Breaking News
light_mode

Lirik “Bangun Orang Waras”, Methosa Band Kritik Demokrasi Busuk hingga Nasib Rakyat Kecil

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Methosa Band menyuarakan kegelisahan sosial dan kritik keras terhadap kondisi bangsa melalui lagu berjudul “Bangun Orang Waras”. Lirik-liriknya tidak sekadar menjadi ekspresi musikal, melainkan potret tajam realitas politik, ekonomi, dan ketidakadilan struktural yang dirasakan masyarakat luas.

Seruan “bangun orang waras” yang berulang kali digaungkan menjadi simbol ajakan kesadaran kolektif. Methosa Band menilai demokrasi yang dijalankan hari ini telah kehilangan substansi. Frasa “demokrasi sudah basi, buah ini busuk tak ada nutrisi” menggambarkan sistem yang secara formal masih hidup, namun secara moral dan etika dianggap mati. Demokrasi dipersepsikan hanya menguntungkan segelintir elite, sementara rakyat sebatas objek.

Kritik juga diarahkan pada penegakan hukum. Kalimat “hukum memang buta tapi kenal transaksi” menuding praktik hukum yang tebang pilih dan mudah dikompromikan oleh uang serta kekuasaan. Hukum digambarkan tidak lagi berpihak pada keadilan, melainkan pada kepentingan ekonomi dan politik.

Nasib petani dan guru tak luput dari sorotan. Mahalnya pupuk disebut sebagai “modus” yang membuka jalan bagi impor beras, mencerminkan kebijakan yang merugikan petani lokal. Sementara guru digambarkan terus dipinggirkan melalui pengangkatan yang tak kunjung jelas dan gaji yang tetap rendah, seolah kemiskinan sengaja dipelihara dalam sektor pendidikan.

Isu perampasan ruang hidup masyarakat adat menjadi kritik paling keras dalam lagu ini. Lirik “hutan adat itu rumah kami dijual kini” merepresentasikan konflik agraria yang telah berlangsung lama. Tanah yang diwariskan ratusan tahun digambarkan berubah menjadi perkebunan sawit milik oligarki, menegaskan ketimpangan antara korporasi besar dan masyarakat adat yang kehilangan hak hidupnya. Methosa Band juga menyentil persoalan pengangguran dan buruh.

Pemuda dengan ijazah namun sulit mendapatkan pekerjaan, serta buruh yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarga, menjadi gambaran nyata ketimpangan ekonomi dan lemahnya perlindungan negara terhadap rakyat pekerja.

Secara keseluruhan, “Bangun Orang Waras” adalah lagu perlawanan. Methosa Band menggunakan musik sebagai medium kritik sosial, menyerukan agar masyarakat tidak lagi apatis, berani berpikir jernih, dan menyadari ketidakadilan yang dianggap telah dinormalisasi. Lagu ini menjadi alarm moral: bahwa diam berarti ikut membiarkan kebusukan terus berlanjut.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (15)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia-AS Sepakati Tarif Resiprokal 19%, Peluang Ekspor Terbuka, Industri Diminta Waspada

    Indonesia-AS Sepakati Tarif Resiprokal 19%, Peluang Ekspor Terbuka, Industri Diminta Waspada

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati penurunan tarif resiprokal atas produk Indonesia yang masuk ke pasar AS menjadi 19%, dari sebelumnya 32%. Sebagai imbal balik, Indonesia menghapus lebih dari 99% hambatan tarif bagi produk asal AS di berbagai sektor. Kesepakatan ini diteken oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Perwakilan Dagang AS Jamieson […]

  • Abrasi Ancam 30 Persen Garis Pantai Bali, Pemerintah Masih Berutang Penanganan 85 Kilometer

    Abrasi Ancam 30 Persen Garis Pantai Bali, Pemerintah Masih Berutang Penanganan 85 Kilometer

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    Megawati Soekarnoputri mendesak penanganan abrasi secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, peneliti, dan akademisi di tengah ancaman perubahan iklim. BADUNG – Ancaman abrasi pantai di Bali kian menjadi perhatian serius. Dari total garis pantai yang membentang lebih dari 1.300 kilometer, sekitar 30 persen dilaporkan terdampak abrasi. Pemerintah pun masih menghadapi pekerjaan rumah untuk menangani sekitar 85 […]

  • KSPN Bali Diterjang Proyek LNG, “Jukung” Nelayan Bisa “Leketik” Kena Ombak Kapal Besar 

    KSPN Bali Diterjang Proyek LNG, “Jukung” Nelayan Bisa “Leketik” Kena Ombak Kapal Besar 

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 5Komentar

    DENPASAR – Dugaan Kedok Normalisasi Tukad Ngenjung berujung terlihatnya ambisi investor membangun Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Liquefied Natural Gas (LNG) dengan membuat jalan masuk mencapai puluhan milyar rupiah yang ngotot hanya digunakan untuk Melasti, ternyata terbuka sudah ke publik. Dalam kutipan media, Koster menyebutkan keberadaan terminal LNG akan menjadi kunci bagi Bali untuk […]

  • 73 Kapal Pesiar Mewah Dijadwalkan Singgah di Pelabuhan Benoa pada 2026

    73 Kapal Pesiar Mewah Dijadwalkan Singgah di Pelabuhan Benoa pada 2026

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 12Komentar

    DENPASAR — Minat operator kapal pesiar dunia untuk masuk ke Bali terus meningkat. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mencatat sebanyak 73 kapal pesiar mewah telah mendaftar untuk singgah di Pelabuhan Benoa pada tahun 2026, seiring rampungnya pengembangan fasilitas di Bali Maritime Tourism Hub (BMTH). “Dari sisi fasilitas dan layanan, kami siap menjadi markas pelabuhan pariwisata,” kata […]

  • Siluman Pegunungan Tinggi, Jejak Tak Terlihat Sang Macan Tutul Salju

    Siluman Pegunungan Tinggi, Jejak Tak Terlihat Sang Macan Tutul Salju

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    DENPASAR – Di bentang alam pegunungan tinggi Asia, kehadiran macan tutul salju nyaris tak pernah terdeteksi. Predator langka ini bukan sekadar sulit ditemukan, melainkan seolah “dirancang” untuk menghilang di habitat alaminya. Dengan bulu abu-abu berasap yang dipenuhi pola roset, tubuhnya mampu menyatu sempurna dengan lanskap berbatu, salju, dan bayangan lereng pegunungan. Kamuflase alami ini berfungsi […]

  • Desa Serangan Bangkit Atasi Sampah Lewat Teba Modern & Angen Bali

    Desa Serangan Bangkit Atasi Sampah Lewat Teba Modern & Angen Bali

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Ray
    • 17Komentar

    DENPASAR – Desa Serangan kian meneguhkan diri sebagai pionir pengelolaan sampah berbasis sumber di Bali. Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi bersama PT Bali Turtle Island Development (BTID), warga pesisir ini tidak hanya menanggulangi persoalan sampah plastik dan organik, tetapi juga mengubahnya menjadi peluang ekonomi baru, 21 Agustus 2025. Sejak 2023, Desa Serangan bersama BTID […]

expand_less