Connect with us

News

Diduga Gelapkan Dana Ratusan Calon Pekerja Migran, Pengusaha Ibukota Diajukan Ke Meja Hijau

Published

on

Direktur Infinity Training Center, Ni Putu Asteria Yuniarti (tengah) didampingi kuasa hukum, Suriantama Nasution (kedua dari kiri) beserta tim saat menyampaikan kronologis dan peristiwa yang terkait dengan dugaan penggelapan dana CPMI

BADUNG – Kasus dugaan adanya penggelapan dana keberangkatan calon (Pekerja Migran Indonesia) PMI yang menyebabkan gagalnya keberangkatan calon pekerja dari Bali yang dijanjikan pengurusannya ke negara tujuan Bahrain dan Polandia, kini tengah bergulir di PN Tanggerang (28/03/2024)

Permasalahan ini timbul karena pihak yang menjanjikan pengurusan keberangkatan para calon PMI ini, Widya Andescha, sebagai Direktur PT Tulus Widodo Putra cabang Tangerang dan sebagai Direktur Penempatan Formal PT Dinasty Insan Mandiri tahun 2021-2022, diduga tidak bisa menyelesaikan kewajibannya untuk memproses keberangkatan para calon PMI ini, padahal semua kelengkapan dokumen dan dana yang menjadi persyaratan telah di tunaikan oleh para calon pekerja migran ini.

Bertempat di Infinity Training Centre, Jl Raya Sempidi no 40, Senin (01/04/2024) Direktur Infinity Training Centre, Ni Putu Asteria Yuniarti, dengan didampingi tim kuasa hukum Suriantama Nasution, menjelaskan kronologis dan permasalahan yang menyangkut nasib para siswanya, calon PMI yang menjadi korban dari tindakan yang dilakukan oleh terduga Widya Andescha sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masalah ini.

Hal ini bermula dari perkenalan antara Widya Adescha dengan Ni Putu Asteria Yuniarti melaui telepon pada 03 Agustus 2021, dan dilanjutkan pertemuan pada 04 Agustus 2021 pukul 22.00 di lobby Hotel Anvaya Kuta, dimana dalam pertemuan itu disepakati kerjasama untuk melakukan pemberangkatan siswa dari lembaga Pendidikan Infinity Training Center, dimana proses penyelesaian dokumen perjalanan, tiket, visa kerja, ijin tinggal untuk menjadi PMI dinegara Bahrain dan Polandia diurus oleh pihak Widya Andecha melalui PT Dynasty dan PT Tulus cabang Tanggerang.

Pasutri, Ni Putu Asteria Yuniarti (dua kiri) dan pasutri, Widya Andescha (dua kanan) saat bertemu di lobby Hotel Anvaya (04/08/2021)

Biaya pengurusan pemberangkatan para PMI ke Bahrain dan Polandia disepakati sebesar Rp 25 juta per orang, yang dibayarkan dimuka dan diserahkan ke pihak Widya Andecha, yang berjanji akan segera memberangkatkan dan memiliki banyak lowongan kerja disana.

Di dalam prosesnya, terduga Widya Andecha meminta tambahan dana dari para calon PMI ini, seperti tambahan tiket sebesar Rp 5,47 juta, biaya ACC Medical Fit sebesar Rp 3 juta, biaya ujian BNSP Rp 500 – 900 ribu, biaya BLK Rp 2,5 juta, percepatan biaya visa sebesar Rp 5 juta untuk tiga bulan mendapatkan panggilan Kedutaan hingga ke uang jaminan/deposit yang bervariasi mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per kandidat.

Made Febryanta dan M Ibnu Hakim, sebagian dari korban CPMI yang gagal berangkat, saat memberikan kesaksian pada awak media

Seiring perjalanan waktu, janji manis yang diutarakan diawal oleh terduga Widya Andecha tidak terwujud, proses keberangkatan tidak pasti dan selalu diulur-ulur tanpa kepastian, bahkan beberapa calon PMI yang sudah ditempatkan dirumah penampungan di daerah Tanggerang, juga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari terduga Widya Andecha dan berkesan menghindar dari tanggung jawab dengan berbagai alasan.

Seperti yang dialami oleh, Muhamad Ibnu Hakim, Made Radya Wangsa dan Made Febryanta, yang merupakan sebagian dari korban atas ketidak pastian keberangkatan mereka ke luar negeri, mereka menceritakan perlakuan dan tindakan yang mereka terima dari terduga Widya Andecha selama dipenampungan.

“Kami dijanjikan.keberangkatan dalam tempo 90 hari, tetapi sampai satu tahun menunggu kami hanya diberikan janji-janji yang tidak pasti. Saat kami menagih hak atas janji tersebut, kami mendapatkan jawaban yang tidak jelas dan marah-marah. Selama dipenampungan tidak ada kegiatan yang pasti disana, hanya makan tidur saja,” jelas Made Febryanta, salah satu korban.

“Akhirnya saat itu saya mengajukan pengunduran diri, tidak jadi berangkat dan meminta pengembalian uang yang sudah saya setorkan. Pihak Widya Andecha menjanjikan proses pengembalian uang paling lama tiga bulan, namun sampai saat ini saya belum menerima penuh hak saya,” tambahnya.

Dari total 120 kandidat calon PMI yang mengajukan pembatalan keberangkatan, masih ada 101 peserta yang hingga saat ini belum tuntas mendapatkan pengembalian dananya.

Sebagai wujud kepedulian atas masalah yang dialami para siswanya, Direktur Infinity Training Centre, Ni Putu Asteria Yuniarti berinisiatif melaporkan Widya Andescha ke Polres Badung atas dugaan tindak Pidana penggelapan senilai Rp 1.315.181.0000 (Satu Milyar Tiga Ratus Lima Belas Juta Seratus Delapan Puluh Satu Ribu Rupiah) dan tuntutan Perdata tanggal 12Januari2024 di Pengadilan Negeri Tangerang sebesar Rp3.069.560.000 (Tiga Milyar Enam Puluh Sembilan Juta Lima Ratus Enam Puluh Ribu Rupiah)

“Tindakan yang dilakukan oleh Widya Andescha tidak bisa ditoleransi untuk
alasan apapun. Maka dari itu, sebagai wujud kepedulian kami, Management Infinity Training Centre secara resmi melakukan upaya hukum Pidana dan perdata untuk menyelesaikan perkara ini,” terang Ni Putu Asteria Yuniarti pada awak media.

Hingga kini, pihak managemen Infinity Training Center terus mengadakan pertemuan-pertemuan yang intens kepada siswa terkait untuk mendiskusikan perkara ini.

“Kami menyadari bahwa hal ini telah mengecewakan banyak pihak dan membuat trust issue dibanyak pihak, baik itu calon siswa, keluarga, calon pekerja migran maupun masyarakat umum. Kami akan meningkatkan pengawasan internal kami untuk menseleksi PT P3MI yang bisa bekerjasama dengan kami. Dari lubuk hati yang terdalam, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa ini,” tambahnya.

Untuk mencegah hal serupa agar tidak terjadi lagi di kemudian hari, Managemen Infinity Training Center telah memperketat SOP kerjasama dengan PT P3MI serupa, serta meluncurkan MIGRANTS CONSULTANT SPECIALIST, dimana Infinity Training Centre sebagai training centre nomor 1 di Bali yang menyediakan layanan konsultasi untuk dapat memastikan keamanan dan kenyamanan serta perlindungan bagi calon pekerja migran Indonesia.

Manajemen Infinity Training Centre, tim kuasa hukum dan siswa korban dugaan penggelapan dana CPMI

Pada kesempatan ini, kuasa hukum Suriantama Nasution menyampaikan, pihaknya mengajukan tuntutan Pidana maupun Perdata atas kasus ini dengan tujuan untuk pengembalian dana serta pemulihan kepercayaan masyarakat atas lembaga pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.

“Kami upayakan adanya kepastian pengembalian dana dengan mengajukan sita aset-aset tergugat serta membekukan dana yang ada di Bank serta dana jaminan yang tersimpan di Kemenaker, harapannya semua itu cukup untuk mengembalikan dana kepada pihak-pihak yang dirugikan,” demikian dijelaskannya.

“Hal ini juga menjadi literasi pada semua pihak agar ada kepastian hukum atas pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman tenaga kerja ke Luar Negeri agar hal-hal yang merugikan bisa dihindari baik itu finansial maupun kepercayaan masyarakat,” tambahnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak tergugat Widya Andescha belum bisa dihubungi untuk mendapatkan klarifikasi. (E’Brv)


News

Upaya Lelang Lahan Berperkara, Diduga Libatkan Ordal

Published

on

By

Hie Kie Shin (kanan) didampingi kuasa hukum dari Elice Law Firm, Indra Triantoro, SH,MH (tengah) dan rekan saat memberikan keterangan pada awak media

DENPASAR – Jalan panjang seorang pencari keadilan dalam upaya memperoleh hak-haknya dalam kasus penanganan proses perkara pailit dan pelelangan aset miliknya, terus diupayakan oleh seorang Hie Kie Shin (65).

Didampingi kuasa hukumnya dari Elice Law Firm, Indra Triantoro, SH.,MH, pengusaha asal Bali ini menceritakan permasalahan hukum yang dialaminya kepada awak media, Senin (15/04/2024)

Berawal dari upaya penyelesaian masalah pinjaman di Bank BCA dan beberapa Kreditur, dirinya bertanggung jawab dengan berupaya melepas beberapa aset yang dimilikinya untuk menutup pinjaman dimaksud, salah satunya adalah sertifikat kepemilikan villa Amelle Canggu

Mulai bulan 06Juli 2023, Villa Amelle ini statusnya menjadi On Going Concern, dimana pihak kurator yang ditunjuk, Akhmad Abdul Azis Zein bertindak untuk mengambil alih usaha pengelolaan Villa ini.

Pada tanggal 28 Juli 2023 kurator bertindak arogan dengan melakukan tindakan pemecatan seluruh karyawan Villa secara sepihak tanpa mengindahkan prosedur ketenaga kerjaan yang berlaku.

Selain itu pelaporan dana hasil pendapatan Villa tidak dimasukan dalam rekening kepailitan, tetapi sebagian dimasukan ke rekening orang lain.

“Kami memiliki bukti kuat dari tindakan penyelewangan dana dan tindakan arogansi pada para karyawan kami yang dilakukan oleh terduga kurator selama proses On Going Concern di Villa Amelle ini, ada dugaan upaya untuk memperkaya dan menguntungkan diri sendiri,” demikian jelas Hie Kie Shin.

“Karena itu, pada tanggal 10 Juli 2023, kami dengan tegas meminta Hakim Pengawas Pengadilan Niaga Surabaya untuk mengganti kurator dimaksud, tapi hingga saat ini tidak ada tindak lanjutnya.
Ada apa ini ?
Mengapa Hakim Pengawas terkesan tidak netral dan mengabaikan fakta yang ada,” tanyanya keheranan.

Melihat kondisi ini, dirinya juga telah melaporkan Hakim Pengawas tersebut ke Komisi Yudisial (KY)

Pada pertemuan 05 Desember 2023, kurator mengeluarkan Daftar Piutang Tetap (DPT) baru tanpa verifikasi dengan debitur dan kreditur, tetapi DPT ini di sah kan sendiri secara sepihak oleh kurator Akhmad Abdul Azis Zein.

Dirinya kemudian melaporkan kurator Akhmad Abdul Azis Zein ke Polrestabes Surabaya, Kamis (14/12/2023), dengan dugaan pemalsuan data dokumen dengan penggelembungan data DPT, teregister dengan nomor LP/B/1340/XII/2023/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR.

Selain itu juga dilakukan upaya gugatan pidana pasal 400 ayat 1, pasal 362, pasal 372  junto 378 dan perdata pasal 1365 di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar terkait penipuan, pemalsuan dan penggelembungan data DPT serta perbuatan melawan hukum dalam pengelolaan On Going Concern Villa Amelle oleh kurator.

Ada dugaan kurator ini bertindak untuk menghilangkan objek barang bukti dengan upaya pengajuan lelang terhadap beberapa aset lahan termasuk Villa Amelle ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL)

Pada tanggal 01 Maret 2024 datang surat pertama dari KPKNL yang menyatakan akan melaksanakan lelang pada aset tersebut tanggal 06 Maret 2024, hal ini direspon oleh tim kuasa hukum, Indra Triantoro, SH,MH dengan pengajuan surat pemblokiran atau penundaan terkait lelang dimaksud, dengan penyampaian bahwa lahan dimaksud masih berperkara di PN Denpasar.

“Kami juga melampirkan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum ini untuk mempertegas bahwa perkara a quo belum Inkracht, sehingga KPKNL wajib menangguhkan lelang ini sampai adanya kepastian hukum, hal ini tercantum dalam peraturan Menteri Keuangan pasal 14 no 27 pmk.06.2016,” demikian dijelaskan Indra Triantoro, SH,MH.

Tapi hal ini tidak diindahkan oleh pihak KPKNL dimana akan diajukan lagi surat lelang yang akan dilaksanakan pada 22 April 2024 mendatang.

“Kami menduga adanya oknum orang dalam KPKNL terlibat dalam upaya lelang yang dipaksakan ini, dengan mengabaikan bukti dan fakta permasalahan yang ada,” demikian ungkapnya

“Untuk itu kami menghimbau masyarakat untuk jeli dan bijaksana dengan tidak membeli objek lelang yang sedang ada masalah, untuk menghindari terjadinya kerugian karena ada tuntutan dari pihak yang berperkara,” demikian pungkasnya.

Hingga berita ini dibuat, kami belum berhasil mendapatkan konfirmasi dari pihak-pihak terkait karena berbagai alasan (E’Brv)

Continue Reading

News

Ditemukan Tewas di Dalam Sumur Sedalam 5 Meter, Seorang Kakek Diduga Bunuh Diri

Published

on

Jembrana – Pagi ini (12/4) sekira pukul 06.50 wita warga dilingkungan Ketapang kelurahan Lelateng kecamatan Negara dihebohkan dengan adanya kejadian diduga bunuh diri yang dilakukan seorang kakek inisial JA (72) yang sehari-sehari berprofesi sebagai pedagang.

Saat dilakukan pemeriksaan tubuh korban oleh Tim Inafis Polres Jembrana pada jumat (12/4/2024)

Kejadian tersebut diketahui oleh saksi EP (38) yang juga anak korban. Bermula ketika saksi EP mencari korban yang tidur didalam kamar tapi dilihatnya korban sudah tidak ada dan saksi melihat pintu belakang rumah korban terbuka. Saksi yang memutuskan pergi ke belakang rumah menemukan sandal korban tertata rapi di deket sumur.

Setelah melihat sandal tersebut saksi EP menengok ke dalam sumur dan dilihatnya kepala korban yang berada di dalam sumur. “Setelah melihat korban saya memutuskan untuk menghubungi pemadam kebakaran dan aparat desa,” ujar saksi EP.

Dari hasil pemeriksaan Tim Inafis Polres Jembrana tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan ditubuh korban dan pada saat ditemukan keadaan tubuh korban belum kaku tapi sudah dalam keadaan meninggal dunia, dan dari keterangan saksi korban diduga bunuh diri,” Ada kemungkinan karena sebelumnya korban mengidap penyakit asam lambung tapi sepengetahuan saya sudah mau sembuh tapi mungkin juga karena depresi karena sebelumnya istri korban meninggal dunia dua tahun lalu dan anak korban atau saudara saya meninggal dunia juga,” Tambah EP.

Continue Reading

News

Mercure Kuta Beach Bali Gelar Charity Melalui Magical Ramadhan Fashion Show

Published

on

By

Manager Hotel Mercure Kuta Beach Bali, Ni Made Pantri Arini, saat menyampaikan kata sambutan dalam acara Magical Ramadhan Fashion Show dan perkenalan Bella Mozzarella Italian Corner

BADUNG – Dalam rangka kegiatan dibulan suci Ramadhan, Mercure Kuta Beach Bali kembali menggelar agenda rutin kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) dengan mengadakan buka puasa bersama yang dipadukan dengan event charity yang bertema ‘Magical Ramadhan Fashion Show’ pada Kamis, (04/042024).

Magical Ramadhan Fashion Show kali ini merupakan persembahan dari koleksi Kaftan Pojok UMKM Mercure Kuta Beach Bali yang merupakan wadah untuk mendukung UMKM lokal.

Pada event charity kali ini staff Mercure Kuta Beach Bali turut berpartisipasi dalam acara Fashion Show dengan menampilkan ragam koleksi Kaftan yang sederhana namun elegan.

GM Hotel Mercure Kuta Beach Bali, Tony Andrianto saat memberi sambutan pada para undangan

Acara Fashion Show ini merupakan salah satu dari berbagai kegiatan Sustain Activity yang sering diadakan oleh Mercure Kuta Beach Bali.

Mengusung tema : “Membeli untuk Memberi”, event ini dilaksanakan sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM dan kepedulian sosial untuk mereka yang membutuhkan, dimana sebagian hasil dari Magical Ramadan Fashion Show tersebut akan didonasikan kepada panti asuhan Yayasan As Soleha Kuta.

“Harapannya, produk lokal semakin dapat diminati dan kami bangga menjadi bagian dari usaha untuk memajukan produk lokal. Selain itu juga ini merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial kami untuk mereka yang membutuhkan,” ujar Ni Made Pantri Arini selaku Manager Hotel Mercure Kuta Beach Bali.

Para awak media saat sesi photo bersama manajemen Hotel Mercure Kuta Beach Bali

Bersamaan dengan acara ini, Mercure Kuta Beach Bali juga memperkenalkan usaha kuliner barunya yang bertema Italian Corner yang bernama “BELLA MOZZARELLA” yang berlokasi di Alang-Alang Restaurant lantai 4 Hotel Mercure Kuta Beach Bali, dimana setiap harinya buka mulai dari jam 5 sore hingga jam 10 malam .

Bella Mozzarella by Alang-Alang Restaurant menawarkan menu Italia yg lengkap, mulai dari menu pembuka hingga menu penutup yang disajikan secara a la carte dengan pilihan berbagai jenis wine sebagai pelengkap

Disini tersedia menu POLPO ALLA GRIGLIA, gurita panggang yang dimasak perlahan disajikan dengan salad arugula dan tomat ceri hingga VONGOLE FETTUCCINE yaitu hidangan Neapolitan yang ikonik juga tersedia di Bella Mozzarella by Alang-Alang Restaurant. Selain itu, masih ada menu Pizza Margherita hingga Pannacotta yang lembut sebagai menu penutup.

Selama bulan April ini, Bella Mozzarella by Alang-Alang Restaurant juga memiliki promo menarik, yaitu dengan memesan menu hidangan utama apapun akan mendapatkan 1 gelas Mocktail gratis.(tim)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku