Embrio Kebencian yang Tak Terlihat, Refleksi Made Somya Putra tentang Luka yang Tumbuh Diam-Diam
- account_circle Ray
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Made Somya Putra, SH., MH.
BANGLI – Pernahkah kita bertanya, mengapa sebuah pertengkaran bisa meledak begitu saja? Mengapa persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena satu peristiwa? Atau mengapa sebuah masyarakat tiba-tiba terbelah oleh rasa saling curiga?
Jawabannya mungkin bukan pada ledakan itu sendiri, melainkan pada sesuatu yang telah lama tumbuh tanpa disadari.
Made Somya Putra mengibaratkannya seperti embrio lalat. Kita jarang melihat lalat meletakkan telurnya di batang, daun, atau buah. Yang terlihat hanyalah ketika larva muncul, lalu berubah menjadi lalat yang beterbangan ke mana-mana.

Begitu pula dengan kebencian.
Ia hampir tidak pernah lahir dalam sekejap. Kebencian bertumbuh perlahan. Berawal dari prasangka, cerita yang belum tentu benar, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain, atau rasa iri yang dibiarkan mengendap.
Semua itu menjadi benih yang diam-diam berkembang di dalam hati.
Hari demi hari berlalu tanpa terasa. Benih itu membesar, mengeras, lalu suatu ketika berubah menjadi kemarahan. Saat itulah pertengkaran muncul, hubungan retak, dan permusuhan seolah menjadi sesuatu yang wajar.
Ironisnya, banyak orang hanya melihat akibatnya, bukan proses panjang yang melahirkannya.
Dalam analoginya, Made Somya Putra juga menggambarkan bahwa banyaknya lalat sering dianggap sebagai tanda kesuburan karena buah dan sayuran melimpah. Namun di balik keramaian itu, terdapat embrio yang telah lebih dulu tertanam.
Begitu pula dalam kehidupan sosial. Keributan yang ramai diperbincangkan sering kali hanya menjadi permukaan. Di bawahnya terdapat kebencian yang telah lama dipelihara melalui prasangka, fitnah, atau informasi yang tidak pernah diuji kebenarannya.
Sebaliknya, ketika tidak ada ruang bagi kebencian, konflik kehilangan tempat untuk tumbuh. Tidak ada bahan bakar yang dapat membesarkan api permusuhan.
Karena itu, menurut Made Somya Putra, hal yang paling penting bukan sekadar memadamkan konflik ketika sudah terjadi, melainkan mengenali benih-benihnya sejak awal.
“Yang paling berbahaya adalah sesuatu yang tertanam tetapi tidak terasa, tidak terlihat, dan tidak diperhatikan,” ujarnya.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki pilihan. Apakah akan membiarkan benih kebencian tumbuh menjadi permusuhan, atau menggantinya dengan empati, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk memahami orang lain.
Sebab pada akhirnya, kedamaian bukan hanya lahir dari tidak adanya pertengkaran. Kedamaian lahir ketika hati mampu menjaga dirinya agar tidak menjadi tempat tumbuhnya embrio kebencian.
Versi ini menggunakan pendekatan feature human interest dengan alur naratif, bahasa yang lebih puitis dan reflektif, sehingga pembaca tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga diajak merenungkan pesan moral yang disampaikan oleh Made Somya Putra, SH., MH.
Editor – Ray

https://shorturl.fm/6Sryw
9 Juli 2026 1:09 PM