Connect with us

Mangku Bumi

HIDUP DHARMA

Published

on


Dharma tidak lain hidup, drama kehidupan yang hidup, yang hidup itu yang menjalani siklus atas hidupnya, menjalani wujud tiada wujudnya, dharma adalah hidup yang berkesadaran sempurna, kesadaran atas hidup itu lah dharma, tan hana dharma mangrwa – tidak ada kebenaran yang kedua, tidak ada Tuhan yang kedua

Lakukanlah dharmamu walau buruk cara melakukan, jangan lah mengikuti dharma orang lain, sekalipun baik caramu melakukan, karena itu berbahaya, karena getaran kesadaran yang kebingungan berefek langsung pada tubuh dan kehidupanmu, kebingungan sadar karena menjalani kepalsuan diri mengacaukan getaran otak yang berimbas ke tubuh dan organ tubuh, yang pada giliranya akan mengacaukan psikis yang menjadi sumber kekacauan di kehidupan yang lebih luas, seperti seluruh kekacauan yang kita saksikan saat ini di jaman kali ini, dan kekacauan getaran kesadaran hidup itu pula penyebab utama pendeknya umur manusia

Darimana kamu menyelam dari sana pulalah jalan kamu kembali, menyelami kehidupan dan mengetahui diri hidup atas kesadaran,maka dari kesadaran itu pulalah jalanmu kembali menyatu – kepada yang maha tunggal – yang Maha hidup yang mendapati kesempurnaan sadarnya di tubuh manusia ini

Hidup yang mendapati kesadaran sempurna di tubuh manusia ini-itu jalan ber-dharma – ikut memutar cakra kehidupan, dan kesadaran itulah kebenaran atas hidupnya, diri yang berkesadaran atas hidup itu – kebenaran atas eksistensi hidup itu sendiri, hidup berasal dari hidup, hidup itu Tuhan tuan hidup, yang hidup yang berasal mula maha hidup itu sendiri yang mendapati dirinya berkesadaran sempurna

Dia dirinya sendiri-lah yang menjadi setiap diri yang berkesadaran disetiap tubuh ini – itu, tubuh yang berbeda-beda pembeda kediriannya, bahwa yang sesungguhnya yang berbeda itu berasal dari Yang Maha-hidup yang tunggal, bina ika tunggal ika, yang berbeda itu berasal mula yang tunggal, Yang Maha Esa atas Bhina ika Tunggal Ika, keEsaan yang tampak berbeda itu sejatinya Tunggal

Melayani dharma melayani kesadaran atas hidup, kesadaran jalan mencapai kebijaksanaan hidup masing-masing, kebijaksanaan yang terhubung dengan kebijaksanaan semesta akan menjadi Poros keteraturan di kehidupan, uta-prota – meresap-merangkai, kebenaran yang Tunggal itu jalan menyatukan, kebijaksaan (maha hidup) yang sempurna itu pemimpin kehidupan, dan semua itu harus di mulai dengan kembali pada dharma masing-masing , biarkan hidupmu terpimpin oleh kebijaksaan diri yang tidak lain Maha hidup yang Maha sempurna itu, demikianlah keselematan atas hidup diraih

Atlantia Ra


Mangku Bumi

“SAMPUL TUHAN”

Published

on

Segenap wujud yang terwujud itu sampul pewujudnya, pewujud yang tidak lain maha hidup yang semula tiada wujud mewujudkan dirinya pada berbagai macam sampul hidupnya, dengan berbagai tingkat kesadaran sesuai bentuk wujudnya

Wujud-wujud itulah yang bercerita tentang penciptanya, tuhan berkomunikasi melalui seluruh wujud yang di jadikan atas eksistensi hidup ini, diantara berbagai macam wujud kesadaran atas sampul pembungkusnya, kesadaran di tubuh manusialah sampul pembungkus yang menjalani kesempurnaan sadar atas hidupnya, kesempurnaan yang mewujud yang tidak ada keduanya, kesadaranmu tunggal tidak ada yang kedua, sekalipun bawah sadar tetap bersumber pada kesadaran yang sama

Kemanakah yang hidup yang bersifat abadi itu pergi setelah kematian tubuh’nya, ia kembali tunggal pada sumbernya yaitu pada yang maha hidup, hanya memori atas hiduplah yang tertinggal di dimensi wujud,karena tubuh yang mati itu lah penterjemah kesadaran atas hidupnya, memori-memori itu yang ditemui oleh yang masih berkesadaran hidup di sampul hidupnya

Yang tidak memiliki cukup pengetahuan kesejatian hidup menganggap memori yang tertinggal itu kehidupan setelah mati, mereka mengira sampah
residu kehidupan sebagai kehidupan yang lebih mulia, semua itu semata-mata dikarenakan ketidaktauan

Pun,
terlalu melekat pada rasa hidup semasa menjalani hidup yang menjadi hantu penasaran (memori tanpa fisik) juga karena ketidaktauan, hantu yang menyisakan memori kebingunganya di dimensi tanpa fisik, ketidaktauan diri itu samasekali bukan kehidupan mulia, bukan rumah tuhan akan tetapi rumah hantu

Tuhan eh tuan hidup itu adalah tuan pembentuk sampul hidupnya sendiri, IA pulalah yang menjadi bermacam tingkat kesadaran didalam sampul yang dia jadikan

Tidak ada tuhan si tuan pencipta yang tidak berwujud, karena yang tidak berwujud tidak bisa dikatakan mencipta, yang tidak berkehendak tidak bisa mewujud, benih hidup itu sendiri memiliki kehendaknya atas hidupnya yang mewujud sesuai pengadaptasian pada lingkungan tempat keberadaanya, yang tidak mewujud tidak berkehendak

Kekuatan-kekuatan maya di dimensi-dimensi wujud yang berada diluar diri itu peninggalan pencapaian kehidupan masa lalu, yang tidak lagi bertuan karena telah ditinggal mati sang tuhan eh tuan yang semula bertubuh materi

Tuan raja dari segala raja Maya inilah yang ditemui para peeelancar spiritual, pencapian kekuatan cipta wujud Maya yang tetinggi itu juga dapat menyisakan residu kekuatan’nya, yang dapat mempengaruhi kehidupan maupun sisi imateri manusia disebabkan karena kesebangunan Maya setiap tubuh manusia

Lingkaran energi raja maya capaian kehidupan masa lalu yang tak lagi bertuan inilah yang harus ditundukan untuk mencapai kesejatian diri dan menjadi maha ghaib itu sendiri, untuk dapat membuka dan menyebarkan pengetahuan kesejatian diri, jika belum terlampaui maka si raja maya tak bertuan itu akan datang dan menahan dengan segenap kekuatan yang ada padanya, dan tak satu manusiapun yang sanggup menanggung efek dari kemarahannya

Maya itu tidak lain kekuatan cipta sang pencipta yang mengejawantah ya itu bayangan sang pencipta, pewaris kekuatan sang pencipta di atas tubuh yang termaterikan, dialah yang tertinggi sekaligus terendah, yang terkuat sekaligus yang terlemah,dia batas yang tiada batas, seperti tiada batasnya kesadaran ini

Semua wujud keberadaan adalah sampul tuhan, karena asal mula keberadaan adalah yang maha hidup,
Benih hidup maha hidup itu yang mencapai kondisi fisiknya, tuhan si maha hidup itulah yang memanifestasikan diri sebagai seluruh keberadaan

Yang maha hidup itu yang mewujud dan pada kesempurnaan
sadar atas hidupnya kemaha sempurnaanya mengejawantah, pada sampulnya yang maha sempurna itu pula yang mengandung Maya yang terkuat, bahkan yang menjadi maha ghaib yang ditemui diluar diri manusia, yang sesungguhnya kekuatan Maya tak bertuan peninggalan kehidupan masa lalu

Maha ghaib yang kemudian disebut Tuhan oleh yang tidak mmiliki cukup pengetahuan kebenaran hidup, ketidaktauan yang kemudian diwariskan turun-temurun, tentu saja ia maha ghaib karena sumber kegaibanya adalah kesadaran miliknya sendiri yang tidak mungkin dapat dilihat oleh dirihya sendiri

Dari sejuta yang mencari AKU mungkin hanya sepuluh yang mengetahuiku akan tetapi tak satupun darinya yang melihatku karena kesadaran itu memang tidak terlihat tetapi dirasa, rasa sadar atas hidupnya, rasa hidup yang mengejawantah bukan yang terlihat, maka iri disebut tidak terlihat (maha ghaib) karena ketiada batasan kesadaran itu sendiri

Yang tertipu melihatnya secara terbalik-balik, bercita-cita ingin bertemu penciptanya yang seincipun tidk pernah kemana-mana namun berada dimana-mana , sehingga kekonyolan yang tidak disadarinya memaksanya melihat sang pencipta dengan prasangka, karena ambisi dungu seseorang dari masa lalu yang ingin melihat tuhan dan mendapat kemuliaan hidup dengan mencoccotkan tuhan yang tidak dikenalinya

Sehingga tuhan disangkanya harta Karun yang baru dia temukan, karena dia tidaktau yang hidup yang berkesadaran sempurna itu tuhan tuan hidup yang mengejawantah pada kesempurnaan sadar atas hidupnya

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

SABDA ORANG BINGUNG

Published

on

Jika Tuhan maha pencipta, dia Tuhan berbicara melalui seluruh yang dia wujudkan, seluruh wujud yang dia jadikan adalah jalan Sang Maha Pencipta mengkomunikasikan dirinya kepada ciptaanya, kesempurnaan yang termanifestasi pada wujud-wujud yang disertai segenap kesempurnaan masing-masing, dan pada wujud manusia lah dia Sang Maha hidup itu mencapai kesadaran sempurna’nya, begitulah kebenaran yang sesungguhnya kebenaran, jika Tuhan mu tidak berwujud maka dia Tuhan yang tidak mewujudkan apa-apa, kamu tertipu oleh ketidaktauanmu

Tidak ada pencipta yang tidak mewujud, yang tidak mewujud berarti sama sebangun tidak ada, bahwa di dalam yang mewujud itulah wujud dan juga tiada wujudnya tunggal, itulah yang dimaksud rwa bineda, ada dan tiada-nya tunggal, sisi negatif dan sisi positifnya dualitas tunggal dan yang ketiga adalah kesadaran yang mengetahuinya, keberadaan lah yang dapat mengenali ketiadaan, yang menyatakan tinggi rendah adalah yang wujud , yang mengetahui batas tiada batas adalah wujud, dan kesemua itu dikenali oleh kesadaran atas keberadaan, tanpa keberadaan tidak ada yang dapat dikenali dan mengenali , dan nabi anda kebingungan menyadari kebenaran sesederhana itu

Sekali lagi Tuhan berkomunikasi melalui apa yang dia wujudkan,kekuatan ciptanya menjadi pada apa yang dia cipta, tanpa yang berwujud dia bukan apa-apa, dia tidak mungkin dikenal sebagai pencipta, dia harus mewujud untuk menjadi Pencipta,dia bekerja mencipta dan seluruh yang dia cipta yang mengkomunikasikan tentang keberadaan-NYA, dan yang terpenting dari yang paling penting yang berkesadaran paling sempurna yang menyebutnya sebagai “Sang Pencipta” yakni manusia

Dia tidak berbicara untuk membuat manusia menjadi baik, tetapi dia bekerja memelihara kebaikan manusia tanpa bicara tanpa sabda, karena dia ada disetiap yang hidup, dia ada disetiap yang berkesadaran, dia asal, dia pula wujud, dia yang berkesadaran di dalam wujud yang dia jadikan, yang hidup itu yang berkesadaran atas hidupnya, dan kesadaran yang paling sempurna adalah pada diri manusia ini, kesempurnaan mewujud pada kesempurnaan dirinya

Tuhan yang tidak memahami dirinya sendiri berbicara tentang dirinya, tidak memahami dirinya yang bergerak mencipta dan seluruh yang dia cipta yang berbicara tentang dirinya, dan ketika dia berbicara tentang dirinya itu sama dengan dia berbicara tentang ketidaktauannya sendiri tentang dirinya, dia mengatakan begini dan begitu sesuai prasangka nya belaka, karena dia lupa oleh wujudnya yang berkesadaran sempurna yang telah menipunya

Mengapa kita membicarakan Tuhan karena Tuhan telah beredar luas di pasaran, karena Tuhan telah lupa siapa dirinya yang sesungguhnya hanya bergerak mencipta, bahkan ia mencipta kehancuran kehidupan karena kondisi lupanya yang tidak terkendali, karena dia lupa sadar menyadari kesejatian dirinya sehingga tidak dia sadar telah mencipta kehancuran, dia mencipta penyesatan kesadaran murni manusia yang sesungguhnya dia jadikan dari kesempurnaan miliknya

Sang Pencipta yang tidak lain Sang Maha hidup yang merupakan sebab dari segala sebab seluruh keberadaan, dan keberadaan dirinya yang termanifestasi sebagai yang paling sempurna adalah sebagai manusia, bahwa dia menganggap dirinya pikiran, dia terkelabui oleh kesadaran sempurnanya yang berasal mula kesempurnaan itu sendiri, dan di dalam kebingungan-nya dia bersabda menyabdakan kebingungan dirinya

Kesadaran murni adalah kesadaran yang melampaui pikiran, itu sama sebangun dengan ungkapan Tuhan tidak terpikirkan, karena pikiran terbatasi prasangka, karena pikiran adalah ranah persepsi dan hanya sebatas nilai yang diketahui, sebatas apa yang diketahui maka sebatas itu pula nilai yang di miliki, sekalipun itu atas Tuhan hanyalah sebuah nilai yang terbatas apa yang diketahui belaka

Berbeda pada kesadaran murni yang tiada batas, tidak terikat batas maupun nilai, yang dapat menyadari apapun bahkan yang dapat menyadari yang tiada-batas itu tidak lain kesadaran terjemahan dari hidup yang berasal mula Maha Hidup itu sendiri

Kesadaran sempurna inilah bukti kesempurnaan ciptanya, kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang termanifestasi pada kesempurnaan yang nyata, bukti nyata wujud kesempurnaan yang di miliki-nya, wujud Maha Sempurna yang berkesadaran sempurna inilah pembuktian teerbaik dari kesempurnaan yang di miliki-nya, dan kita sebagai diri-diri yang mewakili kesempurnaan itu idealnya rendah hati karena masih belum mampu melampaui keterkungkungan keterbatasan ini

Dan ketika kita mengetahui diri mewakili kesadaran hidup Sang Maha Pencipta, idealnya kita tau GUNA hidup untuk melayani kemuliaan yang di wariskan kepada setiap diri, GUNA mewujudkan kemuliaan hidup sesuai kemampuan masing-masing diri, yang pasti kita hidup bukan untuk memperseterukan yang tidak kita tau, kita di beri hidup bukan untuk meributkan kebodohan kita, bukan mempertengkarkan lupa kita atas ke dirian sejati kita

Jika Yang Maha Hidup adalah sebab dari segala sebab yang memulai semua keberadaan ini, kita yang berkesadaran sempurna inilah perwakilan paling sempurna dari yang hidup dimaksud, jika Yang Maha Hidup itu Tuhan maka yang berkesadaran hidup sempurna itulah Tuhan, Maha Hidup yang mencapai kesempurnaan sadarnya tercipta dari kesempurnaan miliknya sendiri, dia dirinya sendiri yang mencapai wujud sempurnanya

Dia yang mewujud sebagai seluruh keberadaan dan yang berkemampuan mengenali semua itu adalah kesadaran sempurna manusia, karena memang itulah tujuanya mencapai kesempurnaan untuk mengenali kesempurnaan dirinya melalui kedirian itu sendiri, namun kesempurnaan itu sendiri membuat Sang Diri tersesat, ketika Sang diri memilih berdiri pada bayangannya, ketika Sang Diri tidak lagi mengenal cara mempertahankan kemurnian sadarna, dan mereka jatuh kedalam ketidaktauan, mereka tersesat dan hidup diatas prasangka belaka

Sekawanan burung tidak pernah berdoa tetapi mereka hidup dan mencari makan, golongan ikan dan binatang lain-nya juga sama memiliki kesadaran dan berkemampuan adaptasi pada lingkungan hidup masing-masing karena sejak awal telah tercipta sedemikian rupa, kumpulan planet khusunya bumi yang kita tinggali pun hidup, mereka bergerak dan bekerja sedemikian rupa sesuai keadaan wujudnya, lalu manusia yang kesadaranya paling sempurna memilih sibuk berdoa

Manusia yang tidak berpengetahuan memilih sibuk berseteru tentang Tuhan yang setiap saat menghidupinya karena dia pikir Tuhan ada di dalam agama, karena mereka menyangka agama lebih hidup dibanding manusia, mereka tidak sadar manusialah yang memberi jiwa pada agama, bahkan menjiwai Tuhan yang di yakinin’nya, semata-mata karena ketidaktauan

Aku bersaksi bahwa kesadaran murni Sang Tuan Penyaksi hidupnya, kesadaranku adalah batas yang tiada batas, IA yang terbatas pada prasangka, IA tiada-batas pada kemurnian, IA yang mengetahui yang tertinggi sekaligus yang terendah, yang terbesar sekaligus yang terkecil , IA pembatas ketiadaan batasan dirinya, IA pula yang tidak terbatas pada kemurnian’nya, adakah Tuhan-Tuhan itu sudah mencapai pengetahuan kebijaksanaan tertinggi ini, jika belum – apakah dia layak mengklaim diri sebagai Tuhan yang tertinggi, ataukah Tuhan hanya sebatas yang mampu di klaim oleh kesadaran miliknya

Tentu saja Tuhan sejatinya Tuhan tidak melakukan klaim karena penciptaan ini bersifat final pada kesempurnaan miliknya, bersifat final karena tidak ada lawan selain kesempurnaan dirinya yang mewujud di atas kesempurnaan itu, lalu apa alasan logisnya dia mengklaim diri sebagai Pencipta yang Maha sempurna jika dia berkemampuan mewujud pada kesempurnaan yang mengejawantah pada ke’dirian’nya, jika dia Maha Sempurna maka dia akan memilih mewujudkan diri pada kesempurnaan yang melekat padanya, sehingga kesempurnaan’nya bukan hanya sebatas klaim

Jika kebesaran DIA-Tuhan mampu mewujud pada apapun yang dikehendaki-Nya, tentu pilihan dia adalah menjadikanya ada – bukan memilih hanya melakukan klaim belaka, apalah lagi “BERJANJI” karena Sang Pencipta tidak pernah berhutang pada apa yang dia cipta, karena dia mencipta wujud berserta seluruh penopang kehidupan wujud yang dia jadikan, dalam artian – tanpa penopang – tidak ada wujud yang dapat menjadi, semisal kesempurnaan alam bumi yang semula dia jadikan yang kemudian mahluk-mahluk biologis dapat hidup di atasnya

Orang-orang bingung bersabda diatas kebingungan-nya, berbicara tanpa kebijaksanaan diatas ketertipuan kesempurnaan sadarnya, dan yang tertipu mengikutinya tanpa kecerdasan karena mereka lebih senang mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukan yang seharusnya mereka ketahui dan di sadari,seketika itu mereka membiarkan diri terbuai ilusi’nya

Setiap saat mereka berperang melawan dirinya sendiri, seumur hidup bersusah payah mengingkari pesan-pesan yang setiap saat digetarkan kesadaran murni yang tertutup kegelapan prasangka, IA yang setiap saat selalu mengingatkan dirinya, bahwa penderitaan hidup yang selalu bergelayut di rasa hidup yang di jalani berasal mula ketersesatan yang tidak disadari, ketersesatan yang diyakini sebagai kebenaran, ketertipuan yang di sangka sebagai kebenaran

Bagian yang manakah dari kesadaran sempurna itu yang tidak merasa memiliki kebenaran, terlepas apakah kebenaran yang disadarinya diungkapkan atau tidak, sebab seluruh DIRI-DIRI yang SADAR itu tidak lain Maha Hidup yang rasa hidupnya diterjemahkan oleh tubuh Manusia Yang Maha Sempurna ini, tentu saja diri-diri itu akan merasa memiliki dan mengetahui “kebenaran” karena asal mula munculnya kesadaran itu sendiri tidak lain “kebenaran” yang mewujud

Capaian tingkat kebijaksanaan lah yang menjadi pembeda kebenaran-kebenaran tersebut, dan kebenaran tertinggi tidak lain tercapainya kebijaksanaan tertinggi oleh yang berkesadaran sempurna, yang demikian yang dimaksud sebagai Tuhan bukan yang mengklaim akan tetapi yang menjadi

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

“BELAJAR DARI REALITA”

Published

on

Realitas hidup tempat kita belajar kebenaran, adakah yang mengetahuinya atau sekedar ingin mengetahui , sebab sebaik apapun sebuah klaim atas theory hidup akan muncul sebagai realitas , klaim tinggalah klaim jika kenyataan menunjukan yang berbeda

Sebuah ajaran yang sekalipun mengklaim diri mengajarkan adab akan tetapi jika menghasilkan prilaku barbar, itu ajaran barbar, dapat dipastikan ajaran dimaksud pasti tidak mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, sehingga tidak mengarah panutan mencapai kebijaksanaan

Kita tidak menyetel radio untuk menonton gambar, kita tidak belajar agama untuk menjadi orang baik, karena tuntunan tidak lebih hanya cara menuju, ajaran tidak pernah lebih dari apa yang tertulis di dalamnya, dan yang tertulis itu yang membentuk karakter pengikut – pengikutnya, sedangkan tata cara manusia hidup dengan keragaman dinamikanya tidak akan pernah bisa dituliskan secara keseluruhan, tidak bisa ditebak dan diseragamkan, tidak juga oleh Tuhan

Bagaimana mungkin Tuhan tidak menyadari perkara yang paling sederhana, bahwa hidup tidak bisa bergantung pada teks karena hidup bergantung kesadaran, siapakah Tuhan ini yang begitu gegabah memerintahkan manusia hidup berdasarkan teks dari perintahnya

Bukankah seharusnya Tuhan Maha Bijak mengetahui setiap perkara kehidupan, ataukah dia sengaja memberlakukan penyesatan itu pada suatu kaum, agar yang lain belajar dari prilaku barbar yang mereka pertontonkan, tentu saja kita membutuhkan pengamatan seksama dan kritis, bagi mereka yang berpikir

Bagi mereka yang pikiranya telah mati termakan doktrin, sudah nasib mereka atas kehendak Tuhan-NYA, mereka akan tetap melakukan apa yang diperintahkan tanpa berpikir lebih jauh karena itu dari Tuhan, karena Tuhan Maha benar, dan menjadi hak Tuhan pula menutup dan menyesatkan mereka yang bodoh karena lupa dan tidak mampu melihat kebenaran dan belajar dari realitas yang dia saksikan

Menumbal mereka yang bodoh karena hidup tidak mengandalkan kesadaran, mungkin itu dijadikan oleh Tuhan-NYA sebagai alat pembelajaran bagi mereka yang berkesadaran penuh, pemberlakuan seleksi alam, seperti ledakan yang disebabkan gunung berapi yang menakutkan yang memuntahkan material yang berguna untuk kesuburan bumi, mungkin demikian juga dengan tumbal-tumbal manusia, jika dia berkehendak demikian

Maka akan dia sesatkan orang-orang yang dia inginkan, dengan segala cara, bahkan dengan menurunkan sebuah ajaran jika di butuhkan, untuk memastikan tercapainya tujuan dimaksud, tentu saja semua itu bagian dari hak prerogatif Tuhan

Yang sadar melihat relitas kekinian sebaiknya menarik diri, mengamati dengan seksama dalam kewaspadaan, ngono-yo-ngono ning-ojo-ngono, tidak usah ikut-ikutan membebek hanya untuk sebuah kemuliaan tampak, kemuliaan hore-hore atau kemegahan semu, kita dibekali akal pikiran di guna kewaspadaan untuk mengamati dan belajar dari kejadian hidup

Hidup tidak akan menemukan keagungannya hanya dengan mengikuti teks, karena hidup tentang menyadari apa yang berlangsung sebagai realitas yang nyata untuk di cermati, jika sebuah ajaran menghasilkan kegaduhan dan mereka kukuh bertahan di dalamnya, itu kebodohan, bacalah, sadari dari realitas bukan dari buku teks, karena buku tidak ikut merasakan hasil dari apa yang dia katakan, manusialah objek penderita atas relitas yang dijalani

Buku sekalipun itu bertuliskan kata-kata Tuhan tidak akan pernah bisa melebihi keagungan manusia, karena buku dan ucapan Tuhan membutuhkan manusia untuk sampai ke manusia yang lain, Tuhan tidak berdaya menyampaikan sabdanya tanpa ada manusia, tentu bagi mereka yang belum mencapai kebijaksanaan menganggap kata-kata seperti ini sebuah kesombongan, mereka lupa menjadi pintar karena tidak mengembangkan kesadaran dirinya

Realitas hidup yang sangat kacau mengarah prilaku barbarian, masih belum mampu membuka mata hati mereka, karena mereka bertumpu di hati sehingga mereka bercinta dengan kegelapan sadarnya, tentu saja semua itu kehendak bebas, bebas menentukan nasib hidupnya

Dan benar sebenar-benarnya semua itu mutlak atas ketentuan Tuhan mereka, karena jiwa mereka penuh kepasrahan sekalipun untuk digelapkan oleh Tuhan mereka sendiri, dan mereka tidak mau berdaya karenanya karena mereka telah berjanji iklas sejak semula, kita yang diluar pagar lebih beruntung menjadi saksi prilaku mereka yang gelap mata, bukankah sejelas itu juga yang di sabda-kan Tuhan mereka, bagi mereka yang berpikir

Atlantia Ra

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam