Bijak Menyikapi Pujian dan Celaan, Pesan Keseimbangan dari Siddhartha Gautama
- account_circle Admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar — Di tengah derasnya arus opini publik dan dinamika sosial yang kian cepat, pesan tentang ketenangan batin kembali mengemuka. Ajaran klasik dari Siddhartha Gautama atau Buddha mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan diri, terutama saat menghadapi pujian maupun celaan.
Dalam kutipan yang kerap digaungkan, Buddha menekankan bahwa manusia tidak dapat menghindari penilaian dari orang lain. Pujian dan kritik akan datang silih berganti sebagai bagian dari kehidupan sosial. Namun, yang menjadi kunci bukanlah bagaimana mengendalikan penilaian tersebut, melainkan bagaimana meresponsnya.
Pesan tersebut menyoroti pentingnya mengembangkan pikiran yang tenang dan seimbang. Sikap ini dinilai mampu menjadi benteng dari gejolak emosional yang kerap muncul akibat apresiasi berlebihan maupun kritik yang menjatuhkan. Dalam perspektif ajaran Buddha, keterikatan pada pujian dapat menumbuhkan kesombongan, sementara keterpurukan akibat celaan dapat melemahkan mental.
Pengamat sosial menilai nilai-nilai ini tetap relevan di era modern, terutama di tengah masifnya penggunaan media sosial yang kerap memicu reaksi emosional instan. Banyak individu terjebak dalam kebutuhan akan validasi, sehingga mudah terpengaruh oleh opini publik.
“Ketika seseorang mampu berdiri di tengah—tidak terbuai pujian dan tidak runtuh oleh celaan—di situlah kekuatan sejati terbentuk,” ujar seorang praktisi meditasi di Denpasar.
Lebih jauh, keseimbangan batin juga dinilai berkontribusi terhadap kesehatan mental. Dengan tidak menggantungkan kebahagiaan pada penilaian eksternal, seseorang dapat membangun ketahanan diri yang lebih kokoh.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa ketenangan bukanlah kondisi tanpa gangguan, melainkan kemampuan untuk tetap stabil di tengah berbagai kondisi. Sebuah prinsip yang sederhana, namun memiliki dampak mendalam bagi kehidupan pribadi maupun sosial.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar