Pesanan Baju Molor Berujung Cekcok Viral, Penjahit di Badung Diduga Ucapkan Kata Bernada Rasis
- account_circle Admin
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Ibu penjahit yang di video terlihat diduga mengumpat dan bernada rasis kepada salah satu pelanggannya.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pesanan Jahitan Molor Picu Perselisihan, Polisi Lakukan Pendalaman Meski Belum Ada Laporan Resmi
BADUNG – Viral cekcok seorang ibu penjahit asal Negara Jembrana pemilik usaha jahit di Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, yang dalam video tersebut terlihat melakukan perlakuan tidak menyenangkan, mulai dari kata-kata kasar, ancaman, hingga penyiraman sisa air cucian tangan (sisa makanan).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perselisihan diduga dipicu oleh keterlambatan penyelesaian pesanan tiga potong pakaian yang diminta pelanggan untuk dikecilkan. Pelanggan mengaku pakaian diserahkan pada 30 Juni 2026 dan dijanjikan selesai sehari kemudian. Namun hingga beberapa kali didatangi, pesanan disebut belum juga dikerjakan
Kekecewaan pelanggan memuncak saat meminta pakaian beserta uangnya dikembalikan. Permintaan tersebut diduga ditolak sehingga terjadi adu mulut yang kemudian terekam dan beredar luas di media sosial.
Viralnya kata – kata kasar yang memiliki kesan rasis ini bisa saja menyinggung masyarakat luas yang merupakan suku terbesar di republik ini. Dalam klarifikasi ibu penjahit itu yang ditemui oleh Arya Wedakarna seorang senator atau DPD RI, menyebutkan pelanggan datang ketika dirinya sedang makan serta tidak bersedia menunggu sekitar 15 menit.
“Itu sebaya anak saya, dia berani sama orang yang lebih tua. Padahal itu bukan jahitannya, itu milik pacarnya, ” Ujar ibu tersebut yang terlihat dalam video yang diunggah oleh @ajikpantau enggan untuk meminta maaf.

AWK terlihat mengingatkan bahwa tidak boleh berbicara rasis (suku) dan dirinya mengungkapkan memohon maaf sebagai perwakilan masyarakat Bali agar tidak memperpanjang kasus ini.
Seorang warga sekitar mengungkapkan bahwa jam operasional tempat usaha tersebut memang tidak menentu.
“Kadang buka jam 9 pagi, kadang lewat jam 2 sore. Pernah juga buka sampai malam. Ibunya (penjahit) sering juga lembur jahit sampai jam 10 ke atas. Dia orang dari desa terdekat, tapi kurang tahu asli mana,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya.
Warga tersebut mengaku tidak banyak mengetahui keseharian pemilik usaha karena jarang berinteraksi.
“Saya jarang ngobrol, paling sepintas saja karena fokus kerja. Kalau kemarin malam buka, sampai sekarang belum buka,” katanya.
Sementara itu, Kasubsi Penmas Seksi Humas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, memastikan hingga saat ini kepolisian belum menerima laporan resmi terkait insiden tersebut.
“Belum ada laporan resmi yang masuk terkait peristiwa tersebut,” ujar Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti.
Di sisi lain, Kapolsek Abiansemal Kompol I Nengah Sona menegaskan pihaknya tetap bergerak melakukan pendalaman atas video yang beredar.
“Kami masih berkoordinasi dan mengumpulkan data lapangan terkait informasi yang beredar di media sosial,” kata Kompol I Nengah Sona.
Polisi mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi serta menyerahkan penanganan persoalan kepada aparat apabila ditemukan dugaan tindak pidana.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada proses hukum yang diajukan oleh kedua belah pihak.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar