Rusia Klaim Jatuhkan F-16 Ukraina, Sinyal Keras di Tengah Perebutan Supremasi Udara
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Militer Rusia mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat yang dioperasikan Angkatan Udara Ukraina, sebuah peristiwa yang langsung menyita perhatian publik internasional. Klaim ini menjadi sorotan karena F-16 selama ini dipromosikan Kyiv dan sekutunya sebagai kekuatan kunci yang diharapkan mampu mengubah keseimbangan perang di udara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara di saluran televisi pemerintah Rusia, Russia 1. Seorang komandan pertahanan udara Rusia dengan nama sandi “Sever” mengatakan, unitnya menggunakan sistem rudal S-300 untuk melumpuhkan pesawat tempur canggih tersebut. Ia menyebut F-16 sebagai target paling menantang yang pernah dihadapi pasukannya.
Menurut Sever, operasi penembakan dilakukan dengan persiapan panjang dan pengamatan intensif. Dua rudal dilepaskan ke arah sasaran. Rudal pertama disebut merusak struktur pesawat, sementara rudal kedua menjadi hantaman penentu yang menyebabkan jet tersebut jatuh. “Kami sudah lama melacak dan mengantisipasi kemunculannya,” ujarnya kepada jurnalis Rusia, Vladimir Solovyov, seperti dikutip media Rusia, RT, Senin (12/1/2026).
Sever juga menanggapi anggapan bahwa F-16 merupakan pesawat yang nyaris tak tersentuh. Ia menyebut klaim tersebut berlebihan dan tidak sesuai kenyataan. Meski demikian, pihak Rusia tidak mengungkapkan waktu maupun lokasi pasti insiden penembakan tersebut.
Jika klaim ini benar, insiden tersebut menambah babak baru dalam konflik Rusia–Ukraina yang telah berlangsung sejak invasi skala penuh Moskow pada Februari 2022. Selama hampir empat tahun perang, Ukraina terus mendapatkan dukungan militer besar-besaran dari negara-negara Eropa dan anggota NATO untuk mempertahankan wilayah dan kedaulatannya.
Ukraina mulai menerima jet tempur F-16 pada Agustus 2024 setelah melalui proses lobi panjang dengan sekutu Barat. Berdasarkan laporan Business Insider, hingga kini Kyiv telah menerima sekitar 44 unit F-16 dari total 87 unit yang dijanjikan oleh negara-negara Eropa seperti Belanda, Denmark, dan Norwegia. Sebelumnya, Ukraina telah mengonfirmasi kehilangan empat unit F-16 dalam berbagai misi tempur.
Bagi Kyiv, F-16 dipandang sebagai elemen krusial untuk menantang dominasi udara Rusia yang telah terasa sejak awal perang. Namun, di tengah risiko kehilangan pesawat, Ukraina dilaporkan tetap melanjutkan upaya memperkuat armada udaranya. Pemerintahan Presiden Volodymyr Zelensky disebut tengah menjajaki kemungkinan pembelian hingga 100 jet tempur tambahan dari Prancis sebagai langkah memperkokoh pertahanan udara menghadapi serangan Rusia yang semakin intensif.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perebutan supremasi udara masih menjadi medan krusial dalam konflik Rusia–Ukraina, dengan setiap klaim keberhasilan atau kehilangan membawa dampak besar, baik secara militer maupun psikologis.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar