Akun Literasi Dibredel, Jenderal Buku dan Gatra Dewata Jadi Sorotan
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Matinya kebebasan untuk menjadi cerdas dan penuh pengetahuan dari membaca, akun celotehan @jenderalbuku indonesia di bredel.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemilik akun meminta transparansi dari Meta Indonesia, sementara hilangnya kanal YouTube Gatra Dewata dinilai mempersempit ruang kritik, literasi, dan suara masyarakat marginal.
JAKARTA – Penonaktifan permanen akun Instagram Jenderal Buku memicu keprihatinan di kalangan pegiat literasi. Akun yang selama tiga tahun menjadi ruang berbagi rekomendasi buku, diskusi, dan edukasi tersebut tiba-tiba dinonaktifkan oleh Meta dengan alasan dugaan pelanggaran, namun tanpa penjelasan rinci mengenai bentuk pelanggaran yang dimaksud.
Pengelola akun, Natanael Katiandagho, mengaku kehilangan ruang yang selama ini dibangun melalui ribuan jam membaca, riset, produksi konten, hingga diskusi bersama komunitas literasi.

“Tiga tahun saya membangun Jenderal Buku dari nol. Ribuan jam saya habiskan untuk membaca buku, riset, membuat video, mengedit hingga larut malam, dan berdiskusi dengan begitu banyak teman yang mulai mencintai literasi melalui akun itu,” ujar Natanael.
Ia menegaskan, bagi dirinya akun tersebut bukan sekadar media sosial, melainkan wadah pengabdian untuk meningkatkan minat baca masyarakat serta membangun kepercayaan dengan berbagai penerbit dan komunitas literasi.
“Akun itu dinonaktifkan secara permanen oleh Meta atas dugaan pelanggaran. Sampai hari ini saya belum menerima bukti maupun penjelasan spesifik mengenai pelanggaran yang dimaksud. Saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk memberikan klarifikasi,” katanya.

Meski demikian, Natanael memastikan perjuangannya belum berakhir. Ia kini kembali melanjutkan aktivitas literasi melalui akun @natanaeljkatiandagho.
“Saya masih berjuang. Saya tidak menyerah. Saya hanya berharap ada pihak di Meta Indonesia yang bersedia memberi perhatian terhadap kasus ini, bukan demi saya, tetapi demi keadilan,” tegasnya.
Kasus tersebut memunculkan diskusi lebih luas mengenai transparansi platform digital dalam mengambil keputusan terhadap akun-akun yang berfokus pada edukasi, literasi, maupun penyampaian kritik sosial.
Sejumlah pegiat literasi menilai akun seperti Jenderal Buku memiliki peran penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap bacaan berkualitas dan meningkatkan budaya membaca di Indonesia.
Peristiwa ini juga mengingatkan pada hilangnya kanal YouTube Gatra Dewata, media yang selama ini dikenal aktif mengangkat isu-isu keadilan sosial, persoalan masyarakat marginal, serta berbagai kritik terhadap kebijakan publik.
Sejumlah pihak berharap platform digital menerapkan mekanisme penegakan aturan yang lebih transparan, akuntabel, dan memberikan ruang klarifikasi kepada pengelola akun sebelum menjatuhkan sanksi permanen. Mereka menilai kebebasan berekspresi, literasi, dan kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar