MENUNGGU JANJI DI UTARA BALI! Kaleidoskop Perjalanan PT BIBU Panji Sakti 2025 dan Harapan Realisasi Bandara Internasional Bali Utara
- account_circle Ray
- calendar_month Rabu, 31 Des 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SINGARAJA, BALI -Tahun 2025 menandai fase krusial dalam perjalanan panjang mewujudkan Bandara Internasional Bali Utara (North Bali International Airport). Bagi PT BIBU Panji Sakti, tahun ini bukan sekadar deret penandatanganan nota kesepahaman (MoU), melainkan tahun konsolidasi visi – ketika gagasan, komitmen kebijakan, dukungan investor, dan suara masyarakat Bali bertemu dalam satu simpul sejarah.
Bandara Bali Utara bukan proyek baru yang lahir dari euforia sesaat. Ia adalah jawaban atas ketimpangan struktural pembangunan Bali yang selama puluhan tahun terlalu berat di wilayah selatan – Badung, Denpasar, dan sekitarnya – sementara Bali Utara (Buleleng dan kawasan sekitarnya) tertinggal dari sisi akses, investasi, dan kesempatan ekonomi.
Masuknya proyek ini ke dalam Peraturan Presiden tentang RPJMN 2025–2029 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengubah statusnya dari sekadar wacana menjadi agenda nasional. Sejak saat itu, publik Bali, khususnya Bali Utara, menunggu satu hal: realisasi nyata.
Ketimpangan Bali: Masalah Lama yang Tak Lagi Bisa Ditunda
Data pariwisata dan ekonomi Bali selama bertahun-tahun menunjukkan pola yang timpang. Lebih dari 70 persen aktivitas pariwisata internasional terpusat di Bali Selatan, didukung oleh Bandara I Gusti Ngurah Rai yang sudah mendekati batas kapasitas. Sebaliknya, Bali Utara – yang memiliki bentang alam, potensi agro-maritim, dan pelabuhan strategis – belum mendapatkan infrastruktur konektivitas udara yang memadai.
Bandara Internasional Bali Utara dirancang untuk memecah konsentrasi pertumbuhan, membuka pusat-pusat ekonomi baru, serta menciptakan keseimbangan sosial-ekonomi antara utara dan selatan. Dalam konteks inilah proyek ini menjadi lebih dari sekadar bandara – ia adalah instrumen pemerataan.

Pengamat ekonomi Prof. Dr. Ichsanuddin Noorsy menempatkan proyek ini dalam kerangka yang lebih luas: kepastian kebijakan dan keberanian negara menegakkan keputusan strategis.
“Perpres RPJMN itu mengikat. Tidak boleh ada ego sektoral yang menabrak keputusan Presiden. Bandara Bali Utara adalah instrumen pemerataan ekonomi dan keadilan pembangunan.”
Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik atas tarik-menarik wacana yang kerap membingungkan publik dan investor. Bagi Noorsy, ketidakjelasan hanya akan menggerus kepercayaan pasar dan masyarakat.
Bandara sebagai Hub Kargo Indonesia Timur
Yang kerap luput dari diskursus publik adalah dimensi logistik dan kargo dari Bandara Bali Utara. Sejak awal, PT BIBU Panji Sakti merancang bandara ini bukan hanya untuk penumpang, tetapi sebagai hub kargo strategis Indonesia Timur.
Letaknya yang menghadap langsung ke jalur pelayaran dan kawasan produksi di Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua menjadikan Bali Utara ideal sebagai:
1. Pusat ekspor ikan segar dan beku dari perairan timur Indonesia
2. Gerbang hortikultura tropis (buah, sayur, tanaman bernilai tinggi)
3. Node logistik cepat untuk komoditas perikanan, pertanian, dan UMKM daerah timur
Konektivitas udara kargo yang efisien akan memangkas waktu distribusi, menjaga kualitas produk, dan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Dengan demikian, Bandara Bali Utara berfungsi sebagai simpul rantai nilai nasional, bukan proyek regional semata.
MoU sebagai Arsitektur Ekosistem, Bukan Seremonial
Sepanjang 2025, PT BIBU Panji Sakti menandatangani sejumlah MoU strategis. Dalam naskah ini, penting ditegaskan: MoU-MoU tersebut membentuk ekosistem kebandaraan yang utuh, bukan sekadar simbol kerja sama.
1. Kemitraan Global (Australia–China–Indonesia)
Kolaborasi dengan konsorsium internasional menghadirkan:
o Desain bandara kelas dunia
o Teknologi konstruksi dan energi hijau
o Skema pembiayaan jangka panjang
Nilai investasi yang diproyeksikan mencapai sekitar Rp50 triliun, menunjukkan keseriusan dan daya tarik proyek ini di mata investor global.
2. Kolaborasi dengan BUMN Strategis
Keterlibatan PT Len Industri dan PT Dirgantara Indonesia memperkuat fondasi teknologi:
o Sistem navigasi dan elektronik bandara
o Potensi pengembangan MRO (Maintenance, Repair, Overhaul) pesawat
Ini menempatkan Bali Utara sebagai simpul industri dirgantara pendukung, bukan sekadar titik kedatangan.
3. Mobilitas Hijau dan Transportasi Bandara
MoU dengan PT Mobil Anak Bangsa menghadirkan ekosistem kendaraan listrik, menegaskan orientasi green airport yang sejalan dengan komitmen transisi energi nasional.

CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, merangkum arah besar ini dengan tegas.“Bandara Internasional Bali Utara kami rancang sebagai gerbang dunia yang modern, hijau, dan berakar pada budaya Bali. Ini bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi peradaban,” katanya
Tri Hita Karana: Infrastruktur yang Berjiwa Bali
Tidak kalah penting, bandara ini dirancang berlandaskan Tri Hita Karana—harmoni manusia, alam, dan spiritualitas. Pendekatan ini memastikan pembangunan tidak mencederai identitas Bali, tetapi justru memperkuatnya dalam format modern.

Marsekal TNI (Purn) Ida Bagus Putu Dunia, Komisaris PT BIBU, menegaskan dimensi strategis ini. “Bandara Bali Utara membuktikan bahwa teknologi tinggi dan kearifan lokal bisa berjalan seiring. Inilah wajah Bali masa depan,” katanya.
Suara dan Harapan Kolektif
Dukungan kuat juga datang dari penglingsir puri—termasuk dari Buleleng dan Blahbatuh—yang melihat bandara ini sebagai jalan keadilan sosial bagi Bali Utara. Melalui Paiketan Puri-Puri Se-Jebag Bali, mereka menyampaikan pesan moral kepada Presiden Prabowo agar janji negara diwujudkan dalam tindakan.
Pesan mereka sederhana namun dalam: warga Bali telah menunggu terlalu lama.
Saatnya Janji Menjadi Jejak Sejarah
Jika 2025 adalah tahun konsolidasi visi dan dukungan, maka tahun-tahun berikutnya harus menjadi fase eksekusi. Bandara Internasional Bali Utara menyentuh banyak kepentingan sekaligus: pemerataan pembangunan, keseimbangan sosial, ketahanan logistik nasional, daya saing ekspor Indonesia Timur, dan masa depan Bali yang lebih adil.
Kini bola ada di tangan negara
Presiden Prabowo Subianto memiliki kesempatan historis untuk menjadikan proyek ini bukan sekadar tercantum dalam Perpres, tetapi terukir sebagai warisan kepemimpinan – sebuah bandara yang membuka langit baru di utara Bali, dan membuka harapan baru bagi Indonesia.
Editor – Ray

Hi, all is going well here and ofcourse every one is sharing
data, that’s really excellent, keep up writing.
Here is my blog; roulette table hire
20 Januari 2026 10:32 AMYou really make it seem so easy with your presentation but
I find this topic to be really something that I think
I would never understand. It seems too complicated and very
broad for me. I’m looking forward for your next post, I’ll
try to get the hang of it!
My webpage More information, Otilia,
13 Januari 2026 4:27 AMStunning story there. What happened after?
Take care!
My web blog: Trang chủ 33win
11 Januari 2026 7:06 PMHowdy! This is kind of off topic but I need some advice from an established blog.
Is it very hard to set up your own blog? I’m not very techincal but I can figure things out pretty
quick. I’m thinking about setting up my own but I’m not sure where to start.
Do you have any points or suggestions? Thanks
my blog post :: ksalol 1mg
10 Januari 2026 8:31 PMhttps://shorturl.fm/GoXl6
1 Januari 2026 10:28 AM