Breaking News
light_mode

Thucydides Trap! Antinomi Amerika Serikat dan China Kian Menguat

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan dunia setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat (POTUS) ke-45 dan ke-47, Donald J. Trump, ke Beijing bersama Menteri Pertahanan Pete B. Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta sejumlah CEO korporasi besar AS. Kunjungan tersebut dinilai sebagai momentum bersejarah di tengah meningkatnya rivalitas dua kekuatan utama dunia.

Sepuluh tahun sebelumnya, Presiden AS ke-44 Barack H. Obama juga pernah mengunjungi Hangzhou, China, dalam rangka KTT G20 pada 2016. Bahkan pada November 2011, Obama sempat melontarkan kritik keras terhadap Presiden China Hu Jintao menjelang KTT East Asia Summit di Bali. Kala itu, Obama juga dikabarkan menegur Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa terkait pernyataan mengenai penempatan pasukan AS di Australia yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan.

Sejak kekalahan industri manufaktur Amerika Serikat dari China pada krisis 2008, hubungan kedua negara berkembang dalam pola tarik-menarik yang bersifat antinomi. Dalam sektor tertentu, seperti pasokan tanah jarang, AS bergantung pada China. Namun di sisi lain, Washington membatasi ekspor chip teknologi tinggi dan komponen strategis ke Beijing. Rivalitas tersebut kemudian berkembang menjadi perang nilai tukar, perang teknologi informasi, perang sistem ekonomi, hingga persaingan militer terselubung dan perebutan legitimasi global.

Ketegangan geopolitik itu juga tampak di kawasan Teluk hingga Amerika Latin, baik melalui perang terbuka maupun konflik hibrida yang menunjukkan pola interconnectivity war sebagaimana pernah dijelaskan Mark Leonard pada 2015. Posisi Amerika Serikat semakin tertekan setelah dukungannya terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mendapat sorotan Mahkamah Internasional (ICJ), bersamaan dengan menurunnya dominasi dolar AS dalam sistem ekonomi global.

Sorotan lain muncul pada kehadiran Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam kunjungan tersebut. Rubio diketahui masih terkena sanksi larangan masuk ke China sejak 2020 akibat sikap kerasnya terhadap isu Xinjiang, Hong Kong, dan dukungannya terhadap Taiwan. Namun China tetap mengizinkannya masuk melalui perubahan administrasi nama keimigrasian menjadi “Marco Lu Biao”.

Langkah Beijing itu dinilai sebagai strategi diplomasi administratif untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dengan Washington. China menunjukkan bahwa mereka tetap mencatat siapa lawan yang dihadapi, sekaligus menjaga ruang negosiasi agar tidak berkembang menjadi eskalasi militer yang berbahaya.

Dalam pertemuan itu, Presiden Xi Jinping disebut memperingatkan Trump mengenai potensi benturan besar terkait Taiwan, Iran, dan isu nuklir. China berusaha menghindari jebakan konflik besar, namun tetap mempertahankan posisi strategisnya terhadap kepentingan nasional.

Hubungan AS-China saat ini berada dalam pola competitive coexistence, yakni hidup berdampingan dalam persaingan penuh perebutan pengaruh. Hal itu terlihat dari penolakan Beijing terhadap perundingan lanjutan dengan Elbridge Colby, pejabat Pentagon yang dikenal sebagai arsitek strategi garis keras terhadap China.

Penolakan tersebut berkaitan dengan rencana penjualan paket persenjataan AS senilai USD14 miliar kepada Taiwan. Beijing menilai langkah itu melanggar prinsip “Satu China” serta mengancam keamanan nasional China. Meski Washington mengakui kebijakan “One China”, AS tetap berupaya memperkuat pertahanan Taiwan melalui suplai senjata dan dukungan militer.

Pentagon sendiri kini mengusung pendekatan “respect, realism, and clarity” dalam menghadapi China. Konsep itu mencerminkan pengakuan bahwa China bukan lagi kekuatan junior yang bisa ditekan sepihak. AS mulai mengubah strategi dari upaya menundukkan China menjadi pengelolaan persaingan agar konflik tidak berkembang menjadi benturan terbuka.

Namun, di mata Beijing, kebijakan Washington tetap dianggap menerapkan multiple suitable standard, yakni standar ganda yang disesuaikan dengan kepentingan hegemoninya sendiri. Amerika Serikat menekankan prinsip kedaulatan dan hukum internasional di Ukraina, tetapi secara simultan memperkuat militer Taiwan meski mengakui kebijakan “One China”.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana AS berusaha mempertahankan dominasinya sebagai kekuatan global utama. Di sisi lain, China tampil semakin percaya diri membangun pengaruh melalui perdagangan, teknologi, BRICS, serta diplomasi internasional.

Menurut Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto, dunia saat ini sedang bergerak menuju era multipolaritas baru. Hegemoni lama mulai meluruh, sementara kekuatan baru belum sepenuhnya mapan. Situasi ini mendekati apa yang dikenal sebagai Thucydides Trap, yakni kondisi ketika kekuatan lama takut kehilangan dominasi, sementara kekuatan baru merasa waktunya telah tiba.

Sejarah menunjukkan bahwa benturan dua kekuatan besar hampir selalu memicu konflik, bukan semata karena ambisi pihak yang bangkit, tetapi juga akibat kecemasan pihak yang mulai kehilangan dominasi.

“Dunia sedang berdiri tepat di titik paling berbahaya itu,” tulis kedua penulis.

Mereka menilai perang modern tidak lagi dimulai dengan peluru semata, tetapi melalui perang tarif, semikonduktor, data, propaganda digital, hingga perebutan pengaruh ekonomi global.

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan besar yang muncul adalah posisi Indonesia dalam pusaran rivalitas global antara Amerika Serikat dan China.

Editor – Tim

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ratu Silver Bali Lengser

    Ratu Silver Bali Lengser

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    BADUNG – Kondisi Pandemi covid-19 ini memukul banyak industri di Bali terutama seni perhiasan Silver. Toko Ratu Silver atau yang sekarang Cintamani Silver yang beralamat di Jalan Raya Legian No.373, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, mendapatkan surat yang berkop bernomor W24.U1/5205/HT.02/12/2020, dari pengadilan negeri Denpasar, bahwa toko tersebut melalui Putu Adi Yuliartha, SH memohonkan eksekusi […]

  • Ngaku Wartawan, Pria Bersenjata Brass Knuckle Diciduk Polisi di Kuta

    Ngaku Wartawan, Pria Bersenjata Brass Knuckle Diciduk Polisi di Kuta

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Pria asal Depok diduga mengancam dan hendak menganiaya sesama tamu hotel di Legian menggunakan brass knuckle. Polisi menemukan kandungan benzodiazepine dalam hasil tes urine dan masih mendalami kasus tersebut. BADUNG – Seorang pria berinisial FVK (39), warga Kota Depok, Jawa Barat, diamankan personel Polsek Kuta setelah diduga melakukan pengancaman dan percobaan penganiayaan terhadap sesama tamu […]

  • Polri Ajukan Tambahan Anggaran Rp63,7 Triliun untuk 2026, Fokus pada Kinerja dan Modernisasi

    Polri Ajukan Tambahan Anggaran Rp63,7 Triliun untuk 2026, Fokus pada Kinerja dan Modernisasi

    • calendar_month Senin, 7 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp63,7 triliun untuk tahun anggaran 2026. Usulan ini disampaikan oleh Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran (Astama Rena), Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat, dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (7/7/2025). Berdasarkan surat resmi Kapolri tertanggal […]

  • Pihak Jro Kepisah Resmi Laporkan Tindakan Dugaan Pengerusakan Pagar Tanah di Sesetan

    Pihak Jro Kepisah Resmi Laporkan Tindakan Dugaan Pengerusakan Pagar Tanah di Sesetan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    DENPASAR – Keluarga besar Jro Gede Kepisah tak surut menghadapi bertubi – tubinya permasalahan yang hadir. Kini dirinya melaporkan Anak Agung Eka Wijaya alias Turah Mayun dan kawan – kawannya ke Polresta Kota Denpasar atas perbuatan yang diduga telah merusak pagar tanah yang telah dikuasai secara turun – temurun oleh keluarga besar Jro Kepisah. Kejadian […]

  • PSN Koordinator Denpasar Barat Gelar FGD, Tekankan Etika Pinandita dalam Menjaga Kesakralan Pemangku

    PSN Koordinator Denpasar Barat Gelar FGD, Tekankan Etika Pinandita dalam Menjaga Kesakralan Pemangku

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Ray
    • 5Komentar

    DENPASAR – Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Kecamatan Denpasar Barat mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar sebagai bagian upaya memperkuat nilai-nilai etika dalam pelaksanaan ngayah sebagai pemangku. Kegiatan yang berlangsung di Aula PHDI Provinsi Bali ini menghadirkan berbagai tokoh spiritual dan praktisi budaya sebagai narasumber, Sabtu (11/4/2026). FGD tersebut mengangkat tema “Etika Pemangku […]

  • Pemerintah Wajib Paham! Lima Langkah Teknis Bereskan Sampah di Bali

    Pemerintah Wajib Paham! Lima Langkah Teknis Bereskan Sampah di Bali

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 7Komentar

    Bali, 3 April 2026 — Persoalan sampah di Bali dinilai tidak akan pernah tuntas jika masih menggunakan pola lama “angkut, buang, lalu menunggu viral”. Pendekatan tersebut dianggap sudah tidak relevan, sehingga diperlukan perubahan sistemik menuju pola “kelola sampah” yang terukur, terpantau, dan berkelanjutan. Pemerhati lingkungan yang dikenal sebagai Masyus menyampaikan, ada lima langkah teknis utama […]

expand_less