Ironi Jeruk RI! Produksi Melimpah, Impor Tembus 208 Ribu Ton
- account_circle Ray
- calendar_month 18 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Produksi Jeruk Indonesia Naik, tetapi Impor Masih Mendominasi dan Ekspor Tertinggal Jauh
DENPASAR – Indonesia kembali mencatatkan peningkatan produksi jeruk pada 2025. Namun di balik capaian tersebut, neraca perdagangan komoditas hortikultura ini masih menyisakan ironi. Meski menjadi salah satu produsen jeruk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia justru masih sangat bergantung pada pasokan jeruk dari luar negeri.
Data Statistik Hortikultura 2025 menunjukkan produksi jeruk nasional mencapai sekitar 2,46 juta ton pada 2025, meningkat dibandingkan 2,41 juta ton pada 2024. Kenaikan tersebut didorong bertambahnya jumlah tanaman yang menghasilkan hingga sekitar 13,65 juta pohon.


Produksi tertinggi terjadi pada triwulan II dengan volume mencapai 702,41 ribu ton. Jawa Timur masih menjadi lumbung jeruk nasional dengan produksi sekitar 1,17 juta ton atau hampir separuh dari total produksi Indonesia.
Posisi berikutnya ditempati Sumatera Utara dengan 356,55 ribu ton dan Kalimantan Barat sebesar 131,91 ribu ton.
Besarnya produksi tersebut belum mampu mengangkat posisi Indonesia sebagai eksportir utama jeruk. Sebaliknya, impor masih mendominasi perdagangan komoditas ini.

Produksi jeruk Foto: BPS
Sepanjang 2025, Indonesia mengimpor sekitar 208,47 ribu ton jeruk. Sementara volume ekspor hanya mencapai sekitar 1,90 ribu ton. Artinya, volume impor lebih dari 100 kali lipat dibandingkan ekspor.
Dari sisi nilai perdagangan, ketimpangan juga terlihat jelas. Nilai ekspor jeruk Indonesia pada 2025 tercatat sekitar US$1,38 juta atau turun 1,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor melonjak menjadi sekitar US$384,80 juta, meningkat 28,71 persen dibandingkan 2024.
Mayoritas perdagangan masih didominasi jeruk segar. Volume ekspor jeruk segar mencapai sekitar 1.439 ton, sedangkan produk olahan sekitar 461 ton. Di sisi lain, impor jeruk segar mencapai 185.761 ton, jauh lebih tinggi dibandingkan produk olahan yang mencapai sekitar 22.711 ton.
Di pasar domestik, permintaan terhadap jeruk juga masih sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga pada 2025 mencapai sekitar 1,46 juta ton, meningkat setelah sempat mengalami penurunan pada 2023.

Negara tujuan ekspor dan asal impor jeruk Foto: BPS
Besarnya pasar dalam negeri membuat hasil panen nasional sebagian besar terserap untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Namun kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa produk jeruk lokal masih harus bersaing dengan buah impor di pasar sendiri.
Selama lima tahun terakhir, tren impor selalu berada jauh di atas ekspor, baik dari sisi volume maupun nilai perdagangan. Kondisi ini menjadi indikator bahwa tantangan industri jeruk nasional tidak lagi hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kualitas, efisiensi distribusi, standar mutu, serta daya saing agar mampu menembus pasar ekspor.

Dengan produksi yang terus bertambah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Namun tanpa peningkatan daya saing dan penguatan rantai pasok, potensi tersebut diperkirakan masih sulit dikonversi menjadi peningkatan ekspor yang signifikan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar