Ilmuwan China Berhasil Pulihkan Diabetes Tipe 1 Lewat Terapi Sel Punca Pasien Sendiri
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Beijing – Sebuah terobosan medis bersejarah lahir di China. Tim ilmuwan yang dipimpin Prof. Deng Hongkui, ahli biologi sel dari Universitas Peking, berhasil memulihkan seorang pasien diabetes tipe 1 menggunakan sel puncanya sendiri yang direkayasa ulang. Ini menjadi kasus pertama di dunia di mana pasien terbebas dari suntikan insulin berkat terapi seluler.
“Setelah lebih dari setahun pasca-transplantasi, pasien masih memproduksi insulin secara alami dan kadar gulanya stabil. Ia bisa makan normal, termasuk makanan manis, tanpa lagi bergantung pada insulin,” ungkap Prof. Deng kepada media, Rabu (13/8).
Prosesnya dimulai tahun lalu, ketika tim mengambil sel dari jaringan lemak pasien, lalu mengubahnya menjadi pluripotent stem cells—sel yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis jaringan. Sel-sel ini kemudian diarahkan menjadi sel islet penghasil insulin, menggantikan sel pankreas yang sebelumnya rusak akibat serangan autoimun. Sebanyak 1,5 juta sel islet ditanamkan ke dalam rongga perut pasien, bukan ke hati seperti metode lama, sehingga bisa dipantau lewat MRI dan bertahan lebih lama.
Menurut Prof. Deng, keunggulan utama teknik ini adalah penggunaan sel pasien sendiri, sehingga tidak ada risiko penolakan tubuh dan tidak memerlukan obat imunosupresan seumur hidup seperti pada transplantasi pankreas. “Metode ini bisa mengatasi dua hambatan besar pengobatan diabetes tipe 1: keterbatasan donor dan risiko imunosupresi,” jelasnya.
Tak hanya satu orang, uji coba ini juga mencakup dua pasien lain yang menerima terapi serupa setelahnya. “Hasil awalnya sangat positif,” kata Dr. Li Wei, anggota tim peneliti, sembari menambahkan bahwa penelitian lanjutan sedang dilakukan untuk memastikan efektivitas jangka panjang.
Pakar endokrinologi dari American Diabetes Association, Dr. Maria Santos, yang tidak terlibat dalam riset ini, menyebut temuan tersebut sebagai “lompatan besar” dalam pengobatan penyakit autoimun. “Jika terbukti aman dan efektif secara luas, ini bisa mengubah hidup jutaan penderita diabetes di seluruh dunia,” ujarnya.
Walau masih perlu penelitian lanjutan untuk bisa diterapkan secara massal, capaian ini dinilai sebagai langkah penting menuju era pengobatan regeneratif—di mana tubuh menggunakan selnya sendiri untuk menyembuhkan diri. “Ini bukan hanya kemajuan medis, tapi redefinisi dari apa yang mungkin dilakukan kedokteran modern,” tegas Prof. Deng. (Tim)

https://shorturl.fm/apQaP
17 Agustus 2025 12:55 PMhttps://shorturl.fm/HhMwY
15 Agustus 2025 7:50 AM