Breaking News
light_mode

Jika Gedung Setinggi 45 Meter Berdiri di Bali, Apa yang Akan Terjadi?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si.

DENPASAR – Wacana pembangunan gedung komersial dengan ketinggian hingga 45 meter di Bali kembali memantik perdebatan. Di tengah kebutuhan investasi dan pembangunan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar yang tidak bisa diabaikan: apakah Pulau Bali memiliki daya dukung yang cukup untuk menanggung konsekuensi dari pembangunan berskala raksasa tersebut?

Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si., mencoba menjawab pertanyaan itu melalui sebuah simulasi teknis. Hasilnya menghadirkan gambaran yang mengejutkan.

Menurut Jondra, jika gedung setinggi 45 meter dibangun di atas 10 persen lahan reklamasi Pulau Serangan yang luasnya sekitar 435 hektare, maka luas tapak bangunan akan mencapai sekitar 43,5 hektare atau setara 435.000 meter persegi.

Dengan asumsi tinggi setiap lantai sekitar 3,5 meter, bangunan tersebut dapat memiliki sekitar 13 lantai. Artinya, total luas lantai yang tercipta mencapai sekitar 5,65 juta meter persegi.

“Ini bukan lagi skala sebuah gedung biasa. Secara fungsional dampaknya setara dengan sebuah kota baru,” ujar Jondra.

Setengah Juta Orang dalam Satu Kompleks

Jika digunakan sebagai kawasan komersial campuran yang terdiri atas pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, dan fasilitas pendukung lainnya, kompleks tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 471.250 orang pada saat bersamaan.

Jumlah itu mendekati setengah juta orang, atau setara populasi sebuah kota menengah di Indonesia.

Besarnya aktivitas manusia di dalam kawasan itu otomatis memunculkan kebutuhan infrastruktur yang sangat besar, mulai dari listrik, air bersih, pengelolaan limbah, transportasi, hingga pengolahan sampah.

Kebutuhan Listrik Setara Tiga Kali PLTG Pesanggaran

Dalam simulasi yang dilakukan, kebutuhan listrik bangunan diperkirakan mencapai 565 megawatt (MW).

Sebagai perbandingan, angka tersebut hampir tiga kali lipat kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggaran yang memiliki daya sekitar 200 MW.

Kebutuhan energi itu bahkan belum memasukkan fasilitas tambahan seperti instalasi pengolahan limbah, pengolahan air bersih, maupun sistem pendukung lainnya.

Selain itu, untuk menjaga kenyamanan bangunan di iklim tropis Bali, kebutuhan pendinginan atau air conditioning (AC) diperkirakan mencapai sekitar 240.000 ton refrigerasi (TR), angka yang menunjukkan besarnya konsumsi energi yang harus disediakan.

Air Bersih, Dari Mana Sumbernya?

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kebutuhan air bersih.

Dengan asumsi konsumsi rata-rata 200 liter per orang per hari, kawasan tersebut membutuhkan sekitar 94.250 meter kubik air setiap hari.

Jika dikonversi menjadi debit aliran, maka diperlukan pasokan air sekitar 1.090 liter per detik secara terus-menerus.

Menurut Jondra, angka tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai sumber pasokan air.

“Airnya dari mana? Apakah dari Danau Batur atau Danau Beratan? Apakah sumber air yang ada mampu memasok kebutuhan sebesar itu?” ujarnya.

Limbah Setara Dua Kali Kapasitas IPAL Suwung

Bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan air bersih, volume limbah cair yang dihasilkan juga sangat besar.

Dengan asumsi 85 persen air yang digunakan berubah menjadi limbah, maka kawasan itu berpotensi menghasilkan sekitar 80.112 meter kubik air limbah setiap hari.

Volume tersebut bahkan melebihi kapasitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Suwung yang saat ini dirancang sekitar 51.000 meter kubik per hari.

Artinya, dibutuhkan fasilitas pengolahan limbah setara dua kali kapasitas IPAL Suwung hanya untuk melayani satu kawasan pembangunan tersebut.

Emisi Karbon dan Kebutuhan Hutan Penyerap

Dari sisi lingkungan, simulasi menunjukkan potensi emisi karbon yang sangat besar.

Konsumsi listrik dan aktivitas manusia di kawasan tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 4,64 juta ton karbon dioksida (CO₂) setiap tahun.

Jika menggunakan asumsi kemampuan serapan hutan tropis sebesar 10 ton CO₂ per hektare per tahun, maka diperlukan sekitar 415.000 hektare hutan untuk menyerap emisi tersebut.

Luas itu setara sekitar 4.150 kilometer persegi atau mendekati 80 persen luas daratan Pulau Bali yang mencapai sekitar 5.590 kilometer persegi.

“Ini menunjukkan betapa besarnya jejak lingkungan yang harus diperhitungkan,” kata Jondra.

Sampah Hampir 500 Ton per Hari

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan sampah.

Dengan asumsi setiap orang menghasilkan satu kilogram sampah per hari, maka timbulan sampah dari kawasan tersebut diperkirakan mencapai 471 ton per hari.

Jumlah itu setara dengan beban harian yang harus ditangani oleh sistem pengelolaan sampah yang saat ini masih menjadi tantangan besar bagi Bali.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah ke mana sampah sebanyak itu akan dibuang dan bagaimana sistem pengolahannya disiapkan.

Perlu Kajian Daya Dukung Bali

Jondra menegaskan bahwa seluruh angka tersebut masih merupakan simulasi awal berbasis asumsi teknis dan perlu diverifikasi melalui kajian yang lebih mendalam oleh berbagai disiplin ilmu.

Namun demikian, simulasi tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan gedung tinggi di Bali tidak dapat dilihat semata-mata dari sisi investasi atau estetika pembangunan.

Menurutnya, analisis daya dukung dan daya tampung lingkungan harus menjadi dasar utama sebelum keputusan pembangunan diambil.

“Ini baru dari aspek teknis. Belum menyentuh dampak kependudukan, keamanan, sosial, budaya, dan agama yang juga sangat penting bagi Bali,” tegasnya.

Karena itu, setiap wacana pembangunan gedung komersial setinggi 45 meter di Bali, baik di kawasan Pulau Serangan maupun lokasi lain, memerlukan kajian yang komprehensif, transparan, dan melibatkan berbagai pihak agar pembangunan yang dilakukan tidak justru menjadi beban bagi masa depan Pulau Dewata.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (1)

  • 📈 + 2 BTC. WITHDRAW >> dc4958ca.giveaway-8y3.pages.dev/?hs=013bc56dc08ec1f6e340b241ae9e3479& 📈

    q1wyhf

    Balas23 Juni 2026 8:23 PM

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi Polri Soroti 3 Tahanan, Mahfud MD Desak Pembebasan

    Komisi Polri Soroti 3 Tahanan, Mahfud MD Desak Pembebasan

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    JAKARTA — Komisi Percepatan Reformasi Polri menyorot keras penangkapan tiga warga sipil yang dinilai janggal dalam kasus kerusuhan Agustus 2025. Anggota komisi, Mahfud MD, menegaskan bahwa negara tak boleh gegabah menetapkan tersangka tanpa pemeriksaan. Dari 1.038 orang yang ditahan, komisi memberi perhatian khusus pada tiga nama: Laras Faizati, eks pegawai AIPA, serta dua aktivis lingkungan […]

  • Purbaya Soroti Kualitas Buruk Sistem Coretax: “Selevel Anak SMA”

    Purbaya Soroti Kualitas Buruk Sistem Coretax: “Selevel Anak SMA”

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara blak-blakan mengkritik kualitas sistem pelaporan pajak Coretax yang selama ini dikeluhkan publik. Ia menyebut program tersebut dibangun dengan mutu yang sangat rendah, bahkan menilainya “setara hasil kerja anak SMA.” Purbaya mengaku telah membentuk tim ahli teknologi informasi untuk menelusuri akar persoalan dan memperbaiki sistem tersebut. Namun, langkah […]

  • 26 Tahun Sengketa Tanah Pura Dalam Balangan, Pengempon Pertanyakan Ketegasan Negara Usut Kasus Ini

    26 Tahun Sengketa Tanah Pura Dalam Balangan, Pengempon Pertanyakan Ketegasan Negara Usut Kasus Ini

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    BADUNG – Sengketa tanah yang melibatkan kawasan sakral Pura Dalam Balangan, Jimbaran, kembali mencuat setelah pengempon pura mempertanyakan lambannya penyelesaian kasus yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Kuasa hukum pengempon pura menilai negara seharusnya tidak kalah menghadapi dugaan praktik semacam ini, terutama ketika bukti-bukti hukum yang diajukan dinilai sangat kuat. Perkara ini berkaitan […]

  • Puputang Ratu Betara Bila Pemerintah Bali Gagal Tangani Kemacetan

    Puputang Ratu Betara Bila Pemerintah Bali Gagal Tangani Kemacetan

    • calendar_month Minggu, 13 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    Denpasar, 13 Juli 2025 — Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster, mengancam akan “memohon pada Ratu Betara” untuk turun tangan jika para pemimpin desa gagal kelola sampah, masyarakat Bali justru menanti pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah dunia nyata, kemacetan parah yang melumpuhkan kehidupan sehari-hari. Ironi mencolok terjadi di Bali. Ketika masalah kemacetan dari Canggu hingga Seminyak […]

  • Saling Fitnah Antar Shelter, Maria Tersenyum Ajak Kolaborasi dan Saling Bantu 

    Saling Fitnah Antar Shelter, Maria Tersenyum Ajak Kolaborasi dan Saling Bantu 

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Persaingan dalam mengurusi anjing liar terkadang tidak disangka – sangka menjadikan sebuah tantangan tersendiri, dari fitnah keji antara pemilik shelter dalam memperebutkan perhatian pendonor sampai tuduhan demi tuduhan soal penelantaran anjing dan yang tak berizin resmi. Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia melalui Maria Rini selaku pembina, menerangkan bahwa yayasannya tidak memiliki hubungan dengan […]

  • Pajak adalah Saham Rakyat, Bukan Zakat

    Pajak adalah Saham Rakyat, Bukan Zakat

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 7Komentar

    Oleh: Wilson Lalengke Jakarta – Belakangan ini, wacana tentang pajak kembali mencuat setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sejumlah kesempatan menyamakan pajak dengan zakat atau sumbangan masyarakat untuk negara. Pandangan ini adalah kekeliruan serius yang harus dikoreksi, diluruskan. Pajak bukanlah zakat. Pajak bukan pula sedekah, apalagi sumbangan sukarela. Pajak adalah saham rakyat yang ditanamkan kepada […]

expand_less