Dari Bali ke China, Kinara Sabet Gold Award dan 2nd Runner Up Asia All Star Festival 2026
- account_circle Admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Siswi SMPN 10 Denpasar itu sukses meraih Gold Award dan 2nd Runner Up di China. Didampingi sang ayah, Kinara membuktikan bakat muda Bali mampu bersinar di panggung internasional dan kini bersiap menuju Grandprix 2028.
DENPASAR – Prestasi membanggakan ditorehkan Sang Ayu Putu Kinaradewi Dharmaheswari, siswi kelas IX SMP Negeri 10 Denpasar, di panggung internasional. Remaja yang akrab disapa Kinara ini berhasil meraih Gold Award sekaligus 2nd Runner Up kategori musik dalam Grand Final Asia All Star Festival 2026 di Zhengzhou, Henan, China.
Kompetisi internasional tersebut berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Sais University Opera House. Ajang ini diikuti 71 partisipan, baik kategori solo maupun grup, yang berasal dari enam negara Asia, yakni Indonesia, China, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Tampil sebagai penyanyi solo kategori remaja dengan nomor kandidat T1-M9, Kinara membawakan lagu Flashlight milik Jessie J dengan aransemen musik baru.

Penampilan tersebut mengantarkannya meraih Gold Award dan posisi 2nd Runner Up kategori musik. Pencapaian ini sekaligus membuka kesempatan bagi Kinara untuk masuk dalam Team Elite Asia All Star dan dipersiapkan mengikuti ajang Grandprix 2028.
Keberhasilan Kinara memiliki makna tersendiri bagi Bali. Berdasarkan informasi dari komunitas seni House of Creative Artists (HOCA), Kinara merupakan satu-satunya peserta yang berasal dari Bali dalam kompetisi tersebut.
Prestasi ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi keluarga, tetapi juga bagi SMP Negeri 10 Denpasar, komunitas seni HOCA, Kota Denpasar, serta Indonesia di panggung internasional.
Perjalanan Kinara menuju kompetisi tersebut bermula ketika dirinya berhasil menjadi salah satu kandidat yang lolos dalam ajang Rising Star Asia All Star yang diselenggarakan di Denpasar pada November 2025.
Tiket menuju Grand Final menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri hampir satu tahun. Persiapan meliputi pemilihan lagu, penyusunan aransemen musik, latihan vokal, koreografi, hingga membangun kesiapan mental untuk tampil di panggung internasional.
Di balik pencapaian tersebut, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Kinara. Ayahnya, Sang Nyoman Wijaya Darma Dewa, mengungkapkan kebanggaan atas prestasi yang berhasil diraih putrinya.

“Prestasinya tentu sangat membanggakan kami sebagai orang tua dan banyak pihak lain yang selalu mensuport Kinara dalam tiap lomba dimanapun,” ungkap Sang Nyoman Wijaya Darma Dewa.
Ia menegaskan, dukungan keluarga terhadap minat dan bakat Kinara akan terus diberikan sesuai kemampuan. Menurutnya, masa anak-anak merupakan waktu penting untuk membangun langkah awal kehidupan dan mengembangkan potensi diri.
“Dukungan kami sebagai orang tua sudah kami pastikan akan penuh mendukungnya semampu yang kami bisa lakukan, karena ini memang waktunya anak-anak membangun langkah awal kehidupannya. Sementara orang tua kan sudah bisa dianggap lewat waktu 😁: jadi apapun yang disukai anak dalam hal ini Kinara, baik itu nyanyi, dance, akting, dan modeling, atau bahkan membaca puisi dll, pasti kami akan dukung sebatas kemampuan kami,” tuturnya dalam chat aplikasi elektronik, Rabu 4 November 2026.
Lebih jauh, Sang Nyoman mengungkapkan bahwa kemenangan bukanlah tujuan utama keluarga dalam mendampingi Kinara mengikuti berbagai perlombaan. Sejak putrinya mulai mengikuti kompetisi pada usia sekitar 10 tahun, keluarga selalu menanamkan pesan agar Kinara memberikan penampilan terbaik dan mampu membuat penonton menikmati setiap penampilannya.
“Tentang keberhasilan anak kami di Asia All Star Festival Grand Final 2027: pastinya kami sangat bangga sekali karena sudah berhasil sampai di posisi tersebut setelah melawan puluhan partisipan dari Indonesia dan juga negara Asia lainnya”
“Tentu piala bukan tujuan utama. Bagi kami, sejak pertama kali Kinara mulai ikut lomba di lingkup terkecil saat masih usia kelas 10 tahunan, kami selalu memberinya pesan, bernyanyilah sebagus yang bisa disajikan, karena siapaun yang ada dalam ruangan lomba ini harus dibuat senang dengan penampilanmu. Masalah nanti juri memberimu kemenangan di manapun posisinya itu hanyalah bonus dari upaya terbaik mu,” jelasnya.

Pendampingan keluarga juga dilakukan secara intensif menjelang kompetisi di China. Proses persiapan tidak hanya berfokus pada kemampuan vokal, tetapi juga pemilihan lagu, penggarapan musik, penampilan panggung, serta kesiapan mental menghadapi persaingan internasional.
“Perihal pendampingan sebelum Grand Final. Kami memilah dan memilih lagu yang dianggap cukup layak untuk disajikan saat waktunya tiba. Lalu mencoba mengaransemen ulang musik agar sesuai dengan yang direncanakan, dan terus memupuk semangatnya untuk selalu siap di atas panggung sebagai penyanyi yang mempersembahkan sajian terbaiknya kepada semua yang nantinya ada di dalam ruangan. Dan tentu latihan tanpa henti. Tentu dengan terus memberi suport agar mentalnya siap berlaga di kancah internasional,” papar Sang Nyoman.
Seluruh kebutuhan keberangkatan Kinara ke China, mulai dari biaya kompetisi, perjalanan, akomodasi hingga kebutuhan lainnya, ditanggung secara mandiri oleh kedua orang tuanya.
Dukungan juga datang dari pihak sekolah yang memberikan kesempatan kepada Kinara untuk mengikuti kompetisi melalui dispensasi pendidikan. Selain itu, terdapat kontribusi para pembimbing vokal, koreografer, desainer kostum panggung, arranger musik, serta komunitas seni HOCA yang turut menjadi ruang pengembangan bakatnya.
Bagi Kinara, bernyanyi bukan semata-mata tentang memenangkan perlombaan. Ia memiliki mimpi sederhana, yakni bisa bernyanyi di berbagai belahan dunia yang dapat dikunjunginya. Kompetisi menjadi ruang untuk mengukur hasil latihan, memperluas pengalaman, dan memberikan penampilan terbaik.
Kini, setelah membawa pulang penghargaan dari China, tantangan berikutnya telah menanti. Grandprix 2028 menjadi target yang mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Sang Nyoman pun memastikan pendampingan keluarga akan terus berlanjut untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
“Ini juga kamu akan lakukan untuk persiapan GRANDPRIX tahun 2028,” tegasnya.
Perjalanan Kinara menjadi gambaran bahwa prestasi internasional tidak selalu berawal dari panggung besar. Ada proses panjang, latihan tanpa henti, keberanian mengambil kesempatan, serta dukungan keluarga yang menjadi fondasi bagi seorang anak untuk mewujudkan mimpinya.
Dari Denpasar menuju Zhengzhou, Kinara telah membuktikan bahwa bakat muda Bali mampu bersaing di panggung Asia. Kini, Grandprix 2028 menjadi babak berikutnya dalam perjalanan mimpinya.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar