Breaking News
light_mode

Dr. Ichsanuddin Noorsy: Konflik AS–Israel vs Iran Bukan Sekadar Nuklir, tapi Perebutan Kendali Teluk

  • account_circle Admin
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA – Ekonom politik Dr. Ichsanuddin Noorsy menilai konflik antara Amerika Serikat dan Israel menghadapi Iran tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai isu senjata nuklir semata. Dalam sebuah wawancara podcast, ia menyebut eskalasi yang terjadi merupakan bagian dari pertarungan geopolitik panjang untuk menguasai kawasan Teluk yang strategis secara energi dan militer.

Menurutnya, publik awam kerap melihat hanya dua kemungkinan: ambisi Amerika Serikat menguasai minyak atau kepentingan Israel memperluas pengaruh teritorialnya. Namun, ia menekankan bahwa realitasnya jauh lebih kompleks.

“Iran bukan sekadar berhadapan dengan Israel. Dalam banyak hal, Israel adalah representasi kepentingan Amerika di kawasan. Maka ketika keduanya bergerak, itu adalah satu tarikan kepentingan geopolitik yang sama,” ujarnya.

Perebutan Kawasan Teluk dan Selat Hormuz

Noorsy menyoroti arti penting Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi dunia. Ia menyebut sekitar 5,9 juta barel minyak per hari melintasi jalur tersebut menuju berbagai negara, termasuk ke Asia Timur.

“Kalau kawasan Teluk bisa dikuasai penuh tanpa hambatan Iran, maka kontrol energi global akan semakin terkonsolidasi. Di sinilah letak persoalan strategisnya,” kata dia.

Iran, lanjutnya, sejak Revolusi Islam 1979 konsisten mengambil posisi berseberangan dengan kebijakan luar negeri Amerika. Sejak saat itu hingga kini, berbagai sanksi ekonomi dan embargo dijatuhkan, tetapi tidak pernah benar-benar melumpuhkan Teheran.

Sanksi yang Berbalik Menjadi Daya Tahan

Noorsy menyebut narasi di Iran bahkan berkembang menjadi bentuk perlawanan psikologis.

“Ada ungkapan di sana, ‘Your sanctions are our blessing, your embargo is our blessing.’ Artinya, tekanan justru dipakai untuk membangun kemandirian,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengembangan teknologi drone dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Iran yang dinilai semakin canggih dalam beberapa tahun terakhir. Sanksi panjang disebutnya memaksa Iran memperkuat industri dalam negeri, termasuk sektor militer dan energi.

Isu Nuklir dan Perubahan Rezim

Terkait tudingan pengayaan uranium, Noorsy menyinggung laporan bahwa Iran sempat memiliki sekitar 440 kilogram uranium hasil pengayaan pada 2025, meski belum pada tingkat siap pakai sebagai senjata nuklir. Ia membandingkan dengan sejarah bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II, yang disebut menggunakan material dalam jumlah jauh lebih kecil.

Namun, ia menilai isu nuklir sering kali menjadi pintu masuk tekanan politik yang lebih besar, yakni mendorong perubahan rezim di Teheran.

“Kalau alasannya nuklir, pertanyaannya apakah betul itu murni soal keamanan global? Atau ada agenda untuk mengganti kepemimpinan di bawah Ali Khamenei?” katanya.

Ia menggambarkan sikap kepemimpinan Iran yang menurutnya tetap menunjukkan resistensi kuat meski dihantam sanksi dan tekanan militer.

Dampak Ekonomi Global

Di sisi lain, Noorsy mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan berdampak luas terhadap ekonomi global, termasuk tekanan terhadap nilai tukar, industri manufaktur, sistem pembayaran internasional, hingga meningkatnya angka pengangguran di berbagai negara.

Ia menyinggung indikator seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) di sejumlah negara besar yang bergerak di bawah level 50—menandakan kontraksi sektor manufaktur. Kondisi itu, menurutnya, mempersempit ruang fiskal dan memperbesar risiko ketimpangan sosial.

“Kelas menengah bisa tertekan, angka kemiskinan meningkat, dan ruang fiskal negara makin sempit. Dalam situasi seperti itu, APBN harus benar-benar dilihat dari sisi distribusi, stabilisasi, dan alokasi agar tetap memberi manfaat besar bagi rakyat,” ujarnya.

Bukan Sekadar Konflik Regional

Noorsy menegaskan, ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik regional biasa, melainkan cerminan pertarungan struktur kekuasaan global yang berkaitan erat dengan energi, sistem keuangan, dan arah tatanan dunia.

“Selama kepentingan strategis di kawasan Teluk belum menemukan titik keseimbangan, potensi eskalasi akan selalu ada,” pungkasnya.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gatra Media Group Resmi Hentikan Operasional per 31 Juli 2024

    Gatra Media Group Resmi Hentikan Operasional per 31 Juli 2024

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta — PT Era Media Informasi (Gatra Media Group) resmi mengakhiri seluruh kegiatan usahanya mulai 31 Juli 2024. Keputusan tersebut sekaligus menutup seluruh unit bisnis di bawah naungannya, termasuk Majalah Berita Mingguan Gatra, portal berita gatra.com, Majalah Gatra Jateng, situs Gatrapedia.com, serta kanal Gatra TV. Informasi penutupan ini mencuat ke publik setelah beredarnya surat pemberitahuan […]

  • Mahasiswa 18 Tahun Ini Raup Miliaran Rupiah, Kuliah Sambil Jadi Pengusaha Sukses

    Mahasiswa 18 Tahun Ini Raup Miliaran Rupiah, Kuliah Sambil Jadi Pengusaha Sukses

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    MIAMI — Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, Zach Yadegari sudah menorehkan prestasi yang membuat banyak orang dewasa tercengang. Sambil menempuh pendidikan jurusan bisnis di University of Miami, Zach berhasil membangun sumber penghasilan yang luar biasa besar untuk remaja seusianya. Remaja asal California ini dikenal di dunia maya sebagai salah satu wajah muda di […]

  • Drone Bawah Laut Manta Ray, Senjata Sunyi yang Ubah Dasar Laut jadi Jaringan Sensor Strategis

    Drone Bawah Laut Manta Ray, Senjata Sunyi yang Ubah Dasar Laut jadi Jaringan Sensor Strategis

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    DENPASAR – Dunia pertahanan maritim memasuki babak baru dengan hadirnya Manta Ray, drone bawah laut generasi terbaru yang dirancang untuk menempuh misi jarak jauh dan bertahan berbulan-bulan di kedalaman laut tanpa perlu awak. Drone ini baru saja menyelesaikan uji coba skala penuh di perairan California Selatan pada awal 2024 dan langsung mencuri perhatian komunitas militer […]

  • Gelang GPS Terpasang di Kaki Hogi Minaya, Kasus Kejar Jambret Istri Berakhir Restorative Justice

    Gelang GPS Terpasang di Kaki Hogi Minaya, Kasus Kejar Jambret Istri Berakhir Restorative Justice

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    SLEMAN — Gelang Global Positioning System (GPS) sempat terpasang di pergelangan kaki kanan Hogi Minaya (44), warga Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan dua pelaku penjambretan di kawasan Jembatan Layang Janti pada April 2025. Pemasangan alat pemantau tersebut dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Sleman sebagai bentuk […]

  • China Kembangkan Pesawat Penyelamat di Udara, Teknologi Mirip Film Fiksi Ilmiah Mulai Diuji

    China Kembangkan Pesawat Penyelamat di Udara, Teknologi Mirip Film Fiksi Ilmiah Mulai Diuji

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Beijing – Dunia penerbangan memasuki babak baru dengan munculnya konsep futuristik yang tengah dikembangkan para insinyur di Tiongkok: pesawat raksasa yang mampu berlabuh di udara untuk menyelamatkan pesawat lain yang mengalami gangguan. Teknologi ini, yang terdengar seperti adegan dalam film fiksi ilmiah, mulai diuji dan memicu perbincangan luas di komunitas aviasi global. Konsepnya sederhana namun […]

  • Tokoh Lingkungan Serangan Desak Kajian Ulang SKKL Proyek FSRU LNG di Pesisir Denpasar Selatan

    Tokoh Lingkungan Serangan Desak Kajian Ulang SKKL Proyek FSRU LNG di Pesisir Denpasar Selatan

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 1Komentar

    DENPASAR – Polemik rencana pembangunan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG) di perairan Denpasar Selatan kian menguat. Tokoh pelestari lingkungan asal Desa Adat Serangan, I Wayan Patut, mendesak pemerintah melakukan kajian ulang terhadap Surat Keputusan Kesesuaian Lokasi (SKKL) Nomor 2832 Tahun 2025 tentang pembangunan dan pengoperasian terminal LNG berkapasitas 170 MMSCFD […]

expand_less