Trump Ubah Nama Selat Hormuz Jadi “Strait of America”, Picu Polemik Global
- account_circle Admin
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Donald Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan peta kawasan Teluk dengan perubahan mencolok, yakni mengganti nama Selat Hormuz menjadi “Strait of America”. Usulan tersebut segera memicu perdebatan luas di media sosial dan mendapat beragam respons dari publik internasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu titik vital distribusi energi global. Sebagian besar pasokan minyak dunia melintasi kawasan ini, sehingga setiap isu yang menyangkut wilayah tersebut dinilai sensitif dalam konteks geopolitik. Meski perubahan nama secara sepihak tidak memiliki kekuatan hukum internasional, langkah tersebut tetap menuai kritik karena dianggap menyentuh isu kedaulatan kawasan.
Ini bukan kali pertama Trump melontarkan gagasan kontroversial terkait wilayah geografis. Sebelumnya, ia sempat mengusulkan perubahan nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika”, mewacanakan pembelian Greenland, hingga menyatakan keinginan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Pola pernyataan tersebut kembali menjadi sorotan publik yang mempertanyakan keseriusan maupun tujuan di balik usulan terbarunya.

VIRAL Trump Ubah Nama Selat Hormuz Jadi Strait of America, Netizen: Sudah Kehilangan Arah /@realDonaldTrump
Di sisi lain, Trump juga meminta negara-negara lain seperti China dan kawasan Eropa untuk turut membantu mengamankan jalur Selat Hormuz. Pernyataan ini dinilai kontradiktif, karena di satu sisi terkesan ingin mengklaim, namun di sisi lain mengharapkan dukungan internasional. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa pernyataan tersebut lebih merupakan strategi komunikasi ketimbang kebijakan konkret.
Reaksi publik pun bermunculan di media sosial, termasuk dari warganet Indonesia. Mayoritas komentar bernada kritik dan sindiran, menilai gagasan tersebut berlebihan dan tidak realistis. Sejumlah pengguna bahkan menganggap pernyataan itu sekadar upaya mencari perhatian di tengah dinamika politik global yang tengah memanas.
Gaya komunikasi Trump yang kerap memicu kontroversi memang bukan hal baru. Namun, dalam situasi geopolitik yang sensitif, pernyataan semacam ini dinilai berpotensi memperkeruh suasana jika tidak disikapi secara proporsional oleh berbagai pihak.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar