Breaking News
light_mode

Trisno Nugroho Raih Gelar Doktor, Tawarkan Model REGENESIS Atasi Tekanan Overtourism Penglipuran

  • account_circle Ray
  • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Trisno Nugroho menilai pariwisata regeneratif tidak sekadar mempertahankan adat, lingkungan dan arsitektur tradisional, tetapi mendorong destinasi terus membaik melalui restorasi sosial-ekologis dan keterlibatan masyarakat.

DENPASAR – Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, menghadapi tantangan baru di tengah keberhasilannya menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Intensitas aktivitas pariwisata mulai memberikan tekanan terhadap daya dukung destinasi, mulai dari persoalan sampah, kapasitas kunjungan, potensi pencemaran hingga penataan kawasan hutan bambu.

Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang penelitian Trisno Nugroho dalam disertasinya berjudul “Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran Kabupaten Bangli Provinsi Bali”.

Trisno mempertahankan disertasinya pada Program Studi Doktor Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana. Ia tercatat sebagai Doktor Pariwisata ke-157 Universitas Udayana.

Penelitian tersebut berangkat dari sebuah paradoks. Penglipuran memperoleh manfaat ekonomi sekaligus pengakuan sebagai destinasi wisata, tetapi pertumbuhan aktivitas pariwisata pada saat yang sama menghadirkan tekanan sosial, budaya dan lingkungan.

Karena itu, keberhasilan sebuah desa wisata menurut penelitian tersebut tidak cukup diukur dari popularitas destinasi atau banyaknya wisatawan. Kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi, kehidupan sosial, budaya dan kondisi ekologis menjadi persoalan yang semakin penting.

Bukan Sekadar Konservasi

Salah satu pertanyaan penting dalam pengujian disertasi tersebut adalah mengenai perbedaan antara pelestarian atau konservasi dengan regenerasi.

Pasalnya, mempertahankan adat, lingkungan dan arsitektur tradisional Penglipuran pada dasarnya sudah merupakan bagian dari upaya konservasi. Namun, pendekatan regeneratif memiliki orientasi yang lebih jauh, yakni memastikan destinasi terus mengalami perbaikan dan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat serta lingkungan.

Trisno menjelaskan, regenerasi tidak berarti sekadar mempertahankan kondisi yang sudah ada. Destinasi harus terus diperbaiki, sementara masyarakat ditempatkan sebagai subjek yang menentukan arah perkembangan pariwisata di wilayahnya.

“Kalau regenerasi itu membuat lebih baik. Tetap ada wisatawan, tetapi lingkungan menjadi baik lagi, budayanya terus berkembang, anak-anak juga terus meneruskan di situ, kemudian masyarakatnya juga menikmati wisatawan itu,” ujar Trisno.

Menurutnya, masyarakat tidak semestinya hanya menjadi objek dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat harus memiliki posisi sebagai pelaku sekaligus pihak yang menentukan arah masa depan destinasi.

“Wisatawan itu masyarakat menjadi subjeknya, menjadi pelakunya, bukan menjadi objek. Masyarakatlah yang harus paham, tahu dan terlibat memberikan arah ke mana Penglipuran ke depannya,” katanya.

Trisno menilai masyarakat Penglipuran memiliki pengetahuan historis dan kultural yang tidak dapat digantikan oleh pihak luar. Pengetahuan mengenai sejarah, adat, gotong royong dan kehidupan sosial menjadi modal penting untuk menentukan bagaimana destinasi tersebut dikembangkan.

“Mereka yang tahu sejarah dan asal-usulnya, mereka yang menentukan bagaimana memelihara budaya dan adat serta mempertahankan gotong royong. Kita tidak bisa melakukan intervensi dari luar. Merekalah yang menentukan arah,” tegasnya.

Tantangan Overtourism

Dalam penelitiannya, Trisno menemukan sejumlah indikator pariwisata berkelanjutan di Penglipuran yang belum sepenuhnya tercapai.

Indikator tersebut mencakup pemerataan manfaat ekonomi, dampak sosial pariwisata, kondisi lingkungan saat ini maupun masa depan, pemenuhan kebutuhan wisatawan serta kualitas aktivitas wisatawan selama berada di destinasi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Penglipuran sebagai destinasi wisata tidak otomatis menjamin tercapainya seluruh aspek keberlanjutan.

Tekanan akibat meningkatnya aktivitas pariwisata justru membutuhkan pendekatan baru agar pertumbuhan destinasi tidak berhenti pada eksploitasi daya tarik yang sudah ada.

Dalam konteks tersebut, penelitian menemukan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai pariwisata regeneratif berpengaruh terhadap keterlibatan masyarakat.

Keterlibatan masyarakat kemudian memberikan pengaruh positif terhadap sebagian besar outcome pariwisata regeneratif, terutama keberlanjutan ekonomi lokal, pemberdayaan komunitas, pendidikan dan peningkatan kesadaran pengunjung serta dampak sosial pariwisata.

Namun, terdapat temuan penting lainnya. Keterlibatan masyarakat belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap aspek pemulihan dan konservasi lingkungan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat saja belum cukup untuk memastikan terjadinya pemulihan ekologis. Diperlukan tata kelola, indikator dan program restorasi lingkungan yang lebih terukur dan sistematis.

REGENESIS untuk Penglipuran

Berdasarkan berbagai temuan tersebut, Trisno merumuskan Model REGENESIS sebagai model transformasi Desa Wisata Penglipuran berbasis restorasi sosial-ekologis.

Model tersebut diarahkan untuk membawa destinasi keluar dari potensi stagnasi menuju fase rejuvenation atau peremajaan destinasi.

REGENESIS dibangun melalui enam pilar utama, yakni restorative, geo-ecological, net-positive, socio-cultural, integration, dan system.

Keenam pilar tersebut dirancang untuk bekerja secara terpadu, mulai dari pemeliharaan daya dukung lingkungan, penciptaan dampak positif bersih, penguatan masyarakat dan budaya lokal hingga pembangunan tata kelola pariwisata yang terintegrasi dan kolaboratif.

Pendekatan ini juga mengubah cara melihat posisi masyarakat dalam pembangunan pariwisata. Masyarakat bukan hanya penerima manfaat ekonomi, tetapi menjadi bagian penting dari proses transformasi destinasi.

“Kita tidak berharap Penglipuran mempunyai masalah. Kita berharap Penglipuran akan terus membaik, terus membaik dan terus membaik. Masyarakatnya juga sejahtera dan menikmati hasil dari pariwisata itu,” ujar Trisno.

Dengan demikian, pariwisata regeneratif yang ditawarkan dalam penelitian tersebut tidak diarahkan untuk menghentikan aktivitas wisata di Penglipuran. Sebaliknya, aktivitas pariwisata tetap dapat berjalan dengan paradigma yang menempatkan pemulihan lingkungan, penguatan budaya, kesejahteraan masyarakat dan tata kelola destinasi sebagai bagian dari tujuan utama.

Pendekatan tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa masa depan Penglipuran tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang, tetapi oleh seberapa mampu destinasi tersebut memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan yang menopangnya.

Disertasi Trisno Nugroho dengan demikian menawarkan pergeseran paradigma: dari sekadar menjaga Penglipuran agar tidak rusak, menjadi membangun sistem yang membuat Penglipuran terus pulih, berkembang dan menjadi lebih baik.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia di Pusat Peta Emas Dunia, Cadangan Raksasa Terbentang dari Papua hingga Sumatra

    Indonesia di Pusat Peta Emas Dunia, Cadangan Raksasa Terbentang dari Papua hingga Sumatra

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama emas dunia. Dengan cadangan yang secara konsisten menempatkan Indonesia dalam lima besar global, kekayaan emas Nusantara terbentang luas dari Papua hingga Sumatra, dikendalikan kuat oleh faktor geologi yang kompleks dan dinamis. Letak Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—menjadi kunci […]

  • Hotman Paris Dirawat di Singapura, Panggilan Polisi Kasus Dugaan Hina Wartawan Jadi Sorotan

    Hotman Paris Dirawat di Singapura, Panggilan Polisi Kasus Dugaan Hina Wartawan Jadi Sorotan

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Gangguan kesehatan muncul di tengah penyelidikan laporan PWI Pusat terkait dugaan penghinaan terhadap profesi wartawan. JAKARTA – Pengacara senior Hotman Paris Hutapea menjalani perawatan medis intensif di Singapura setelah mengalami gangguan pada bekas operasi saraf terjepit di ruas tulang belakang L4 dan L5. Kabar tersebut disampaikan langsung melalui akun Instagram resminya yang memperlihatkan dirinya duduk […]

  • Dari “Jaga Bali” ke Belanja Umum, Dana PWA Mulai Kehilangan Arah?

    Dari “Jaga Bali” ke Belanja Umum, Dana PWA Mulai Kehilangan Arah?

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Denpasar — Angkanya mencolok: Rp353,47 miliar. Itulah total Pungutan Wisatawan Asing (PWA) yang terkumpul hingga pertengahan Desember 2025. Dari jumlah tersebut, Rp283,97 miliar telah direalisasikan, atau setara 80,34 persen. Di atas kertas, capaian ini tampak solid dan mencerminkan kinerja anggaran yang tinggi. Namun ketika struktur penggunaannya ditelisik lebih dalam. Muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah […]

  • Antara Diculik dan Menipu, Publik Curiga Mr. Terimakasih Sedang Bermain Peran

    Antara Diculik dan Menipu, Publik Curiga Mr. Terimakasih Sedang Bermain Peran

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    DENPASAR – Ramainya ungkapan seorang influenser Sergeii Domogatsky yang dikenal luas di media sosial dengan nama Mr. Terimakasih, yang dikatakan menjadi korban penculikan, pemerasan, dan penyiksaan oleh kelompok bersenjata di Bali. Dalam beberapa media, ia mengungkapkan bahwa dirinya saat mengendarai motor disergap dengan menggunakan mobil Alphard hitam dan ada dua pria berpakaian menyerupai polisi menyeretnya […]

  • Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kritik keras datang dari tokoh Bali sekaligus politikus, I Gusti Putu Artha, S.P., M.Si., terhadap eksistensi dan kewenangan Majelis Desa Adat (MDA) yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Dalam pandangannya yang tegas dan tajam, Putu Artha menyebut bahwa AD/ART MDA secara terang-terangan telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa […]

  • Temuan Mengejutkan di Alaska, Paus Kepala Busur Simpan Senjata Abad ke-19 di Tubuhnya

    Temuan Mengejutkan di Alaska, Paus Kepala Busur Simpan Senjata Abad ke-19 di Tubuhnya

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 13Komentar

    BARROW, ALASKA – Sebuah penemuan mengejutkan terungkap di pesisir Barrow, Alaska, pada tahun 2007, ketika para pemburu tradisional Inupiat berhasil menangkap seekor paus kepala busur (bowhead whale) raksasa dengan berat mencapai 50 ton dan panjang sekitar 15 meter. Di balik lapisan lemak tebal mamalia laut tersebut, ditemukan sebuah benda logam berkarat yang mengundang keheranan. Setelah […]

expand_less