Breaking News
light_mode

Risiko Sudah Tertulis, Mangrove Terlanjur Terbelah, Dokumen FSRU LNG Sidakarya Bongkar Fakta yang Tak Lagi Bisa Ditutup

  • account_circle Ray
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR — Apa yang selama ini tampak samar dari citra satelit kini menemukan pijakan resminya. Koridor sepanjang sekitar 835 meter hingga 1 kilometer yang membelah kawasan mangrove Sidakarya bukan sekadar dugaan aktivitas biasa.

Berita sebelumnya:

Monitor Langit Terkuak! Koridor 835 Meter Belah Mangrove Sidakarya, Akses Adat atau Jejak Proyek Energi?

Dokumen lingkungan proyek FSRU LNG Sidakarya secara terang mengakui: gangguan terhadap vegetasi mangrove adalah risiko yang sudah dihitung sejak awal.

Dalam Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKL) Nomor 2832 Tahun 2025 yang diterbitkan Menteri Lingkungan Hidup pada 31 Oktober 2025, secara eksplisit disebutkan salah satu dampak yang wajib dikelola adalah

Klik untuk link:

Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKL) Nomor 2832 Tahun 2025.

Terganggunya vegetasi mangrove dari kegiatan penggelaran pipa bawah laut.

Kalimat itu bukan tafsir, bukan asumsi, melainkan pengakuan resmi dalam dokumen negara. Artinya, kerusakan atau gangguan terhadap mangrove bukan lagi kekhawatiran publik semata. Ia sudah menjadi bagian dari desain risiko proyek.

Pipa bawah laut tersebut dirancang untuk menyalurkan gas dari fasilitas penyimpanan dan regasifikasi LNG menuju pembangkit listrik di daratan. Metode instalasinya pun bukan tanpa konsekuensi. Dokumen menyebut penggunaan teknik trenching, jetting, dan rock – trenching, serangkaian metode yang melibatkan pengerukan dasar laut untuk menanam pipa.

Metode ini dikenal memiliki potensi gangguan lebih besar dibandingkan pendekatan seperti Horizontal Directional Drilling (HDD), yang lazim digunakan untuk meminimalkan kerusakan di wilayah pesisir dan vegetasi permukaan.
Jika pipa itu harus mendarat di daratan, maka jalur menuju titik pendaratan menjadi krusial. Di sinilah fakta lapangan dan dokumen mulai saling mengunci.

Di tengah kawasan mangrove yang seharusnya terlindungi, publik telah lebih dulu melihat perubahan fisik. Jalur panjang terbuka membelah vegetasi, dengan akses mencapai sekitar 1,5 kilometer dari pintu masuk hingga pesisir.

Penjelasan resmi menyebutnya sebagai akses kegiatan adat dan monitoring lingkungan.
Anggota DPRD Kota Denpasar, Suadi, menyatakan akses tersebut mempermudah pemantauan. Narasi ini kemudian menjadi jawaban utama pemerintah daerah terhadap sorotan publik.

Namun di saat yang sama, informasi lain mengemuka. Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai mengungkap adanya pemanfaatan lahan sekitar 1,7 hektare yang berkaitan dengan jalur pipa. Angka ini sejalan dengan pernyataan Ketua GASOS Bali, Lanang Sudira, terkait kebutuhan lahan proyek LNG di pesisir Bali Selatan.

Di level kebijakan, arah proyek pun sudah ditegaskan. Gubernur Bali Wayan Koster memastikan pembangunan terminal LNG Sidakarya tetap berjalan. Lokasinya disebut berada sekitar 3,5 kilometer dari daratan, dengan pembangunan difokuskan di laut dan tanpa kendala regulasi.

Pernyataan itu menutup satu hal, proyek ini bukan lagi wacana. Ia sudah menjadi keputusan politik pembangunan energi.

Masalahnya, publik tidak pernah mendapatkan penjelasan utuh tentang keterkaitan tiga fakta yang kini berdiri berdampingan: koridor mangrove yang sudah terbuka, rencana jalur pipa bawah laut dalam dokumen resmi, dan proyek FSRU LNG yang dipastikan berjalan.
Ketiadaan penjelasan ini menciptakan ruang gelap yang justru diisi oleh fakta-fakta yang semakin terang.

Dokumen resmi telah mengafirmasi bahwa gangguan terhadap mangrove adalah konsekuensi yang sudah diperhitungkan. Sementara di lapangan, jejak gangguan itu sudah terlihat.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mangrove akan terdampak. Pertanyaan yang lebih tajam dan tak bisa dihindari adalah: seberapa jauh kerusakan itu sudah dimulai dan seberapa besar yang akan menyusul.

Ketika risiko sudah ditulis di atas kertas, dan bentang alam sudah mulai berubah di lapangan, maka yang tersisa bukan lagi perdebatan. Melainkan pertanggungjawaban.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (1)

  • Azucena

    I’m gone to inform my little brother, that he should also go to see this weblog on regular basis to obtain updated from most up-to-date information.

    Take a look at my web site … paedophile

    Balas18 Maret 2026 6:33 PM

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    DENPASAR – Masa depan pengemudi transportasi online kembali berada di persimpangan. Jika pada awal kemunculannya aplikasi transportasi daring menjanjikan konsep kemitraan berbasis kepemilikan kendaraan pribadi, kini arah bisnis itu perlahan bergeser. Pengemudi tak lagi sekadar “mitra” dengan mobil sendiri, melainkan berpotensi menjadi pekerja yang terikat cicilan kendaraan milik atau difasilitasi langsung oleh perusahaan aplikasi. Sejak […]

  • Fenomena “Kudokushi” di Jepang! Lansia Meninggal dalam Kesepian, Pakar Sebut Krisis Sosial Makin Mengkhawatirkan

    Fenomena “Kudokushi” di Jepang! Lansia Meninggal dalam Kesepian, Pakar Sebut Krisis Sosial Makin Mengkhawatirkan

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 972Komentar

    TOKYO – Tingginya tingkat kesibukan masyarakat Jepang berdampak serius pada kehidupan lansia. Banyak orang tua terpaksa hidup sendiri karena anak-anak mereka bekerja sepanjang hari atau telah membangun keluarga baru. Kondisi ini memaksa para lansia bertahan mandiri hingga ajal menjemput, bahkan tanpa ada yang mengetahui kepergian mereka. Fenomena meninggalnya seseorang dalam kesendirian—yang baru ditemukan setelah berhari-hari, […]

  • Polda Bali Bantah Tudingan Rasisme LBH Bali, Sebut Isu Bisa Memecah Belah Masyarakat

    Polda Bali Bantah Tudingan Rasisme LBH Bali, Sebut Isu Bisa Memecah Belah Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    DENPASAR – Polemik dugaan pernyataan rasis oleh Karo Ops Polda Bali, Kombes Pol Soelistijono, terus bergulir. Setelah Forum Warga Setara (ForWaras) bersama 46 organisasi dan individu, termasuk YLBHI-LBH Bali, Komunitas Taman 65, KIKA Bali, hingga sejumlah akademisi, menyesalkan pernyataan tersebut, Polda Bali akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Berita sebelumnya: ForWaras Gugat Rasisme Pejabat Bali, Perjuangan Rakyat […]

  • Sabha Pandita PHDI Semprot Keras Ketua Umum, Ungkap Dugaan Cacat Hukum dan Nepotisme dalam Pemilihan Rektor UNHI

    Sabha Pandita PHDI Semprot Keras Ketua Umum, Ungkap Dugaan Cacat Hukum dan Nepotisme dalam Pemilihan Rektor UNHI

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR (30/10/2025) — Situasi internal Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tengah bergolak. Surat terbuka yang dikeluarkan Sabha Pandita PHDI menjadi sorotan tajam publik setelah secara tegas menegur Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat terkait proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar yang dinilai sarat kejanggalan, cacat hukum, dan berpotensi disusupi kepentingan pribadi maupun keluarga. […]

  • Australian Consulate-General Hosts Ibu Putri Suastini Koster to Strengthen Cultural and Women’s Empowerment Ties in Bali

    Australian Consulate-General Hosts Ibu Putri Suastini Koster to Strengthen Cultural and Women’s Empowerment Ties in Bali

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 8Komentar

    Denpasar, Bali – 3 March 2026 – The Australian Consulate-General in Bali welcomed Ibu Putri Suastini Koster for a discussion focused on arts, culture, environmental preservation, and women’s empowerment in Bali. Australia’s Consul-General in Bali, Jo Stevens, hosted Ibu Putri Suastini Koster, Chair of the Bali Provincial Family Welfare Team (TP-PKK), during a morning tea […]

  • Mahasiswa FISIP Universitas Udayana Meninggal Jatuh dari Gedung Kampus, Penyebab Masih Diselidiki

    Mahasiswa FISIP Universitas Udayana Meninggal Jatuh dari Gedung Kampus, Penyebab Masih Diselidiki

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Duka menyelimuti lingkungan Universitas Udayana (Unud) setelah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Timothy Anugerah Saputra (22), ditemukan jatuh dari lantai atas gedung kampus di kawasan Sudirman, Denpasar, Rabu (15/10/2025). Hingga kini, penyebab pasti peristiwa tersebut masih menjadi teka-teki dan tengah diselidiki oleh pihak kepolisian serta tim internal kampus. Ketua […]

expand_less