Jalan “Benyah” Pemkab Karangasem Cuek 20 Tahun Tapi Pajak Diambil, Warga Gulinten Iuran Semen Jalan Demi Akses
- account_circle Ray
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Ketut Winata selaku Kelian Desa Adat Gulinten (kiri) dan I Nyoman Suandana selaku Kepala Dusun (kanan), gambar mengandung rekayasa AI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KARANGASEM – Menunggu kepedulian Pemerintahan Kabupaten Karangasem terhadap keberadaan jalan yang menghubungkan Desa Tribhuana menuju Desa Bunutan (Br. Dinas Lebuh) hingga Banjar Dinas Gulinten, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem (±15,8 km) selama 20 tahun tak juga kunjung diperbaiki.

Jalan aspal yang ditambal semen mulai rusak kembali, bertahan 6 bulan – 1 tahun.
Kerusakan parah sampai jebolnya pinggiran jalan membuat jalan yang menjadi akses utama masyarakat sekaligus jalur menuju destinasi wisata Lahangan Sweet yang merupakan destinasi baru wisata menjadi terhambat dan berbahaya.
Menurut keterangan dari Kelian Desa Adat Gulinten, Ketut Winata menyebutkan terpaksa *memeras* masyarakat lantaran jalan tersebut tidak diperbaiki sejak pertama kali diaspal tahun 2006 silam.

Jalanan tambal sulam dengan aspal dan semen.
Iuran Rp50 ribu per kepala keluarga (KK) setiap bulan digunakannya untuk menambal sulam jalan yang berlubang dan kuncian pinggiran sisa – sisa aspal baheula yang menempel disana menggunakan semen.
“Jalan itu paling bertahan 1 tahun sebelum hancur kembali. Bagi masyarakat kami Rp50 ribu rupiah setiap bulan bukan perkara ringan lantaran pekerjaannya sebagaian besar adalah petani dan buruh bangunan, “ujar Ketut Winata, Senin (10/8/2026).

Hasil tangkapan layar, live facebook saat kerja bakti bersama menyemen jalan yang berlubang dan rusak parah.
Jalan tersebut merupakan akses pekerjaan, transportasi bahkan medis yang butuh penanganan cepat. Untuk memperbaiki itu warga secara gotong royong sampai larut malam demi kelancaran kehidupan mereka yang sampai saat ini tidak tersentuh pemerintah.
“Mau gimana lagi, harus iuran! karena itu akses satu – satunya kami untuk hidup, ” Keluh seorang warga yang bernama Wayan Suryati, yang tinggal diujung desa dalam.

Jalan termonitor jebol disebelah kiri (bahaya), hanya dibatasi dengan tali rafia.
Keluhan Wisatawan
Destinasi wisata Lahangan Sweet yang menjadi andalan Desa Bunutan yang mulai dibuka kembali dan dikembangkan pada tahun 2022 setelah pandemi Covid-19 mulai melandai negeri.
Aktivitas ekonomi masyarakat terhadap Objek Wisata ini sangat tinggi, lantaran tamu yang hadir baik wisatawan lokal, domestik hingga mancanegara cukup menyibukan masyarakat sekitar.

Wisatawan yang ramai berkunjung, kadang mengalami cedera akibat jatuh dan lainnya.
Melalui PT Pesona Bukit Lahangan dan berbagai perizinan telah dipenuhi, Ketut Winata sebut pembayaran pajak dari objek wisata tersebut mencapai puluhan juta setiap bulan.
“Pada Juni 2026, pembayaran pajak disebut sekitar Rp21 juta, sedangkan pada Juli mencapai sekitar Rp26,9 juta, “ungkapnya.
Pajak yang disetor tidak sebanding dengan perhatian Pemerintah Kabupaten Karangasem dalam bentuk infrastruktur akses jalan yang memadai.

Kelian Desa Adat Gulinten, Ketut Winata.
“Kami tidak memojokkan pemerintah. Kami hanya meminta yang namanya berkeadilan dan perhatian,” katanya.
Bahkan sebutnya ada yang mencibir, kalau di Ubud kayunya yang diukir, tetapi di sini kok jalan yang diukir menceritakan keluh kesah seorang tamu.
Kepala Dusun: Ini Bukan Hanya Jalan Wisata
Keluhan yang serupa juga didengar dari I Nyoman Suandana selaku Kepala Dusun setempat.

I Nyoman Suandana selaku Kepala Dusun.
“Didepan itu (objek wisata) adalah jalan kabupaten, rusak parah. Hal ini sudah disampaikan berulang kali, sampai saat ini belum juga mendapatkan tindak lanjutnya, “jelasnya.
Ia juga meminta Pemerintahan Kabupaten Karangasem lebih peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Bunutan.
“Bagaimana pariwisata itu bisa berkembang kalau fasilitas jalannya seperti sungai? Banyak keluh kesah dari tamu pengunjung, jalannya rusak dan berbahaya, ” tegasnya.

Destinasi wisata.
Ia juga menyebutkan masih adanya tunggakan hutang di LPD untuk pengembangan objek wisata, destinasi wisata tersebut juga mampu menyerap sekitar 40 tenaga kerja dari masyarakat lokal. Masyarakat Gulinten sendiri berjumlah sekitar 300 KK dengan populasi sekitar 1.200 jiwa.

Driver Wisatawan: Tanjakan Itu Alam, Jalan Berlubang Bisa Diperbaiki
Putu (40) seorang driver, mengatakan Lahangan Sweet merupakan destinasi yang bagus dan banyak peminat, cuma akses jalan bahkan yang longsor (hanya ditutup pakai tali rafia) itu membahayakan tamu.
Soal tanjakan itu merupakan bagian dari kondisi alam yang memang tidak bisa dihindari, namun infrastruktur jalan adalah kewajiban untuk diperbaiki.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar