Seba Baduy 2026! Ribuan Warga Kanekes Tempuh Jalan Kaki, Bawa Pesan Syukur dan Harmoni ke Pendopo Lebak hingga Serang
- account_circle Admin
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

Sumber website Mongabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lebak — Dentingan lembut Angklung Buhun kembali akan menggema di Tanah Banten. Tradisi sakral Seba Baduy dipastikan digelar pada 23–26 April 2026, dengan melibatkan sekitar 2.000 warga adat dari wilayah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Ribuan warga Baduy, yang terdiri dari kelompok Baduy Dalam dan Baduy Luar, akan berjalan kaki menempuh perjalanan panjang melintasi hutan dan perkampungan. Mereka membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas panen sekaligus bentuk penghormatan kepada pemerintah daerah.
Plt. Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Iwan Setiawan, memastikan seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara matang, termasuk koordinasi pengamanan dan logistik.
“Budaya Baduy akan menggelar Seba Baduy pada tanggal 23 sampai 26 April 2026. Ini adalah kepastian yang kami tunggu bersama,” ujar Iwan, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, rombongan akan terlebih dahulu menuju Pendopo Kabupaten Lebak untuk bertemu Bupati Lebak yang dalam tradisi setempat disebut “Bapak Gede”. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Serang untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Banten.
“Suku Baduy akan mendatangi Pendopo Kabupaten Lebak, kemudian dilanjutkan ke Pendopo Gubernur Banten,” katanya.
Ritual Syukur dan Loyalitas
Bagi masyarakat Kanekes, Seba Baduy bukan sekadar agenda budaya, melainkan ritual tahunan yang sarat makna spiritual. Tradisi ini menjadi wujud syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen, sekaligus simbol loyalitas kepada pemimpin pemerintahan.
Dalam prosesi tersebut, warga membawa berbagai hasil bumi seperti padi, palawija, madu, serta kerajinan tangan. Penyerahan dilakukan secara langsung dalam suasana khidmat, mencerminkan hubungan harmonis antara masyarakat adat dan pemerintah.
“Ini adalah ungkapan terima kasih atas hasil panen, sekaligus menyerahkan hasil bumi kepada Bapak Gede,” jelas Iwan.
Iringan Angklung Buhun
Sepanjang perjalanan, rombongan akan diiringi alunan Angklung Buhun—alat musik bambu tradisional yang hanya dimainkan pada momen sakral. Irama pentatonik yang dihasilkan menciptakan suasana magis sekaligus menjadi penyemangat bagi para peserta.
Tidak ada penggunaan pengeras suara modern dalam prosesi ini. Seluruh musik dihasilkan secara alami dari instrumen tradisional yang dibuat oleh masyarakat adat.
Imbauan untuk Pengunjung
Pemerintah daerah memperkirakan tradisi ini akan menarik perhatian masyarakat luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, pengunjung diimbau untuk tetap menghormati aturan adat yang berlaku.
Iwan mengingatkan agar pengunjung tidak sembarangan mengambil foto, khususnya terhadap warga Baduy Dalam, serta menjaga ketenangan selama prosesi berlangsung.
“Kehadiran masyarakat diharapkan tetap menghormati aturan adat dan menjaga kekhidmatan acara,” tegasnya.
Jadwal dan Rute
Tradisi Seba Baduy 2026 akan berlangsung selama empat hari, dimulai dari Desa Kanekes sebagai titik awal. Rute perjalanan mencakup Pendopo Kabupaten Lebak dan berlanjut ke Pendopo Gubernur Banten di Serang.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, Seba Baduy menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai tradisi di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar