Goa Garba Gianyar, Jejak Pasraman Kuno 800 Tahun di Lembah Pakerisan
- account_circle Vine
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GIANYAR – Di balik rimbunnya hutan tropis dan tebing Sungai Pakerisan, Kabupaten Gianyar, tersimpan sebuah situs bersejarah yang diyakini berusia sekitar 800 tahun. Situs tersebut dikenal sebagai Goa Garba, goa kuno yang memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah, pendidikan, dan spiritualitas Bali pada masa lampau.

Goa Garba terletak di Banjar Samegunung, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan masyarakat setempat, goa ini pada masanya berfungsi sebagai pasraman, yakni tempat pendidikan bagi kalangan bangsawan dan anak-anak raja di era kerajaan Bali kuno.
Pemangku Pura Pengukur-ukuran, Jero Mangku Dewa Made Rauh, menjelaskan bahwa goa tersebut diyakini menjadi tempat Kebo Iwa menimba ilmu sebelum diangkat sebagai mahapatih di Kerajaan Badahulu. “Di sinilah Kebo Iwa digembleng secara spiritual dan kanuragan,” ujarnya.
Tokoh legendaris Bali itu dikenal luas dalam sejarah lisan masyarakat sebagai sosok pertapa sakti dengan kemampuan kanuragan tinggi serta berpengaruh besar dalam dinamika politik Bali kuno.
Secara fisik, Goa Garba kini memiliki luas sekitar 200 meter persegi. Keberadaannya dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Jayapangus pada abad ke-12. Di sekitar kawasan ini juga terdapat Pura Agung Pengukur-ukuran yang menyimpan prasasti-prasasti kuno terkait sejarah wilayah tersebut.
Sungai Pakerisan sendiri dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Bali kuno. Kawasan aliran sungai ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO karena menyimpan sejumlah situs arkeologi penting yang merekam perkembangan peradaban Hindu di Bali.

Salah satu bagian paling mencolok dari Goa Garba adalah adanya tapak kaki yang terletak di tengah tangga menuju pintu goa. Tapak tersebut kini dilindungi pagar besi guna mencegah kerusakan. Masyarakat setempat meyakini jejak itu sebagai bekas tapak kaki Kebo Iwa.
Di bawah goa, Sungai Pakerisan mengalir tenang, dikelilingi pepohonan rindang yang menghadirkan suasana alami dan hening. Suara burung serta gemericik air memperkuat kesan Goa Garba sebagai ruang refleksi yang menyatu dengan alam.
Keberadaan Goa Garba menjadi pengingat bahwa Bali tidak hanya dikenal lewat pesona pariwisata modernnya.
Pulau ini juga menyimpan jejak sejarah dan spiritualitas yang berakar kuat pada peradaban masa lalu, warisan sunyi yang terus berbicara tentang pendidikan, kebijaksanaan, dan kearifan Bali kuno.
Editor – Vin

Saat ini belum ada komentar