Mencari Kesempurnaan pada yang Tidak Sempurna
- account_circle Ray
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
All Your Perfects and Finding Perfect
DENPASAR – Kebingungan eksistensial manusia modern pernah dirumuskan dengan tajam oleh seorang bijak: ketika ditanya apa yang paling membingungkannya
dalam hidup, jawabannya adalah “manusia itu sendiri”. Paradoksnya jelas—manusia mengorbankan kesehatan demi akumulasi materi, lalu mengorbankan materi demi memulihkan kesehatan. Ia cemas akan masa depan yang belum tiba, sementara masa lalunya kosong dari sweet memory yang bermakna.
Lebih ironis lagi, manusia kerap berbangga pada atribut-atribut yang bukan hasil jerih payahnya: paras yang gagah atau jelita, garis keturunan, status sosial. Padahal semua itu given, anugerah Tuhan yang tidak pernah diminta dan pada waktunya akan luruh termakan usia. Kebanggaan sejati seharusnya terletak pada apa yang lahir dari tangan, hati, dan perjuangan diri: akhlak. Di titik inilah kemuliaan manusia yang sesungguhnya bertempat.
Baginda Rasulullah menegaskan tolok ukur kemuliaan tersebut dalam sabdanya:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik di antara kalian dan orang yang terburuk di antara kalian?”
Lanjut sabda Beliau:
خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى
خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang kebaikannya diharapkan dan terbebas dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang kebaikannya tidak diharapkan dan kalian tidak aman dengan keburukannya.
Khalil Gibran menulis dengan lirih: “Beauty is not in the face; beauty is a light in the heart”.
Keindahan fisik bersifat fana, sementara akhlak bersifat abadi.
Dalam konteks peradaban kontemporer, Yuval Noah Harari dalam 21 Lessons for the 21st Century (2018) mengingatkan bahwa percepatan teknologi justru membuat nilai kemanusiaan yang paling elementer: empati, kasih sayang, etika, menjadi langka sekaligus paling berharga. Ketika algoritma menggantikan relasi, maka akhlak berfungsi sebagai mercusuar moral yang menuntun manusia agar tidak hanyut.
Maka, “kesempurnaan” yang kita cari bukan pada wajah, harta, atau status. All your perfects, segala keping kesempurnaan itu, hanya dapat ditemukan ketika kita menanam kebun kebajikan. Karena yang lahir dari perjuangan akhlaklah yang akan menuai kemuliaan, baik di dunia maupun akhirat.
Selamat Tahun Baru 1448 H.
Masrur Makmur La Tanro
Editor – Ray

https://shorturl.fm/urLAV
17 Juni 2026 5:07 PMhttps://shorturl.fm/0MJMp
17 Juni 2026 9:16 AM