Connect with us

Mangku Bumi

SANG PENYELAMAT

Published

on


Jika kesempurnaan mencapai wujud kesempurnaan’nya, kesempurnan yang tiada wujud mencapai wujud sempurnanya, yang awal telah mencapai akhir, awal-akhir

Pembuka dan penutup yang terangkum di tubuh manusia, sang pembuka yang semula kosong berakhir terbungkus sampul hidupnya, kekosongan yang hidup yang semula melingkupi berakhir terpenjara oleh kesempurnaan dirinya yang mewujud

Maha hidup yang selalu mencapai wujud terpenjara oleh bayangan sendiri, bahkan yang ketakutan oleh bayanganya sendiri, hingga keliaran prasangkanya atas kehendak bebas berakhir menunggu sang penyelamat, yang bahkan dia sendiripun tak tau entah diselamatkan kemana dan diselamatkan dari apa

Gelap-terang, baik-buruk, salah-benar, tiada wujud-mewujud adalah dualitas tunggal yang selalu menemani yang hidup, bahwa yang hidup yang mewujud pasti mengalami kehancuran wujudnya, bahwa zat terhalus pasti memadat mencapai kondisi fisiknya semata siklus eksistensi hidup yang menjalani proses alamiah

Yang seumur hidup membiarkan diri terlelap dalam kebodohan tanpa pengetahuan dari ketidakatuan, semata ketidak perdulian para pemalas yang memilih bersembunyi di balik sosok/figur sesuai selera prasangkanya, bukan pada kebenaran yang seharusnya

Memang benar “tidak ada aturan hidup yang harus” selain pelayanan atas sadar atas rasa hidup yang dijalani, suka maupun tidak suka kesadaran atas hidup ini nyata dan membutuhkan pelayanan yang benar di atas kebijaksanaan hidup

Segala sesuatu yang menyangkut keberadaan ini dimulai oleh kebijaksanaan tertinggi dan pasti berakhir setara kebijaksanaan yang memulainya, halnya hidup habya berasal mula yang hidup, demikian pula kesempurnaan hanya berasal mula kesempurnaan yang menjadikanya, dan semua kita disini sesama orang lupa yang bodoh yang dipaksa pada upaya berselaras pada asal mula, dipaksa dengan kelembutan yang memaksa

Khusus pembahasaan pada manusia terlahir sebagai angkara, angkara yang murka yang menjadi sumber malapetaka, tubuh angkara api kehidupan yang sempurna ini bisa berbalik menjadi sumber malapetaka ketika kekuatan hidupnya kehilangn kendali, karena lupa dan membiarkan diri terseret “Angkara”, tersesat di dalam ‘bara-kemurkaan”

Yang diliputi angkara menjelma menjadi kaum sumbu pendek yang bersifat merusak, hanya menghancurkan tidak bisa membuat, dimata orang-orang yang disesatkan angkara semuanya terlihat salah, karena dia sendiri tidak sadar diri sedang berdiri ditempat yang keliru

Yang hidup yang tidak berpengetahuan kebijaksanaan hidup – sekalipun ia tau apa yang benar apa yang salah, bahwa upaya yang benar seklaipun belum tentu menghasilkan kebaikan, sehingga pilihan yang tersisa hanya bertopang pada Angkara yang setiap saat menjalani kemurkaan tanpa kendali, yang memunculkan benci dendam karena keputusasaan

Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari kemurkaan sifat kebinatangan tubuhmu selain kesadaran’mu sendiri, adalah kebohongan maha-besar dan omong-kosong maha agung menunggu sang penyelamat datang, karena sebelum sang penyelamat itu datang, yang paling setia yang setiap saat menemani hidupmu hanyalah kesadaranmu

Tidak ada yang lain yang membantumu bahkan tuhanpun tidak, Kesadaranmu lah yang selalu ada disana menasehati, yang menimbang dan membesarkan hatimu, dialah yag tak pernah pergi meninggalkanmu seburuk apapun kondisi hidup yang sedang kamu jalani

Kesadaranmu itulah yang paling setia menemani sebelum sang penyelamat datang, bahkan jika si penyelamat benar-benar datangpun kalian tidak akan mengenalinya, karena yang kalian tunggu pastilah yang sesuai selera prasangkamu, karena semua ini akan selalu berakhir dan selalu kembali pada Kesadaranmu, pada besarnya jiwamu, pada luasnya sudut pandangmu, pada keceradasan nalarmu mengobservasi situasi, pada kebijaksanaan mu memandang hidup ini

Tak perduli agamamu dan siapa tuhanmu bahkan seleramu tentang sang penyelamat, bahwa penyesat dan penyelamat itu terangkum dalam satu wadah yang sama yaitu di tubuhmu, tubuhmu Angkara sumber kemurkaan yang mendatangkan malapetaka sedangkan kesadaranmu tali kekangnya

Yang bila di artikan dengan sebenar- benarnya : “Kesadaranmu’lah penyelamat hidupmu dari seretan angkara murka keliaran sifat kebinatangan tubuhmu”

Atlantia Ra


Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (5)

Published

on

Keseimbangan antar komponen tridosha sebagai salah satu syarat hidup sehat (harmoni).

Seperti yang sudah dipaparkan dalam tulisan sebelumnya bahwasannya tridosha menjadi titik pijak paling penting dalam pengejewantahan pengetahuan Ayurweda.

Apa itu tridosha? Tidak ada padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Beberapa referensi menyebutnya, dosha itu konstitusi tubuh, atau humor atau energi atau prinsip dasar bangun tubuh seseorang. Konsep dasar tri dosha diambil dari konsep filosofi Sankhya seluruh entitas di alam semesta disusun paling tidak oleh satu dari lima unsur dasar yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu ether, angin, api, air dan tanah.

Kombinasi antara unsur ether dan angin adalah Vata, kombinasi unsur api dan air adalah Pitta dan kombinasi unsur air dan tanah adalah Kapha.

Vata, Pitta dan Kapha inilah yang disebut tridosha. Semua anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika digerakkan oleh tridosha. Termasuk juga tirdosha merupakan kekuatan pelindung tubuh seseorang.

Ketika seseorang dalam keseimbangan tridosha yang sempurna, orang tersebut dalam kondisi sehat yang sempurna. Sebaliknya, ketika tridhosa tidak seimbang (disharmoni) seseorang akan mengalami gangguan kesehatan, penderitaan dan sakit.

Setiap individu memiliki tipe dosha yang unik tergantung jenis dan komposisi dari dosha seseorang.

Tipe dosha yang dimiliki seseorang ditentukan ketika mulai proses konsepsi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur dari orang tua laki-laki dan perempuan orang tersebut yang juga tergantung waktu, tempat dan konstelasi planet-planet pada saat pertemuan tersebut.

Inilah yang menjadikan dosha seseorang UNIK. Ini juga yang menentukan anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika seseorang juga unik dan berbeda antar individu.

Lalu bagaimana menentukan tipe dosha seseorang? Ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu secara jujur dan mendalam.

Tentu orang yang semakin mengenal dirinya secara baik, maka akan semakin tepat dalam menentukan tipe doshanya. Secara umum, tipe dosha seseorang adalah kombinasi yang unik juga dari tridosha (Vata, Pitta dan Kapha).

Penampahan Galungan,
18.02.20

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (4)

Published

on

Bagaimana Ayurweda begitu yakin menjadi pengetahuan tentang hidup (the science of life)? Sekarang kita mengulas sepintas mengenai enam filosofi yang menjadi dasar-dasar pengetahuan Ayurweda.

Filosofi yang pertama, yaitu Sankhya. Filosofi Sankhya memberikan Ayurweda teori tentang evolusi dan teori tentang sebab akibat.

Kita dapat menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya dalam keseharian menjalani kehidupan dari momen ke momen.

Bahwasanya kita bukanlah tubuh fisik ini, kita bukan ketakutan itu, kita bukan penderitaan itu, kita bukan rasa sakit itu. Singkatnya, kita hanya penghuni yang tinggal dalam tubuh ini. Kita adalah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih mulia, yaitu kesadaran murni (pure Consciousness).

Dengan menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya ini dalam hidup keseharian, kita menyembuhkan diri kita sendiri.

Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri. The best doctor is our own self. Filosofi yang kedua, Nyaya dan Vaisheshika.

Pengetahuan filosofi Nyaya dan Vaisheshika memberikan Ayurweda dasar berpikir yang runut dan logis. Bahwa tubuh ini adalah suatu mesin materi yang harus dipelihara dan diperbaiki.

Tubuh adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup, maka tubuh harus tetap sehat dengan pola hidup sehat yang holistik. Filosofi yang ketiga, yaitu Mimamsa.

Pengetahuan filosofi Mimamsa tentang kerja adalah bagian dari hidup yang mana untuk mencapai pembebasan dengan melaksanakan kebenaran/kewajiban (Dharma).

Sumbangsih filosofi Mimamsa pada Ayurweda meliputi metode dan cara-cara mencapai Tuhan melalui ritual, upacara dan puasa.

Filosofi yang keempat, yaitu Vedanta. Pengetahuan filosofi Vedanta memberikan pemikiran yang mendalam pada Ayurweda tentang Tuhan yang abadi, yang merupakan pencapaian terkahir dari setiap manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, setiap individu mutlak memiliki kesehatan yang sempurna. Filosofi yang kelima, yaitu Yoga.

Ayurweda menggunakan Yoga secara terapetik untuk tujuan kesehatan dan sesungguhnya setiap sistem yoga memiliki nilai kesehatan yang sangat besar. Filosofi yang keenam, yaitu Buddhisme.

Empat Kebenaran yang Mulia dalam ajaran Buddha, yaitu adanya penderitaan, ada penyebab dari penderitaan, ada akhir dari penderitaan dan ada sarana untuk mengakhiri penderitaan. Buddha mengatakan, segala sesuatu akan berkahir.

Jangan khawatir pada penyakit, karena penyakit akan berakhir.

Pengetahuan filosofi Buddha mengajarkan ada penderitaan dan cara sederhana untuk bebas dari penderitaan adalah kesabaran, dengan memberikan waktu tubuh untuk menyembuhkan dirinya. Inilah sumbangsih filosofi Buddhisme terhadap Ayurweda.

(Prof. I Ketut Adnyana)

15.02.20
Rahayu

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (3)

Published

on

Masih tentang keseimbangan (harmoni), karena itu memang konsep besar sehat menurut Ayurweda.

Untuk tetap sehat, seorang individu harus juga menjaga keseimbangan antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung). Dimana menurut Astrologi Weda, konstelasi planet-planet akan mempengaruhi keseimbangan (harmoni) seseorang bahkan juga perjalanan kehidupan seseorang.

Konstelasi planet-planet akan mempengaruhi musim, suhu global bumi yang tentu setiap individu harus menyesuaikan aktivitas hariannya bila tetap mengharapkan sehat (harmoni) dari waktu ke waktu.

Konstelasi ini akan mempengaruhi keseimbangan konstitusi (tridosha), gejolak emosi dan kecenderungan pikiran seseorang yang secara holistik akan menentukan dinamika harmoni seseorang.

Harmoni seseorang juga dipengaruhi oleh dua modal besar, yaitu genetik dan lingkungan.

Genetik ini adalah faktor keturunan yang kalau dirunut merupakan jejak-jejak dari kehidupan seseorang sebelumnya yang disebut karma wasana. Inilah jawabannya mengapa seseorang lahir dari keturunan keluarga yang mengalami diabetes, hipertensi, dislipidemia, pemarah, bandel dan lain sebagainya terlalu banyak kalau disebutkan karena memang unik untuk setiap individu.

Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah modal genetik ini. Namun, kita masih memiliki modal besar yang kedua, yaitu lingkungan. Meminjam formula Einstein yang sangat terkenal yaitu E=mC2, dimana suatu materi memiliki energi potensial sebesar massanya dikali kecepatan cahaya kwadrat.

Bisa dihitung bagaimana besarnya energi suatu materi. Namun disini kita tidak sedang membahas formula Einstein.

Lalu apa hubungannya dengan harmoni menurut Ayurweda? Saya menganalogikan E adalah Equilibrium (keseimbangan atau harmoni), m adalah man atau individu itu sendiri yang bersifat unik dan cenderung tetap (genetik).

Sedangkan C adalah circumstances (keadaan atau lingkungan). Jadi sekali lagi, harmoni seorang individu ditentukan oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan. Yang perlu diingat, lingkungan menjadi penentu paling besar harmoni seseorang.

Karena kalau disesuaikan dengan formula Einstein, lingkungan nilainya sangat besar dan dikwadratkan lagi. Artinya, harmoni individu sebagian besar ada dalam kendali individu itu sendiri, yaitu dengan syarat mampu mengendalikan faktor lingkungan hidupnya.

Apa saja yang menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi harmoni individu? Tiga besar lingkungan saya sebutkan disini, yaitu pola pikir, pola makan (diet) dan pola hidup (lifestyle termasuk aktivitas fisik atau olahraga).

(Prof. I Ketut Adnyana)

Rahajeng rahina Sugihan Bali,
14.02.20

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam