Breaking News
light_mode

“Bebeke Putih Jambul” Jadi Tamparan Keras untuk Pemimpin Bali, Dewa Sudarsana Sebut Gaya Kepemimpinan Rahwana

  • account_circle Admin
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Pengamat politik budaya Bali, I Dewa Putu Sudarsana, melontarkan kritik tajam terhadap pola kepemimpinan Bali yang dalam hal ini bisa saja ditujukan kepada manuver sejumlah pihak dalam polemik kerja Pansus TRAP DPRD Bali yang belakangan menuai sorotan publik.

Menurutnya, langkah-langkah yang dilakukan dengan cara-cara demonstratif, termasuk aksi penyegelan dan tekanan di ruang publik, justru berpotensi keluar dari koridor kewenangan dan mengarah pada abuse of power apabila tidak dilakukan sesuai prosedur hukum yang benar.

Dewa Sudarsana menegaskan, mencari kebenaran tidak boleh dilakukan dengan cara yang melanggar aturan. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk “mabener-beneran”, yakni sikap merasa paling benar meski menggunakan cara yang keliru.

“Menegakkan kebenaran dengan cara yang tidak benar itu sama saja menghalalkan segala cara. Secara etika maupun hukum, itu menyalahi prosedur formil. Kebenaran substansial tidak bisa ditegakkan dengan tindakan yang melanggar hukum,” tegasnya, Selasa, 5 Mei 2026, melalui pesan aplikasi.

Ia bahkan menyindir keras pola kepemimpinan yang menurutnya mulai menjauh dari nilai-nilai luhur kepemimpinan Bali dan ajaran Hindu.

Dalam pandangannya, sebagian pemimpin saat ini lebih sibuk membangun kegaduhan di media sosial dibanding memberi keteladanan moral kepada masyarakat.

Kwar-kwer (berisik / gaduh) di media sosial, teriak-teriak mencari sensasi sesaat. Setelah gaduhnya hilang, apa yang tersisa? Yang kemarin ditenpat lain teriak itu sudah jadi apa? Menghilang? Atau sudah dibuka garis segelnya? ”

“Pemimpin seharusnya membawa kemakmuran dan keteduhan, bukan kemarahan dan kegaduhan,” ujarnya.

Sudarsana kemudian mengaitkan kondisi itu dengan tokoh Rahwana dalam epos Ramayana. Menurutnya, karakter pemimpin pemarah, penuh ego, dan merasa paling benar merupakan cerminan kepemimpinan yang jauh dari ajaran Asta Brata, delapan sifat utama kepemimpinan dalam filsafat Hindu.

Ia menyebut pemimpin yang melupakan dharma hanya akan melahirkan ketakutan dan konflik di tengah masyarakat.

Tan hana dharma mangrwa. Tidak ada kebenaran yang mendua atau tiada dharma yang mendua,” katanya.

Dalam kritiknya, Sudarsana juga mengangkat kembali tembang dolanan Bali “Bebeke Putih Jambul” yang menurutnya sarat pesan spiritual dan filosofi kepemimpinan. Lagu yang kerap dinyanyikan orang tua Bali kepada anak-anak itu disebut bukan sekadar permainan masa kecil, melainkan warisan nilai moral bagi calon pemimpin.

“Bebeke Putih Jambul,

Makeber Ngajekanginang,

Teked Kaje Kangin,

Ditu Tuun Jak Mekejang,

Briak-Briuk Mesilemang,

Jak Mekejang.”

Menurut Sudarsana, “Bebeke Putih Jambul” melambangkan kesucian niat dan kebijaksanaan seorang pemimpin. Sementara arah “kaje kangin” atau timur laut dimaknai sebagai simbol pencarian cahaya pengetahuan dan spiritualitas.

“Kalau ilmu dan kebenaran sudah ditemukan, maka pemimpin harus turun ke masyarakat membawa kesejahteraan dan keteduhan. Bukan justru membawa amarah, tekanan, dan kegaduhan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan kisah “Pedanda Baka”, dongeng klasik tentang bangau yang berpura-pura suci demi memangsa ikan-ikan di kolam. Menurutnya, cerita itu relevan dengan situasi saat ini ketika ada pihak-pihak yang tampil seolah membela rakyat, namun sesungguhnya memiliki kepentingan lain.

“Pemimpin jangan menjadi Pedanda Baka, pura-pura menyelamatkan rakyat padahal ingin memangsa. Pada akhirnya kebohongan akan runtuh sendiri. Dharma tetap akan menang,” sindirnya.

Sudarsana menilai para pemimpin Bali saat ini mulai kehilangan makna filosofi budaya yang diwariskan leluhur. Ia mengingatkan bahwa tembang dolanan, kidung, hingga cerita rakyat Bali sejatinya adalah pendidikan moral yang harus dipahami oleh setiap pemegang kekuasaan.

“Leluhur Bali sudah menanamkan ajaran kepemimpinan sejak anak-anak lewat lagu dolanan. Tapi hari ini pemimpin justru lupa makna kesucian, lupa keteladanan, dan lupa bahwa kekuasaan itu untuk mengayomi,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Sudarsana mengajak seluruh pemimpin di Bali kembali pada nilai dharma, kebijaksanaan, dan ajaran Asta Brata agar tidak terjebak dalam politik pencitraan dan kekuasaan yang semu.

“Pemimpin sejati bukan yang paling keras berteriak, tetapi yang mampu membawa rakyat menuju terang,” pungkasnya.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sabha Pandita PHDI Semprot Keras Ketua Umum, Ungkap Dugaan Cacat Hukum dan Nepotisme dalam Pemilihan Rektor UNHI

    Sabha Pandita PHDI Semprot Keras Ketua Umum, Ungkap Dugaan Cacat Hukum dan Nepotisme dalam Pemilihan Rektor UNHI

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 14Komentar

    DENPASAR (30/10/2025) — Situasi internal Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) tengah bergolak. Surat terbuka yang dikeluarkan Sabha Pandita PHDI menjadi sorotan tajam publik setelah secara tegas menegur Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat terkait proses pemilihan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar yang dinilai sarat kejanggalan, cacat hukum, dan berpotensi disusupi kepentingan pribadi maupun keluarga. […]

  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 11Komentar

    JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Agama resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil dalam sidang isbat yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/2/2026). Sidang dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dan dihadiri tim Hisab dan Rukyat Kemenag, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, serta para duta besar negara […]

  • Indomobil Emotor Luncurkan Tyranno, Motor Listrik Bergaya Adventure Dibanderol Rp25,9 Juta Play Button

    Indomobil Emotor Luncurkan Tyranno, Motor Listrik Bergaya Adventure Dibanderol Rp25,9 Juta

    • calendar_month 3 jam yang lalu
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pasar kendaraan listrik di Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran motor listrik terbaru dari Indomobil Emotor⁠. Perusahaan tersebut resmi meluncurkan Tyranno, skuter listrik bergaya dual purpose yang dirancang untuk penggunaan harian hingga kebutuhan bertualang di berbagai medan. CEO Indomobil Emotor⁠ Internasional, Pius Wirawan, mengatakan peluncuran Tyranno menjadi langkah penting perusahaan dalam menghadirkan kendaraan listrik […]

  • KFC Indonesia Masih Tertekan di 2025, Rugi Menyusut Namun Beban Utang dan Keraguan Auditor Membayangi

    KFC Indonesia Masih Tertekan di 2025, Rugi Menyusut Namun Beban Utang dan Keraguan Auditor Membayangi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Mataram – Kinerja PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang lisensi KFC di Indonesia, sepanjang tahun buku 2025 masih menghadapi tekanan berat. Meski mencatat perbaikan pada rugi bersih, perusahaan belum mampu keluar dari zona kerugian operasional di tengah stagnasi pendapatan dan meningkatnya beban utang. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, FAST membukukan rugi bersih sebesar Rp369 miliar, […]

  • Tutur Ayu, Jejak Pengabdian Tiga Guru Seni dalam Pameran di Santrian Gallery

    Tutur Ayu, Jejak Pengabdian Tiga Guru Seni dalam Pameran di Santrian Gallery

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 0Komentar

    DENPASAR – Tiga seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam kelompok Soko Guru menggelar pameran seni bertajuk “Tutur Ayu” di Santrian Gallery. Pameran ini menampilkan karya-karya I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha, tiga guru seni yang telah memasuki masa pensiun namun tetap melanjutkan pengabdian melalui karya seni. “Pameran ini menjadi ruang ekspresi […]

  • Aturan WhatsApp Call Dinilai Mundur dan Komersial

    Aturan WhatsApp Call Dinilai Mundur dan Komersial

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wacana pengaturan layanan panggilan suara dan video melalui aplikasi seperti WhatsApp oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memantik kontroversi di ruang publik. Rencana ini disebut-sebut demi keadilan bagi operator seluler, namun banyak pihak menilai arah kebijakan ini lebih condong pada kepentingan ekonomi semata dibanding kemaslahatan publik. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Komdigi, […]

expand_less