari 2025.

Menurut Man Tayax, fakta tersebut semestinya menjadi dasar evaluasi bersama mengenai sejauh mana perdamaian telah menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh.

“Secara konstitusional Aceh tetap bagian dari NKRI. Masih bagian dari Merah Putih dan Garuda Pancasila. Tetapi dari segi pengelolaan daerah, Aceh sudah merdeka dalam arti Aceh sudah dikelola oleh warga Aceh sendiri,” ujarnya.

Dana Otsus dan Pertanyaan tentang Hasil Pembangunan

Man Tayax juga menyoroti besarnya dukungan fiskal pemerintah pusat kepada Aceh melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus).

Data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan mencatat Dana Otsus Aceh yang dialokasikan sejak 2008 hingga 2021 mencapai Rp88,43 triliun. Pemerintah juga mencatat masih terdapat sisa Dana Otsus sekitar Rp7,7 triliun untuk periode 2013-2020 ketika evaluasi dilakukan pada 2021.

Pada 2025, alokasi Dana Otsus Aceh mencapai sekitar Rp4,3 triliun setelah dilakukan penyesuaian anggaran.

Dengan besarnya dukungan fiskal tersebut, Man Tayax mempertanyakan mengapa persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi salah satu alasan munculnya tuntutan politik yang keras terhadap pemerintah pusat.

“Kalau Jakarta dianggap tidak adil, mana indikatornya? Kalau Dana Otsus dianggap kurang, berapa yang sudah diterima dan bagaimana hasilnya? Kalau kewenangan dianggap kurang, kewenangan apa yang belum diberikan?” kata dia.

Badan Pusat Statistik Aceh mencatat persentase penduduk miskin di Aceh pada Maret 2026 sebesar 12,34 persen atau sekitar 713,78 ribu orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan September 2025 yang berada pada 12,22 persen.

Data tersebut, menurut Man Tayax, seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan di Aceh, bukan semata-mata alasan untuk kembali mempertentangkan Aceh dengan Jakarta.

“Jangan Jadikan Referendum Alat Tekan”
Man Tayax juga mempertanyakan munculnya kembali narasi referendum dan pemisahan ketika sebagian besar tuntutan politik dalam konflik Aceh telah memperoleh ruang melalui mekanisme otonomi khusus.

Ia menilai, apabila masih terdapat persoalan implementasi MoU Helsinki, persoalan tersebut semestinya dirumuskan secara konkret: bagian mana yang belum terlaksana, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana penyelesaiannya.

“Kalau Kesepakatan Helsinki belum selesai, butir mana yang belum selesai dan siapa yang bertanggung jawab menyelesaikannya?” ujarnya.

Menurut dia, evaluasi terhadap implementasi perdamaian tidak boleh hanya diarahkan kepada pemerintah pusat. Pemerintah dan elite politik Aceh juga memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan hasil pengelolaan kewenangan dan anggaran yang telah diberikan.

“Jakarta tidak bisa selamanya disuruh membayar biaya masa lalu, sementara elite Aceh tidak pernah diwajibkan menunjukkan neraca keberhasilan masa kini,” kata Man Tayax.

Ia menegaskan, kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh masyarakat Aceh. Menurutnya, masyarakat Aceh justru merupakan pihak yang paling berhak menikmati hasil perdamaian dan pembangunan.

Kecewa Melihat Merah Putih Diturunkan

Man Tayax mengaku sangat terpukul melihat simbol negara menjadi bagian dari kericuhan pada momentum peringatan perdamaian.

ANTARA melaporkan bendera Merah Putih dan sejumlah atribut Merah Putih yang dirusak massa di kawasan Masjid Raya Baiturrahman kemudian dikibarkan kembali oleh prajurit TNI pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Pemerintah Aceh juga mengakui bahwa peristiwa 15 Agustus tersebut melibatkan penurunan Bendera Merah Putih dan penaikan Bendera Bintang Bulan di Masjid Raya Baiturrahman serta Pendopo Gubernur Aceh.

Bagi Man Tayax, tindakan tersebut tidak dapat dipandang sekadar sebagai ekspresi kekecewaan politik.

“Saya sakit hati melihat bendera Merah Putih diturunkan dan simbol negara diperlakukan secara tidak hormat. Apa pun kekecewaan terhadap pemerintah, jangan menjadikan simbol negara sebagai sasaran,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa perdamaian Aceh lahir dari proses panjang dan mahal, sehingga tidak seharusnya dipertaruhkan kembali oleh tindakan provokatif.

Pernah Menjadi Relawan Tsunami Aceh

Kritik Man Tayax juga berangkat dari pengalaman pribadinya. Ia mengaku pernah menghabiskan waktu sebagai relawan kemanusiaan ketika bencana tsunami melanda Aceh, termasuk di Desa Cut Seulamat, Kecamatan Samatiga, Meulaboh.

Karena pengalaman tersebut, ia mengatakan kritiknya bukan lahir dari kebencian terhadap masyarakat Aceh.

“Saya pernah menghabiskan waktu sedemikian lama sebagai relawan kemanusiaan saat bencana tsunami di Desa Cut Seulamat, Kecamatan Samatiga, Meulaboh, Aceh. Karena itu saya merasa sedih dan bertanya, apakah pengabdian kemanusiaan itu menjadi percuma ketika persatuan kembali dipertaruhkan,” kata Man Tayax.

Ia mengajak seluruh pihak menjadikan 21 tahun perdamaian Helsinki sebagai momentum introspeksi, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Pihak yang dituntut untuk menuntaskan komitmen Helsinki bukan hanya Jakarta. Aceh sendiri wajib menunjukkan bahwa kewenangan dan uang yang sudah diberikan menghasilkan kemajuan yang terukur,” tegasnya.

Man Tayax berharap persoalan Aceh dikembalikan ke jalur dialog, pembangunan, transparansi anggaran, dan evaluasi kebijakan.

Menurutnya, nasionalisme tidak berarti menutup mata terhadap persoalan daerah. Sebaliknya, nasionalisme harus diwujudkan melalui keberanian mengoreksi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Kita boleh berbeda pandangan tentang kebijakan, tetapi Merah Putih dan persatuan Indonesia tidak boleh menjadi korban. Kritiklah pemerintah, evaluasilah anggaran, tuntutlah keadilan, tetapi jangan menghancurkan jembatan persatuan yang dibangun dengan pengorbanan begitu besar,” pungkas Man Tayax.

Editor – Ray

Catatan Redaksi:
Narasi pemberitaan atau format berita dengan pendekatan news analysis/opini narasumber, sehingga tudingan terhadap elite Aceh tetap jelas sebagai pandangan Man Tayax, bukan diposisikan sebagai fakta redaksi.

Angka Dana Otsus saya sesuaikan dengan data yang dapat diverifikasi: pemerintah mencatat Rp88,43 triliun hingga 2021, sementara sumber lain menyebut totalnya telah lebih dari Rp110 triliun hingga 2025.

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (3)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Benarkah Santet Bekerja? Praktisi Pengembangan Diri Soroti Peran Pikiran dan Keyakinan dalam Membentuk Realitas

    Benarkah Santet Bekerja? Praktisi Pengembangan Diri Soroti Peran Pikiran dan Keyakinan dalam Membentuk Realitas

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 29Komentar

    DENPASAR – Kepercayaan terhadap santet, pelet, dan berbagai bentuk ilmu gaib masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Tidak sedikit orang yang meyakini bahwa niat buruk seseorang dapat memengaruhi kesehatan, keberuntungan, bahkan perjalanan hidup orang lain. Namun, pandangan berbeda disampaikan sejumlah praktisi pengembangan diri yang mengaitkan fenomena tersebut dengan cara kerja pikiran bawah sadar dan sistem […]

  • Lambang Tengkorak Menggigit Bulan Sabit, Identitas Keras Kekuasaan Kerajaan Kadiri

    Lambang Tengkorak Menggigit Bulan Sabit, Identitas Keras Kekuasaan Kerajaan Kadiri

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    DENPASAR — Lambang tengkorak bertaring yang menggigit Bulan Sabit atau dikenal sebagai Ardhacandrakapala lancana bukan sekadar simbol mistik, melainkan identitas resmi kekuasaan Kerajaan Khadiri (Panjalu) yang berpusat di Daha pada masa pemerintahan Sri Maha Raja Rakai Sirikan Sri Bameswara (1034–1057 Çaka / 1112–1135 M). Simbol ini digunakan secara sadar dan politis sebagai penegasan ideologi kerajaan, […]

  • Silaturahmi Ramadan di Istana, Prabowo Subianto Terima Megawati Soekarnoputri Bahas Kebangsaan

    Silaturahmi Ramadan di Istana, Prabowo Subianto Terima Megawati Soekarnoputri Bahas Kebangsaan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Kamis (19/3/2026). Pertemuan yang berlangsung menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah itu disebut sebagai bagian dari silaturahmi antarpemimpin bangsa. “Pada hari ke-29 bulan Ramadan menjelang Idul Fitri 1447 H, saya menerima Presiden ke-5 RI, […]

  • Mahasiswa FKIK Universitas Warmadewa Latih Siswa SMAN 4 Denpasar Kuasai Bantuan Hidup Dasar Play Button

    Mahasiswa FKIK Universitas Warmadewa Latih Siswa SMAN 4 Denpasar Kuasai Bantuan Hidup Dasar

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 19Komentar

    DENPASAR – Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Warmadewa menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Siswa SMAN 4 Denpasar melalui Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) sebagai Langkah Awal Menyelamatkan Nyawa”, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di ruang multimedia SMAN 4 Denpasar, Jalan Gunung Rinjani No. 1, Tegal Harum, Denpasar Barat, ini diikuti […]

  • Asal-Usul Minyak Bumi Masih Jadi Perdebatan, Ilmuwan Ungkap Fakta Geologi yang Jarang Dipahami

    Asal-Usul Minyak Bumi Masih Jadi Perdebatan, Ilmuwan Ungkap Fakta Geologi yang Jarang Dipahami

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    DENPASAR — Minyak bumi selama ini dikenal sebagai salah satu sumber energi paling vital bagi kehidupan modern. Namun di balik perannya yang besar bagi industri, transportasi, hingga pembangkit listrik, proses terbentuknya ternyata masih menyimpan perdebatan ilmiah yang menarik perhatian para ahli geologi dunia. Dalam pandangan ilmiah yang paling banyak diterima saat ini, minyak bumi diyakini […]

  • Pengalaman Buruk dengan Polisi: Mengapa Saya Harus Ditilang?

    Pengalaman Buruk dengan Polisi: Mengapa Saya Harus Ditilang?

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Surabaya – Hari itu sebenarnya tidak ada yang istimewa. Pagi cerah, jalanan cukup padat seperti biasa, dan saya terburu-buru menuju sekolah untuk mengikuti pembelajaran. Semua perlengkapan kendaraan bermotor sudah saya siapkan: helm standar, STNK, SIM, serta kelengkapan fisik seperti spion dan lampu. Tidak ada yang kurang. Saya mengendarai motor dengan kecepatan normal, tidak terlalu lambat, […]

expand_less