Nuanu Perkuat Ekosistem Kreatif Lewat Music Residency, Satukan Musisi Dunia di Bali
- account_circle Admin
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

Para artis Nuanu Music Residency mengunjungi Art Village di Nuanu Creative City, sebagai bagian dari interaksi dengan ekosistem kreatif dan komunitas lokal. Kredit Foto: Nuanu Creative City
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Bali — Kawasan kreatif Nuanu Creative City kembali menunjukkan perannya sebagai pusat kolaborasi lintas disiplin dengan menghadirkan program Nuanu Music Residency yang berlangsung pada 6–11 April 2026. Program ini menjadi langkah strategis dalam mempertemukan musisi, produser, dan penulis lagu dari Indonesia dan berbagai negara dalam satu ruang kreatif yang terintegrasi.
Residency ini dirancang sebagai platform berkelanjutan, bukan sekadar program satu kali. Setiap edisi diharapkan menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi jangka panjang yang mampu membangun momentum kultural sekaligus memperluas jejaring industri musik global.
Direktur Brand and Communications Nuanu, Ida Ayu Astari Prada, menyebut program ini sebagai manifestasi nyata dari konsep “kota kreatif” yang diusung Nuanu. Menurutnya, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk mencipta, berkolaborasi, dan bertukar gagasan lintas budaya.
“Music Residency ini menghadirkan ruang di mana seniman internasional dan Indonesia dapat bertemu dan melahirkan karya baru bersama,” ujarnya.
Program selama sepekan ini menghadirkan sejumlah nama dari kancah global, seperti Keiynan Lonsdale, Caleb Tasker, hingga produser dari Bodega Records. Mereka berkolaborasi dengan musisi Indonesia, di antaranya Tenxi, Novia Bachmid, dan Young Lex.
Tenxi, yang dikenal lewat lagu viral “Garam & Madu” serta peraih AMI Awards 2025, mengungkapkan bahwa pengalaman dalam residency ini memberikan ruang eksplorasi yang berbeda dari proses kreatif pada umumnya.
“Di sini kami benar-benar menciptakan musik bersama dalam satu ekosistem yang hidup. Interaksi yang terjadi sangat mendorong kreativitas,” katanya.
Selain sesi penulisan lagu dan produksi musik, program ini juga diisi dengan berbagai aktivitas seperti makan malam bersama artis, masterclass, serta interaksi langsung dengan komunitas kreatif di dalam kawasan Nuanu. Publik pun diberi kesempatan untuk menyaksikan proses kreatif tersebut, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Perwakilan Bodega Records, Chris Siegfried, menilai kekuatan utama program ini terletak pada lingkungan yang mendukung kolaborasi organik.
“Ketika para kreator tinggal dan bekerja bersama, proses kreatif menjadi lebih alami dan menghasilkan karya yang autentik,” ujarnya.
Melalui program ini, Nuanu menegaskan posisinya sebagai ruang temu bagi pertukaran ide dan inovasi lintas negara. Lebih dari sekadar destinasi kreatif, Nuanu berupaya menjadi katalisator bagi lahirnya karya-karya baru yang mampu menembus pasar global.
Dengan luas kawasan mencapai 44 hektare, Nuanu Creative City mengusung konsep ekosistem terpadu yang mencakup seni, budaya, pendidikan, hingga gaya hidup berbasis alam.
Visi tersebut menjadikan Nuanu sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru industri kreatif di Bali.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar