Starbucks Dibeli Perusahaan China, Boyu Capital Kuasai 60% Operasi di Negeri Tirai Bambu
- account_circle Admin
- calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Raksasa kopi dunia, Starbucks, resmi melepas kendali mayoritas bisnisnya di China. Perusahaan asal Amerika Serikat ini menjual 60% saham operasinya kepada Boyu Capital, perusahaan investasi asal China, dalam kesepakatan senilai US$4 miliar (sekitar Rp64 triliun). Langkah ini menjadi salah satu divestasi terbesar perusahaan global di pasar China dalam beberapa tahun terakhir.
Dikutip dari Reuters, dana segar dari Boyu Capital akan digunakan untuk mempercepat ekspansi dan meningkatkan efisiensi jaringan kedai Starbucks di China, yang kini merupakan pasar terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Saat ini, Starbucks memiliki sekitar 8.000 gerai dan menargetkan peningkatan jumlahnya menjadi lebih dari 20.000 dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam kesepakatan tersebut, Boyu akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 60%, sementara Starbucks tetap menguasai 40% saham dan mempertahankan hak lisensi merek serta kekayaan intelektualnya. Total nilai bisnis ritel Starbucks di China, termasuk hasil penjualan, saham yang dipertahankan, dan potensi pendapatan lisensi selama satu dekade, diperkirakan mencapai lebih dari US$13 miliar.
Langkah strategis ini diambil di tengah tekanan persaingan dari brand lokal seperti Luckin Coffee dan Cotti Coffee, yang menawarkan produk dengan harga lebih murah dan strategi pemasaran agresif. Berdasarkan data Euromonitor, pangsa pasar Starbucks di China anjlok dari 34% pada 2019 menjadi hanya 14% pada 2023.

CEO Starbucks, Brian Niccol, menyebut kemitraan dengan Boyu sebagai strategi untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar yang terus berubah. “China tetap menjadi pasar penting bagi Starbucks. Dengan dukungan Boyu, kami dapat memperluas jangkauan dan mempercepat inovasi,” ujarnya.
Boyu Capital, yang didirikan pada 2010, dikenal sebagai salah satu investor besar di sektor teknologi dan konsumen di China. Perusahaan ini juga tercatat memiliki investasi di Mixue Group dan jaringan ritel mewah SKP.
Analis menilai langkah Starbucks ini mirip dengan strategi McDonald’s, yang pada 2017 menjual mayoritas operasinya di China kepada konsorsium lokal, dan kemudian menikmati pertumbuhan pesat. Kini, Starbucks berharap Boyu dapat melakukan hal serupa—mendorong efisiensi dan memperluas jangkauan merek di kota-kota lapis kedua dan ketiga di seluruh China. (Tim)

Saat ini belum ada komentar