Connect with us

Mangku Bumi

TANTRA SHASTRA (3)

Published

on


Penderitaan adalah konsekwensi, konsekwensi dari Sang Maha Hidup yang mencapai wujud’nya adalah kesadaran atas rasa hidupnya, kesadaran hidup yang kehilangan pegangan pada kesejatian diri itulah yang merasa menderita

Wujud mengandung lupa/Maya, lupa pada kesejatian diri bahwa yang sejati yang tidak menjalani perubahan, membiarkan diri tersesat kesadaran wujud karena kemelekatan pada rasa hidup, kemelekatanlah yang membuat seolah menderita

Jika tidak mengenali diri, tidak mengenali keterhubungan atas setiap yang hidup, tidak mengenal diri sama dengan tidak mengenal hidup, karena diri tidak lain yang hidup, tidak mengenal hidup tidak kenal tuhan ,karena Tuhan sejatinya Tuhan dan bahkan satu-satunya Tuhan hanya Sang Maha Hidup itu saja, dan benih-benih hidupnya yang berkesadaran sempurna di tubuh manusia ini

Uta Protha : meresap merangkai, resapan kekuatan hidup yang terjerat kepada rangkaian wujud’ya mengalami ketertindasan rasa hidup oleh bangunan tubuh yang dirangkainya, bukan terburu-buru tuhan karena pengetahuan yang sebatas kulit akan dijadikan bahan tertawaan

Rasa hidup tentang yang telah berwujud, tentang keterhubungan pada sumber hidup yang tunggal, tentang kesadaran hidup yang dilayani, kesadaran atas hidup ini perwakilan atau bayangan atau identitas sang maha hidup atas wujud sebagai manifestasinya, demikian Tantra

Perwujudan bayangan kekuatan Sang Maha
Hidup itu tidak lain Maya/Ghaib, Maya merupakan kekuatan yang maha ghaib, demikian segenap wujudnya berada di bawah kekuasaan Raja-Maya, karena wujud dan mayanya antara resapan pada rangkaian

Maya merupakan bayangan kekuatan hidup Sang Maha Hidup itu sendiri dan bayangan wujud dari yang hidup tidak lain kesadaran atas hidupnya, karena yang sadar atas hidup itu tidak lain yang hidup, hidup hanya berasal dari hidup, yang sumbernya Maha Hidup

Yang berkesadaran atas keterhubungan diri pada hidup itulah Tantra, Tantra tidak lain penyedia pengetahuan dari segenap (rasa) hidup, sekaligus pelayan hidup, dia guru sekaligus pembantu, dia wujud sekaligus bukan wujud, kondisi “ada” dari yang tiada-wujud, wujud dari yang tidak tampak, “kesadaran-hidup”

Keberadaan Tantra sama persis seperti perlakuan manusia kepada Tuhan junjungan’Nya, kadang disembah kadang dijadikan pembantu untuk memenuhi keinginan mereka, karena pemberi segala pemenuhan hidup tidak lain kekuatan Tantra Bhairawa, baik pemenuhan yang enak-enak maupun yang tidak enak, kekuatan maha dari tantra inilah sang pemenuh

Tantra tidak lain pembatas yang tiada batas atau wujud nyata dari yang tiada wujud itu sendiri, dia ghaib dari yang maha ghaib, yang tertinggi sekaligus yang terendah, Tantra merupakan sumber dari segala sumber pengetahuan wujud,
Tan Berarti pemaparan tra berarti menyeberangkan

Secara keseluruhan Tantra berarti yang menyeberangkan seluruh pemaparan, tidak lain kesadaran hidup itu sendiri sebagai sosok yang menyeberangkan yang tiada wujud kepada wujudnya, sekaligus sebagai yang memaparkan seluruh proses mewujud dari kondisi yang tiada wujud

Jika anda belum bisa lepas dari tokoh tuhan, setidaknya pahamilah tuhan secara benar, agar tidak berprilaku tuhan yang membabi buta, orang tualah tokoh simbolis sang pencipta yang terdekat, setidaknya sanggama merekalah yang memberimu jalan terlahir ke dunia ini, orang tua dari orang tua yang tertua disebut leluhur

Jangankan bersombong hendak mengenal tuhan, mengenal leluhurmu pun tak mampu, tidak usah bicara mengetahui jalan hidup yang baik, yang memberi jalan lahir dan berkehidupan saja demikian sulit

Sebelum sampai ke Tuhan, setidaknya leluhurmu yang memulai memilihkan tempat nyaman untuk lahir dan melanjutkan berketurunan, mencetak bayi-bayi baru untuk merasakan pemderitaan hidup, itu jika hidup semata mata dianggap tentang penderitaan rasa hidup

Leluhurlah yang mewariskan petuah-petuah kebaikan hidup, seperti keinginan baik untuk diri pribadinya, demikian pula mereka menginginkan kebaikan bagi anak cucu keturunanya, ego orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak keturunanya, jika hidup ini tentang kepercayaan, maka merekalah sosok yang paling layak di percaya menjadi penyedia ruang kebaikan hidup

Feminin-Masukilin, Lingga-Yoni hidup antara yang melihat di balik materi + kesadaran hidupnya , lingga Yoni Sakti dari yang hidup itu antara gerak kesadaran dan suara prilaku’nya, sesuatu yang hidup pasti berkesadaran atas hidupnya, sesuatu yang bergerak pasti bersuara, kesadaran bergerak seiring suara nyanyian hidup menjalani siklus hidup, pelayanan mewujud dan kehancuran wujud

Di sisi yang lain, benar-benarkah seseorang meyakini dan bahkan mencintai Tuhan, dengan ketulusan atau segenap jiwa dan raga, contoh kecil semisal : seseorang menangis meraung-raung karena rasa tidak terima akibat terdampak tsunami atau gunung meletus, tangisan panik bercampur ketakutan hingga ke bibir dubur, sambil meneriakan kebesaran Tuhan

Bukankah kita tau semua itu gerak hidup alamiah alam, seperti kita, alam yang juga hidup itu butuh pelepasan-pelepasan energy/kekuatan hidupnya, hidup yang tidak lain Tuhan, sekalipun takut atas kebuasan kekuatan alam tetapi tidak diperlukan respon berlebihan, berkeluh-kesah pada Tuhan bukti keraguan pada kebijaksanaan tuhan

Jika benar cinta tuhan, itu artinya kamu cinta pada hidupmu, menjauhlah mencari posisi aman, menjauhlah selamatkan hidup masing-masing jika terjadi bencana, jangan berdoa untuk menghindari muntahan batu dan debu beracun ledakan gunung, karena batu dan racun tidak mengerti bahkan tidak perduli bahasa oral manusia, otaklah yang paling perduli pada keselamatan hidupnya

Tantra tentang sadar pada segenap wujud yang hidup, menyangkut pengetahuan keterhubungan pada segenap yang hidup, kepekaan atas keterhubungan ini yang menjadi juru selamat yang tidak perlu diragukan, karena semua kebenaran yang benar dan nyata terpapar di kesadaran, dan bahwa hanya kesadaran yang tidak mungkin membohongi dirinya sendiri

Atlantia Ra


Daerah

Jangan Sampai Jadi Pemangku Tanggung, Ikuti Kursus Kepemangkuan Disini!

Published

on

GatraDewata ⌊Denpasar⌋ Pasraman Ghanta Yoga membuka kursus Kepemangkuan dibawah naungan Yayasan Taman Bukit Pengajaran. Pendaftaran sudah mulai dibuka sejak awal minggu ini dan akan ditutup pada tanggal 28 November 2020.

Pelatihan kepemangkuan ini akan digelar pada tanggal 29 November 2020, dimulai dengan proses mewinten. Pelatihan kepemangkuan ini berlangsung selama 3 bulan dengan total 24 kali pertemuan. Seluruh pelatihan akan dilakukan di Pasraman Ghanta Yoga yang beralamat di Gang Ulun Carik V Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Adapun materi yang akan diberikan dalam kursus kepemangkuan dasar ini, meliputi :

  • Sesana/swadarmaning pemangku; sesi ini akan terfokus untuk melatih peserta tata cara pemangku nganteb
  • Wariga; pengenalan pencarian hari baik
  • Tatwa
  • Upacara/Upakara; pemaparan upacara mulai dari manusa, dewa hingga butha yadnya
  • Dasar Kosala Kosali
  • Gegelaran pemangku; materi lanjutan dari swadarmaning pemangku


Kursus pelatihan kepemangkuan ini dibuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang sedang aktif maupun pemula dibidnag kepemangkuan. “Siapa saja boleh ikut; baik pemangku aktif maupun calon atau orang-orang yang ingin jadi pemangku” terang Ketua Pesraman Ghanta Yoga.

Donasi untuk kursus kepemangkuan ditetapkan sebesar 800 ribu/orang untuk seluruh sesi, yang berdurasi antara 1.5 hingga 2 jam per sesinya. Sebagai bonus, peserta akan diberikan pelatihan tambahan yaitu Yoga Asuci Laksana guna meningkatkan kesucian diri dan kerahayuan.  Peserta juga akan diberikan panduan materi untuk kemudian dibawa pulang, serta sertifikat bagi yang berhasil menuntaskan seluruh sesi.

Untuk keterangan lebih lanjut pembaca GatraDewata bisa menghubungi bagian administrasi di nomor 08993182858.<swn>

Continue Reading

Mangku Bumi

“NRIMO”

Published

on

By

GATRA DEWATA | Nrimo, bekerja tanpa mengharap hasil,bukan berarti tanpa hasil, pelayaan hidup diatas Rasa-Bhakti akan membangkitkan kekuatan tubuh membantu kemudahan pekerjaan hidup, keterjagaan adalah pengamat dan penggerak, kekuatan dan ghaib berada pada domain tubuh

Menjadi-Diri seutuhnya yang Sadar akan Kesejatian-Diri, Terjaga sebagai pengamat
sekaligus tuan penggerak kehidupan dengan Rasa Bhakti, sehingga, mau tidak mau segenap kekuatan badan tunduk membantu, sebab hidup adalah tentang pemeliharaan tubuh

Pemeliharaan dengan cara BENAR menghasilkan “Keseimbangan”, pencapaian keseimbangan-Hidup inilah yang disebut Pemilik Kesempurnaan, jika belum, maka Kesempurnaan tersebut masih sebatas bayangan, sama seperti menghayal tentang keberadaan Tuhan yang belum MENJADI, ibarat Sang-Maha-Hidup hanya Eksistensi Hidup Tanpa-Rupa Tanpa-Wujud tanpa Keterjagaan Atas Hidup’NYA

Nrimo,
menyederhanakan wajah keterjagaan sebagai sang pemilik kesadaran hidup itu saja, selanjutnya seluruh kekuatan atas pelihara cipta lebur adalah milik tubuh, yang berarti cipta pelihara lebur adalah sifat pembungkus hidup sang hidup, sehingga bukan lagi hasil yang “Utama” namun upaya penyelarasan Diri terhadap sifat Cipta Pelihara Lebur pembungkus hidup’Nya

Hidup tentang keterjagaan ini, saat ini, bukan di depan bukan di belakang, tetapi saat ini atas keterjagaan yang didapati, sekalipun ada yang mengaku kenal “Tuhan” Sang-Pencipta Alam-Semesta, apa pentingnya, membohongi diri mengenal Tuhan Sang Maha Hidup tetapi tidak mengenali kesejatian-diri adalah Sang-Hidup yang terjaga atas ke’Diri’an hidup’NYA

Hanya “merasa” TAU akan tetapi tidak pernah menjadi saksi hidup kejadian Awal Penciptaan, itu sebentuk kebohongan yang menyesatkan dari orang-orang yang disesatkan ketidaktauanya sendiri, penyaksian hanya ada saat keterjagaan ada, yang terjaga inilah yang berandai-andai

Adalah baik baik bagi individu berkeyakinan, tetap bisa meyakini sekalipun tidak menyaksikan apa yang diyakininya, namun keyakinan seperti itu bersifat Pribadi, menjadi Tidak-Baik ketika Keyakinan Individual dipaksak menjadi kebenaran umum, sebab kebenaran adalah “Kehendak Bebas”

Keterjagaan tidak lain eksistensi penyaksi keberadaan hidup’Nya sendiri atas kesadaran hidup yang dilayani, dan wajah keterjagaan idealnya di depan atau tampak depan bukan di belakang atau tampak belakang, halnya Sang Maha Hidup yang “tiada-wujud” mencapai wujud dan kehancuran wujud’Nya, begitulah KEPASTIAN WAJAH gerak-hidup mengarah depan bukan belakang, mungkin itu pula alasan Tuhan menempatkan wajah di depan bukan di belakang

Penggalian Kesejatian-Diri belakangan menjadi kata wajib spiritualitas, itu semata laku pikiran, bagi yang berasumsi Kesejatian-Diri sebuah pencarian, berputar-putar dalam kebingungan tanpa ujung-pangkal, menggali atau mencari “kesejatian-diri” yang tidak pernah kemanapun

Yang tidak pernah kemana-mana ITU tidak perlu di cari atau di gali, IA ada berselimut kegelapan, keberadaan Diri yang sedang bingung dikuasai lupa-maya-ghaib- kepalsuan, palsu sebab hanya bayangan, kegelapan ini tidak hancur, kegelapan hanya larut kedalam cahaya, itu sebab dikatakan hanya Pengetahuan yang dapat melebur penderitaan, membuat kegelapan bersinar dengan Cahaya Kesadaran, astra/astro, bintang yang bercahaya

Para pemula cenderung terbius ambisi prasangka menganggap kesejatian tentang kemampuan menjelajah alam ghaib,astral, bukan upaya menjadi manusia paripurna atas pelayanan hidup, hanya menghabiskan waktu bermain-main, kenikmatan kebanggan semu mencapai keremangan astral, seumpama bintang menunggu kematian bukan sebagai bintang bersinar

Kekuatan cipta-pelihara lebur yang bersifat ghaib adalah milik badan, keterjagaan sendiri hanya wajah sang hidup yang sama dengan yang menghidupi keGhaiban badan, Kebodohan yang menyelimuti Sang Tuan Hidup menjerumuskan kehidupan ke jurang kegelapan menjadi Budak-Maya/materialistis,menjadi pengejar dan penyembah materi maupun GHAIB materi

Yang berkeinginan tau tentang kesejatian diri idealnya memulainya dengan penyadaran Diri bukan materi, Diri dimunculkan oleh keberadaan materi penterjemah keterjagaan hidup, kemudian menerima pelayanan atas pemeliharaan pembungkus hidup’nya

Keterjagaan hanya melayani pemeliharaan hidupnya, tubuh dan segenap kekuatan cipta pelihara lebur maya/ghaib nyalah penyedia segala keperluan yang dibutuhkan untuk peliharaan dirinya, keterjagaan hanya berkehendak yang terrbaik

Jika kekuatan cipta pelihara lebur yang merupakan perangkat tubuh itu tidak atau belum memenuhinya, layani saja, keadaan itulah yang menurut’NYA (NYA keduanya karena ketidak selarasan) keadaan terrbaik diterima atas hidup atas pemeliharaan badanya saat itu, demikian jika dipenuhi, tidak perlu disombongkan karena hanya sebuah bentuk pemenuhan yang di dasari atas upaya penyeimbangan spirit materi

Pemenuhan atas keseimbangan spirit materi bukan hanya berbentuk kekayaan semata, walaupun upaya mencapai puncak kemuliaan hidup Pasti MENJADI SUMBER KEKUATAN PEWUJUD kemakmuran kehidupan, halnya yang tiada-wujud mewujud menjadi segalanya, akan tetapi ketahui dan sadarilah bahwa kebangkitan diawali oleh kehancuran

Itulah sebabnya NRIMO, agar kelebihan ambisi tidak menjerumuskan diri terseret pusaran Cakra Mangilingan menjadi perwakilan pengacau/penghancur dalam proses kebangkitan, hanya karena berambisi mempercepat, apa yang mau dipercepat karena semua mewujud atas dasar Kebijaksanaan kekuatan adaptasi, bukan oleh ego bukan pula oleh ambisi, tetapi NRIMO, Mengisi Ruang atas dasar Kebijaksanaan Menjadi

Sekalipun memilih menjadi kaum pemercepat penghancuran/pelaku perang tidak terlalu buruk, atau mewakili kegelapan sebagai aktor pelaku pemaksaan bangkitnya cahaya kebenaran, akan tetapi itu bukan yang terrbaik,
sekalipun itu Laku Mulia, namun Bukan Kemuliaan Di Atas Keluhuran Prilaku, akan tetapi atas ketidak berdayaan oleh desakan Ambisi-Ego

Demikian ketika manusia menyembah Kemuliaan Tuhan sebagai simbolisasi dari “Leluhur Seluruh Kehidupan”, menyembahlah kepada Kemuliaan-Luhur, baik atas keluhuran-pikiran Tuhan, keluhuran-ucap Tuhan, keluhuran-laku Tuhan, Trikaya Parisudha : Ucap
-Laku-Pikiran Selaras pada Kemuliaan Tuhan yang Luhur, sehingga apapun Ucap Laku Pikiran Penyembah mewakili Ucap-Laku-Pikiran Tuhan yang di sembah

Jika nama lain Tuhan adalah Sang Maha Hidup, maka Keterjagaan yang mewakili wajah-hidupnya tak lain Wajah Tuhan

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (11)

Published

on

Penulis minta maaf karena Harmony with Ayurveda edisi 11 agak terlambat mengunjungi para pembaca, dikarenakan adanya satu dan lain hal. Edisi sebelumnya telah dipaparkan penyakit yang disebabkan oleh sebab fisik dan biologi yaitu pikiran. Sebab fisik dan biologi yang kedua adalah pola makan atau diet.

Kegiatan makan dapat dikatakan aktivitas kedua paling sering kita lakukan. Paling tidak tiga kali sehari kita makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita akan nutrisi untuk bertumbuh, beraktifitas serta memelihara kesehatan sel tubuh, jaringan, organ dan sistem organ.

Agar makanan dapat memenuhi syarat sebagai sumber nutrisi untuk menopang semua aktivitas tubuh dan pikiran, maka beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan yaitu jenis dan komposisi makanan, waktu dan frekuensi makan serta sistem metabolisme dalam hal ini sistem pencernaan. Faktor yang lain adalah jenis dan intensitas aktivitas harian kita, tipe dosha serta usia yang akan menentukan secara dinamis pola makanan yang kita butuhkan yang pada intinya untuk tetap harmoni (sehat) dari hari ke hari.

Apabila jenis dan komposisi makanan, waktu dan frekuensi makannya tidak tepat, maka makanan tersebut tidak akan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita yang pada gilirannya kita akan mengalami ketidakseimbangan (disharmoni) tridosha dan akhirnya menjadi penyakit.

Demikian juga, walau jenis dan komposisi makanan, waktu dan frekuensi makannya sudah tepat, namun sistem pencernaan kita tidak berfungsi dengan baik, maka makanan tersebut tidak akan dapat diolah menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita, bahkan bisa menjadi zat toksik (racun) bagi tubuh kita, yang pada gilirannya mengantarkan kita pada kondisi disharmoni. Secara tidak langsung dari paparan di atas dapat kita pahami, bagaimana peran penting dari makanan atau pola makan (diet) dan sistem pencernaan dalam menjaga dan memelihara harmoni kita dari waktu ke waktu. Sebagai penutup edisi ini, penulis kutipkan sebuah ungkapam yang penuh makna dari Ayurweda, “ when diet is wrong, medicine is of no use. When diet is correct, medicine is of no need”.

Hal ini sejalan dengan ungkapan dari Thomas Edison, “the doctor of the future will give no medication, but will interest his patients in the care of the human frame, diet and in the cause and prevention of disease”.

Radite, 12.07.20
Rahayu

Prof. I Ketut Adnyana

Dekan Sekolah Farmasi ITB

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam