Bali Recycle Center Perkuat Bisnis Daur Ulang, Pendapatan Melonjak 200 Persen
- account_circle Admin
- calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
- print Cetak

Bali Recycle Center (BRC) menggelar Exhibition Day & Networking Luncheon di Aston Hotel & Convention Center, Denpasar, Jumat 16 Oktober 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Berawal dari gerakan bank sampah pada 2011, BRC kini memiliki 112 pelanggan, tujuh off-taker, dan jaringan 30 mitra pengumpul di sembilan kabupaten/kota di Bali.
DENPASAR — PT Bali Recycle Center (BRC) memperkuat ekosistem daur ulang di Bali melalui ekspansi usaha, pengembangan jaringan kemitraan, dan peningkatan kapasitas pengelolaan sampah. Transformasi bisnis tersebut mendorong pendapatan perusahaan meningkat hingga 200 persen, sekaligus memperluas kontribusinya dalam rantai pasok bahan baku daur ulang.
Direktur Utama PT Bali Recycle Center, Ni Wayan Riawati, mengatakan, perusahaan tersebut dibentuk untuk memperkuat keberlanjutan pengelolaan sampah yang sebelumnya dikembangkan melalui gerakan sosial berbasis masyarakat.
Inisiatif itu berawal dari kegiatan Yayasan Bali Wastu Lestari yang bekerja sama dengan Unilever Indonesia sejak 2011. Melalui program bank sampah, yayasan tersebut menjalankan edukasi, pendampingan masyarakat, pengumpulan sampah, hingga pemasaran material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Namun, menurut Riawati, gerakan sosial perlu didukung model bisnis yang kuat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan. Penguatan kelembagaan, penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), dukungan regulasi, pembiayaan, teknologi tepat guna, dan kepastian pasar menjadi faktor penting dalam pengembangan usaha.
“Pada akhir 2024, PT Bali Recycle Center resmi dibentuk untuk memperkuat pengelolaan Bank Sampah Induk Bali Wastu Lestari,” ujar Riawati dalam kegiatan Exhibition Day & Networking Luncheon BRC di Aston Hotel & Convention Center, Denpasar, Jumat (16/10/2026).
Memasuki awal 2025, BRC mengikuti program akselerasi dan lolos seleksi proyek Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM). Program ini diinisiasi Unilever Indonesia dan GIZ, berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, dengan pendampingan Ecoxyztem.
Melalui program tersebut, BRC memperoleh pendampingan mentor serta dukungan hibah untuk memperluas gudang dan menyediakan kendaraan operasional. Dukungan itu membantu perusahaan meningkatkan kapasitas layanan, memperluas jangkauan pelanggan, dan memperkuat kerja sama dengan mitra usaha.
Perusahaan melaporkan pendapatannya meningkat hingga 200 persen selama proses pengembangan tersebut. Selain memperluas layanan pengangkutan sampah dari unit-unit bank sampah, BRC juga memperkuat hubungan bisnis dengan mitra yang memiliki kebutuhan bahan baku daur ulang secara berkelanjutan.
Pada 2026, BRC memperluas lini usahanya dengan menyediakan sarana tempat sampah dan fasilitas pengolahan sampah organik. Produk tersebut dapat diakses pelanggan pemerintah melalui sistem e-katalog, sehingga membuka peluang pasar baru di luar layanan pengumpulan dan pemasaran material daur ulang.
BRC juga tercatat menjadi vendor Unilever Global untuk kegiatan pengumpulan sampah plastik. Saat ini, perusahaan bekerja sama dengan 30 mitra pengumpul yang terdiri atas bank sampah, tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (TPS3R), serta pemasok bahan baku bagi industri daur ulang di sembilan kabupaten/kota di Bali.
Head of Sustainability Unilever Indonesia, Maya Tamimi, mengatakan penguatan kapasitas pelaku usaha lokal merupakan bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
“Melalui program SULE-WM, kami berupaya mendukung pengusaha pengelolaan sampah lokal agar dapat meningkatkan kapasitas, memperkuat model bisnis, dan membangun jejaring yang dibutuhkan untuk berkembang secara berkelanjutan,” ujar Maya.
Ia menambahkan, rantai pasok yang kuat dan inklusif dibutuhkan agar pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi para pelakunya.
“Kami percaya bahwa rantai pasok pengelolaan sampah yang lebih kuat dan inklusif merupakan bagian penting dalam mendorong ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.
Riawati menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperluas dampak usaha pengelolaan sampah. Selain membangun jaringan dengan bank sampah dan pemasok material, BRC membuka peluang kerja sama dengan sektor perhotelan, restoran, dan kafe atau HORECA, serta berbagai industri lainnya.
Dukungan pemerintah juga dinilai berperan dalam memperluas akses kemitraan dan mendorong praktik pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Sejumlah pihak yang mendukung upaya tersebut antara lain Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali–Nusa Tenggara serta dinas lingkungan hidup di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.
Perwakilan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali–Nusa Tenggara, Arum Elvandari, mengapresiasi kontribusi BRC dalam mendukung pengelolaan sampah di Bali. Ia berharap perusahaan tersebut terus berkembang dan memperluas manfaatnya bagi lingkungan.
Dukungan serupa disampaikan Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Kecamatan Denpasar Timur–Denpasar Selatan, Viktor Andika Putra. Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak serta kesediaan untuk menerima masukan dan memperbaiki sistem pengelololaan yang telah berjalan.
Kebutuhan memperkuat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus Exhibition Day & Networking Luncheon yang diselenggarakan BRC. Kegiatan ini mempertemukan mitra yang telah bekerja sama dengan perusahaan dan calon mitra baru untuk membahas pemasaran material hasil pengolahan sampah, penguatan rantai pasok, peluang kerja sama dengan sektor HORECA dan industri, serta dukungan pemerintah dan komunitas lingkungan.
Selama satu tahun mengikuti program SULE-WM, BRC mencatat telah memiliki 112 pelanggan dan tujuh off-taker, yakni pihak yang menyerap atau membeli material hasil pengumpulan dan pengolahan sampah. Perusahaan juga melaporkan telah mengumpulkan sekitar 1.800 ton sampah plastik untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku daur ulang.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah berpotensi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang produktif ketika didukung kelembagaan, kapasitas operasional, akses pasar, dan jaringan kemitraan yang memadai.
Penguatan usaha seperti yang dilakukan BRC diharapkan dapat memperbesar penyerapan sampah plastik ke dalam rantai daur ulang, membuka peluang kerja ramah lingkungan, serta mendorong keterlibatan dunia usaha dan masyarakat dalam mewujudkan Bali yang lebih bersih dan lestari. (*)

Finally found a platform that doesn’t lag during peak hours. The game variety here is top notch. Highly recommend bddb89 for anyone looking for a bit of fun.
25 Oktober 2026 1:26 AMReally impressed with the security and the ease of depositing funds. It feels safe and professional which is all I care about. Check out cpc88login for a secure bet.
24 Oktober 2026 10:42 PM