Dari Wangsit Menjadi Karya, Made Wiradana Tuangkan Pengalaman Spiritual dalam Pameran “KACATRI” di Sanur
- account_circle Ray
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Pameran tunggal “KACATRI” karya perupa Bali, Made Wiradana. Digelar di Satrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan Nomor 47, Sanur.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Terinspirasi mimpi bertemu orang tua yang telah wafat, 20 lukisan terbaru Made Wiradana mengangkat simbol spiritual, rerajahan, dan tradisi Bali dalam balutan seni kontemporer.

DENPASAR – Pengalaman spiritual yang mendalam menjadi titik awal lahirnya pameran tunggal “KACATRI” karya perupa Bali, Made Wiradana. Digelar di Satrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan Nomor 47, Sanur, pameran yang dibuka pada Jumat (10/7/2026) ini menghadirkan 20 karya lukisan terbaru yang memadukan narasi spiritual, simbol tradisi, serta eksplorasi visual khas sang seniman.

Made Wiradana mengungkapkan, seluruh karya dalam pameran tersebut berangkat dari pengalaman batin yang dialaminya pada 2024. Dalam mimpinya, ia mengaku bertemu kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia dan menerima pesan agar melanjutkan tradisi keluarga sebagai seorang pemangku melalui pengabdian atau ngayah.
“Karya-karya ini berawal dari mimpi saya pada tahun 2024. Saya bertemu kedua orang tua saya yang sudah meninggal dan mereka memberikan wangsit agar saya ngayah serta meneruskan tradisi keluarga menjadi pemangku,” ujar Made Wiradana saat pembukaan pameran.

Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang sarat simbol dan makna. Dominasi warna hitam dan putih menjadi ciri utama sejumlah lukisan sebagai representasi nilai-nilai spiritual yang erat kaitannya dengan tradisi Bali, terutama simbol rerajahan.
Menurutnya, penggunaan warna gelap bukan sekadar pilihan estetika, tetapi memiliki keterkaitan dengan karakter simbol-simbol spiritual yang diangkat dalam karya.
“Rerajahan identik dengan warna gelap,” katanya.

Meski demikian, Made Wiradana tetap menyisipkan warna-warna lain pada beberapa lukisan sebagai aksen visual. Kehadiran warna tersebut dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan komposisi sekaligus memperkuat karakter masing-masing karya.
“Karakter rerajahan memang banyak menggunakan warna hitam, tetapi saya tambahkan warna lain pada beberapa karya sebagai aksen,” jelasnya.
Melalui pameran “KACATRI”, Made Wiradana tidak hanya menampilkan kemampuan eksplorasi artistik, tetapi juga menghadirkan refleksi atas perjalanan spiritual dan warisan budaya yang terus hidup dalam proses kreatifnya. Unsur figuratif berpadu dengan simbol-simbol religius, menjadikan setiap lukisan sebagai ruang dialog antara pengalaman pribadi, kepercayaan, dan tradisi Bali.

Pameran ini dibuka secara resmi oleh I Made Bandem, sedangkan teks kuratorial dan catatan pameran disusun oleh Made Susanta Dwitanaya untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai konsep dan gagasan di balik karya-karya yang dipamerkan.

I Made Bandem.
Pameran “KACATRI” berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dan terbuka untuk masyarakat umum. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus memperkuat interaksi antara seniman, penikmat seni, dan masyarakat dalam mendorong perkembangan seni rupa kontemporer di Bali.

Selain menjadi ajang presentasi karya terbaru Made Wiradana, pameran ini juga menegaskan bahwa pengalaman spiritual dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat dalam melahirkan karya seni yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan pesan budaya, tradisi, dan perenungan yang mendalam.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar