Inklusivitas versus Filter Finansial! Bali Menguji Arah Baru Tata Kelola Pariwisata
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dr.(H.C.) Cipto Aji Gunawan
DENPASAR – Wacana penerapan syarat minimal saldo rekening atau bukti solvabilitas bagi wisatawan mancanegara yang hendak masuk ke Bali menandai babak baru dalam arah kebijakan pariwisata Indonesia.
Gagasan ini mencuat sebagai respons atas meningkatnya persoalan sosial dan keamanan yang belakangan kerap mencoreng citra Pulau Dewata, mulai dari fenomena wisatawan kehabisan bekal atau begpackers, praktik kerja ilegal, hingga tindak kriminal yang dipicu tekanan ekonomi selama berada di Bali.
Di satu sisi, kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah mitigasi risiko yang sah dan perlu. Negara memiliki hak berdaulat untuk mengatur syarat masuk orang asing demi menjaga ketertiban umum dan keamanan sosial. Bukti kemampuan finansial bukan semata soal nominal, melainkan jaminan bahwa wisatawan mampu membiayai hidupnya sendiri tanpa menjadi beban negara atau masyarakat lokal. Dalam perspektif keimigrasian, prinsip ini dikenal sebagai pencegahan public charge, praktik yang telah lama menjadi standar global.
Namun di sisi lain, wacana ini memantik perdebatan etis. Bali selama ini dikenal sebagai destinasi yang inklusif, terbuka, dan ramah bagi siapa pun. Kekhawatiran pun muncul bahwa penetapan ambang batas finansial yang kaku dapat bertentangan dengan prinsip inklusivitas sebagaimana tertuang dalam Global Code of Ethics for Tourism dari UN Tourism, bahkan berpotensi dituding sebagai bentuk segregasi kelas yang elitis dan merusak citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
Meski demikian, jika dilihat dari sudut pandang manajemen strategis pariwisata, filter finansial justru dapat dimaknai sebagai instrumen pengelolaan pengunjung yang rasional. Bali tengah berupaya keluar dari jerat pariwisata massal menuju pariwisata berkualitas atau high value tourism. Dalam kerangka ini, penyaringan berbasis kemampuan finansial berfungsi sebagai mekanisme seleksi alamiah untuk menata komposisi wisatawan, sekaligus mengendalikan daya dukung pulau yang semakin tertekan oleh lonjakan kunjungan yang tidak selalu sebanding dengan dampak ekonomi yang dihasilkan.
Narasi bahwa kebijakan ini bersifat “anti-turis” juga dapat dipatahkan dengan menengok praktik internasional. Bali sejatinya tidak sedang menciptakan kebijakan eksentrik, melainkan mengadopsi standar yang telah lama diterapkan oleh banyak negara dan destinasi pesaing. Di Eropa, kawasan Schengen mensyaratkan bukti dana tertentu bagi wisatawan. Spanyol, misalnya, menetapkan kewajiban memiliki sekitar 100 euro per hari selama masa tinggal. Australia pun mewajibkan bukti kecukupan dana bagi pemohon visa sebagai upaya mencegah pelanggaran izin tinggal.
Sementara itu, mekanisme pemeriksaan acak saat kedatangan juga lazim diterapkan. Thailand, yang memiliki karakteristik pariwisata serupa dengan Bali, memberlakukan ketentuan membawa uang tunai minimal bagi pemegang Visa on Arrival. Kebijakan ini berfungsi sebagai efek kejut untuk menghalau wisatawan bermodal nekat tanpa harus mencabut kebijakan bebas visa. Selandia Baru bahkan memberikan kewenangan penuh kepada petugas imigrasi untuk menolak masuk wisatawan yang tidak mampu menunjukkan akses dana yang memadai saat pemeriksaan di bandara.
Dengan demikian, rencana penerapan syarat rekening minimal di Bali memiliki pijakan yang kuat, baik dari sisi manajemen pariwisata maupun preseden global. Jika Uni Eropa menggunakan filter finansial untuk menjaga standar biaya hidup, dan Thailand memanfaatkannya untuk menertibkan perilaku wisatawan, maka Indonesia pun memiliki ruang diskresi yang sah untuk melakukan hal serupa.
Tantangan utamanya terletak pada aspek proporsionalitas dan implementasi. Kebijakan ini harus ditempatkan sebagai alat penyaring kualitas demi keberlanjutan pariwisata yang aman, tertib, dan bernilai ekonomi tinggi, tanpa menghilangkan wajah ramah Bali sebagai destinasi dunia.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar