Saat Rupiah Terus Melemah, Harga-Harga Bersiap Menghajar Kantong Rakyat
- account_circle Admin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berlanjut dalam waktu dekat. Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi kurs dolar AS berpotensi menembus level Rp18.000 hingga Rp18.200 apabila tekanan terhadap rupiah tidak mereda pada pekan depan.
Menurut Ibrahim, level Rp18.000 per dolar AS kini sudah berada di depan mata. Jika batas psikologis tersebut terlewati, maka peluang penguatan dolar menuju Rp18.200 akan semakin terbuka.

“Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp18.000 ini tembus, kemungkinan besar akan menuju Rp18.200,” kata Ibrahim, Jumat (29/5/2026).
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini terjadi meskipun dolar AS di pasar global sempat mengalami tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor domestik masih menjadi tantangan besar bagi mata uang nasional.
“Walaupun dolar mengalami pelemahan, tetapi tidak berdampak terhadap penguatan mata uang rupiah. Rupiah terus mengalami pelemahan,” ujarnya.
Ibrahim mengingatkan, jika kurs dolar menembus Rp18.000, dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor keuangan, tetapi juga dapat memicu efek domino terhadap perekonomian nasional. Salah satu risiko yang muncul adalah perubahan perilaku investor dan masyarakat yang cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang asing untuk menjaga nilai kekayaan.
Menurutnya, sentimen psikologis pasar akan memainkan peran penting ketika masyarakat melihat peluang dolar terus menguat.
“Pada saat masyarakat melihat bahwa peluang untuk dolar yang terus mengalami penguatan, membuat masyarakat mengalihkan tabungannya dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing,” jelasnya.
Lebih lanjut, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan mendorong kenaikan harga berbagai komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Salah satu contoh yang disoroti adalah kedelai, yang sebagian besar kebutuhan nasionalnya masih dipenuhi melalui impor.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga kedelai impor akan meningkat sehingga berdampak pada kenaikan harga berbagai produk olahan berbahan dasar kedelai yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
“Kami melihat bahwa dampak dari pelemahan mata uang rupiah, ini semua harga-harga itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Nah, kenaikan inilah yang membuat masyarakat menjerit,” kata Ibrahim.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan otoritas moneter, mengingat pelemahan kurs tidak hanya memengaruhi stabilitas pasar keuangan, tetapi juga daya beli masyarakat melalui kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan produk impor.
Para pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Editor – Ray

https://shorturl.fm/PhUm7
4 Juni 2026 3:19 PMhttps://shorturl.fm/YeKna
4 Juni 2026 8:57 AM