Connect with us

Mangku Bumi

SABDA ORANG BINGUNG

Published

on


Jika Tuhan maha pencipta, dia Tuhan berbicara melalui seluruh yang dia wujudkan, seluruh wujud yang dia jadikan adalah jalan Sang Maha Pencipta mengkomunikasikan dirinya kepada ciptaanya, kesempurnaan yang termanifestasi pada wujud-wujud yang disertai segenap kesempurnaan masing-masing, dan pada wujud manusia lah dia Sang Maha hidup itu mencapai kesadaran sempurna’nya, begitulah kebenaran yang sesungguhnya kebenaran, jika Tuhan mu tidak berwujud maka dia Tuhan yang tidak mewujudkan apa-apa, kamu tertipu oleh ketidaktauanmu

Tidak ada pencipta yang tidak mewujud, yang tidak mewujud berarti sama sebangun tidak ada, bahwa di dalam yang mewujud itulah wujud dan juga tiada wujudnya tunggal, itulah yang dimaksud rwa bineda, ada dan tiada-nya tunggal, sisi negatif dan sisi positifnya dualitas tunggal dan yang ketiga adalah kesadaran yang mengetahuinya, keberadaan lah yang dapat mengenali ketiadaan, yang menyatakan tinggi rendah adalah yang wujud , yang mengetahui batas tiada batas adalah wujud, dan kesemua itu dikenali oleh kesadaran atas keberadaan, tanpa keberadaan tidak ada yang dapat dikenali dan mengenali , dan nabi anda kebingungan menyadari kebenaran sesederhana itu

Sekali lagi Tuhan berkomunikasi melalui apa yang dia wujudkan,kekuatan ciptanya menjadi pada apa yang dia cipta, tanpa yang berwujud dia bukan apa-apa, dia tidak mungkin dikenal sebagai pencipta, dia harus mewujud untuk menjadi Pencipta,dia bekerja mencipta dan seluruh yang dia cipta yang mengkomunikasikan tentang keberadaan-NYA, dan yang terpenting dari yang paling penting yang berkesadaran paling sempurna yang menyebutnya sebagai “Sang Pencipta” yakni manusia

Dia tidak berbicara untuk membuat manusia menjadi baik, tetapi dia bekerja memelihara kebaikan manusia tanpa bicara tanpa sabda, karena dia ada disetiap yang hidup, dia ada disetiap yang berkesadaran, dia asal, dia pula wujud, dia yang berkesadaran di dalam wujud yang dia jadikan, yang hidup itu yang berkesadaran atas hidupnya, dan kesadaran yang paling sempurna adalah pada diri manusia ini, kesempurnaan mewujud pada kesempurnaan dirinya

Tuhan yang tidak memahami dirinya sendiri berbicara tentang dirinya, tidak memahami dirinya yang bergerak mencipta dan seluruh yang dia cipta yang berbicara tentang dirinya, dan ketika dia berbicara tentang dirinya itu sama dengan dia berbicara tentang ketidaktauannya sendiri tentang dirinya, dia mengatakan begini dan begitu sesuai prasangka nya belaka, karena dia lupa oleh wujudnya yang berkesadaran sempurna yang telah menipunya

Mengapa kita membicarakan Tuhan karena Tuhan telah beredar luas di pasaran, karena Tuhan telah lupa siapa dirinya yang sesungguhnya hanya bergerak mencipta, bahkan ia mencipta kehancuran kehidupan karena kondisi lupanya yang tidak terkendali, karena dia lupa sadar menyadari kesejatian dirinya sehingga tidak dia sadar telah mencipta kehancuran, dia mencipta penyesatan kesadaran murni manusia yang sesungguhnya dia jadikan dari kesempurnaan miliknya

Sang Pencipta yang tidak lain Sang Maha hidup yang merupakan sebab dari segala sebab seluruh keberadaan, dan keberadaan dirinya yang termanifestasi sebagai yang paling sempurna adalah sebagai manusia, bahwa dia menganggap dirinya pikiran, dia terkelabui oleh kesadaran sempurnanya yang berasal mula kesempurnaan itu sendiri, dan di dalam kebingungan-nya dia bersabda menyabdakan kebingungan dirinya

Kesadaran murni adalah kesadaran yang melampaui pikiran, itu sama sebangun dengan ungkapan Tuhan tidak terpikirkan, karena pikiran terbatasi prasangka, karena pikiran adalah ranah persepsi dan hanya sebatas nilai yang diketahui, sebatas apa yang diketahui maka sebatas itu pula nilai yang di miliki, sekalipun itu atas Tuhan hanyalah sebuah nilai yang terbatas apa yang diketahui belaka

Berbeda pada kesadaran murni yang tiada batas, tidak terikat batas maupun nilai, yang dapat menyadari apapun bahkan yang dapat menyadari yang tiada-batas itu tidak lain kesadaran terjemahan dari hidup yang berasal mula Maha Hidup itu sendiri

Kesadaran sempurna inilah bukti kesempurnaan ciptanya, kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang termanifestasi pada kesempurnaan yang nyata, bukti nyata wujud kesempurnaan yang di miliki-nya, wujud Maha Sempurna yang berkesadaran sempurna inilah pembuktian teerbaik dari kesempurnaan yang di miliki-nya, dan kita sebagai diri-diri yang mewakili kesempurnaan itu idealnya rendah hati karena masih belum mampu melampaui keterkungkungan keterbatasan ini

Dan ketika kita mengetahui diri mewakili kesadaran hidup Sang Maha Pencipta, idealnya kita tau GUNA hidup untuk melayani kemuliaan yang di wariskan kepada setiap diri, GUNA mewujudkan kemuliaan hidup sesuai kemampuan masing-masing diri, yang pasti kita hidup bukan untuk memperseterukan yang tidak kita tau, kita di beri hidup bukan untuk meributkan kebodohan kita, bukan mempertengkarkan lupa kita atas ke dirian sejati kita

Jika Yang Maha Hidup adalah sebab dari segala sebab yang memulai semua keberadaan ini, kita yang berkesadaran sempurna inilah perwakilan paling sempurna dari yang hidup dimaksud, jika Yang Maha Hidup itu Tuhan maka yang berkesadaran hidup sempurna itulah Tuhan, Maha Hidup yang mencapai kesempurnaan sadarnya tercipta dari kesempurnaan miliknya sendiri, dia dirinya sendiri yang mencapai wujud sempurnanya

Dia yang mewujud sebagai seluruh keberadaan dan yang berkemampuan mengenali semua itu adalah kesadaran sempurna manusia, karena memang itulah tujuanya mencapai kesempurnaan untuk mengenali kesempurnaan dirinya melalui kedirian itu sendiri, namun kesempurnaan itu sendiri membuat Sang Diri tersesat, ketika Sang diri memilih berdiri pada bayangannya, ketika Sang Diri tidak lagi mengenal cara mempertahankan kemurnian sadarna, dan mereka jatuh kedalam ketidaktauan, mereka tersesat dan hidup diatas prasangka belaka

Sekawanan burung tidak pernah berdoa tetapi mereka hidup dan mencari makan, golongan ikan dan binatang lain-nya juga sama memiliki kesadaran dan berkemampuan adaptasi pada lingkungan hidup masing-masing karena sejak awal telah tercipta sedemikian rupa, kumpulan planet khusunya bumi yang kita tinggali pun hidup, mereka bergerak dan bekerja sedemikian rupa sesuai keadaan wujudnya, lalu manusia yang kesadaranya paling sempurna memilih sibuk berdoa

Manusia yang tidak berpengetahuan memilih sibuk berseteru tentang Tuhan yang setiap saat menghidupinya karena dia pikir Tuhan ada di dalam agama, karena mereka menyangka agama lebih hidup dibanding manusia, mereka tidak sadar manusialah yang memberi jiwa pada agama, bahkan menjiwai Tuhan yang di yakinin’nya, semata-mata karena ketidaktauan

Aku bersaksi bahwa kesadaran murni Sang Tuan Penyaksi hidupnya, kesadaranku adalah batas yang tiada batas, IA yang terbatas pada prasangka, IA tiada-batas pada kemurnian, IA yang mengetahui yang tertinggi sekaligus yang terendah, yang terbesar sekaligus yang terkecil , IA pembatas ketiadaan batasan dirinya, IA pula yang tidak terbatas pada kemurnian’nya, adakah Tuhan-Tuhan itu sudah mencapai pengetahuan kebijaksanaan tertinggi ini, jika belum – apakah dia layak mengklaim diri sebagai Tuhan yang tertinggi, ataukah Tuhan hanya sebatas yang mampu di klaim oleh kesadaran miliknya

Tentu saja Tuhan sejatinya Tuhan tidak melakukan klaim karena penciptaan ini bersifat final pada kesempurnaan miliknya, bersifat final karena tidak ada lawan selain kesempurnaan dirinya yang mewujud di atas kesempurnaan itu, lalu apa alasan logisnya dia mengklaim diri sebagai Pencipta yang Maha sempurna jika dia berkemampuan mewujud pada kesempurnaan yang mengejawantah pada ke’dirian’nya, jika dia Maha Sempurna maka dia akan memilih mewujudkan diri pada kesempurnaan yang melekat padanya, sehingga kesempurnaan’nya bukan hanya sebatas klaim

Jika kebesaran DIA-Tuhan mampu mewujud pada apapun yang dikehendaki-Nya, tentu pilihan dia adalah menjadikanya ada – bukan memilih hanya melakukan klaim belaka, apalah lagi “BERJANJI” karena Sang Pencipta tidak pernah berhutang pada apa yang dia cipta, karena dia mencipta wujud berserta seluruh penopang kehidupan wujud yang dia jadikan, dalam artian – tanpa penopang – tidak ada wujud yang dapat menjadi, semisal kesempurnaan alam bumi yang semula dia jadikan yang kemudian mahluk-mahluk biologis dapat hidup di atasnya

Orang-orang bingung bersabda diatas kebingungan-nya, berbicara tanpa kebijaksanaan diatas ketertipuan kesempurnaan sadarnya, dan yang tertipu mengikutinya tanpa kecerdasan karena mereka lebih senang mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukan yang seharusnya mereka ketahui dan di sadari,seketika itu mereka membiarkan diri terbuai ilusi’nya

Setiap saat mereka berperang melawan dirinya sendiri, seumur hidup bersusah payah mengingkari pesan-pesan yang setiap saat digetarkan kesadaran murni yang tertutup kegelapan prasangka, IA yang setiap saat selalu mengingatkan dirinya, bahwa penderitaan hidup yang selalu bergelayut di rasa hidup yang di jalani berasal mula ketersesatan yang tidak disadari, ketersesatan yang diyakini sebagai kebenaran, ketertipuan yang di sangka sebagai kebenaran

Bagian yang manakah dari kesadaran sempurna itu yang tidak merasa memiliki kebenaran, terlepas apakah kebenaran yang disadarinya diungkapkan atau tidak, sebab seluruh DIRI-DIRI yang SADAR itu tidak lain Maha Hidup yang rasa hidupnya diterjemahkan oleh tubuh Manusia Yang Maha Sempurna ini, tentu saja diri-diri itu akan merasa memiliki dan mengetahui “kebenaran” karena asal mula munculnya kesadaran itu sendiri tidak lain “kebenaran” yang mewujud

Capaian tingkat kebijaksanaan lah yang menjadi pembeda kebenaran-kebenaran tersebut, dan kebenaran tertinggi tidak lain tercapainya kebijaksanaan tertinggi oleh yang berkesadaran sempurna, yang demikian yang dimaksud sebagai Tuhan bukan yang mengklaim akan tetapi yang menjadi

Atlantia Ra


Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mangku Bumi

“BELAJAR DARI REALITA”

Published

on

Realitas hidup tempat kita belajar kebenaran, adakah yang mengetahuinya atau sekedar ingin mengetahui , sebab sebaik apapun sebuah klaim atas theory hidup akan muncul sebagai realitas , klaim tinggalah klaim jika kenyataan menunjukan yang berbeda

Sebuah ajaran yang sekalipun mengklaim diri mengajarkan adab akan tetapi jika menghasilkan prilaku barbar, itu ajaran barbar, dapat dipastikan ajaran dimaksud pasti tidak mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, sehingga tidak mengarah panutan mencapai kebijaksanaan

Kita tidak menyetel radio untuk menonton gambar, kita tidak belajar agama untuk menjadi orang baik, karena tuntunan tidak lebih hanya cara menuju, ajaran tidak pernah lebih dari apa yang tertulis di dalamnya, dan yang tertulis itu yang membentuk karakter pengikut – pengikutnya, sedangkan tata cara manusia hidup dengan keragaman dinamikanya tidak akan pernah bisa dituliskan secara keseluruhan, tidak bisa ditebak dan diseragamkan, tidak juga oleh Tuhan

Bagaimana mungkin Tuhan tidak menyadari perkara yang paling sederhana, bahwa hidup tidak bisa bergantung pada teks karena hidup bergantung kesadaran, siapakah Tuhan ini yang begitu gegabah memerintahkan manusia hidup berdasarkan teks dari perintahnya

Bukankah seharusnya Tuhan Maha Bijak mengetahui setiap perkara kehidupan, ataukah dia sengaja memberlakukan penyesatan itu pada suatu kaum, agar yang lain belajar dari prilaku barbar yang mereka pertontonkan, tentu saja kita membutuhkan pengamatan seksama dan kritis, bagi mereka yang berpikir

Bagi mereka yang pikiranya telah mati termakan doktrin, sudah nasib mereka atas kehendak Tuhan-NYA, mereka akan tetap melakukan apa yang diperintahkan tanpa berpikir lebih jauh karena itu dari Tuhan, karena Tuhan Maha benar, dan menjadi hak Tuhan pula menutup dan menyesatkan mereka yang bodoh karena lupa dan tidak mampu melihat kebenaran dan belajar dari realitas yang dia saksikan

Menumbal mereka yang bodoh karena hidup tidak mengandalkan kesadaran, mungkin itu dijadikan oleh Tuhan-NYA sebagai alat pembelajaran bagi mereka yang berkesadaran penuh, pemberlakuan seleksi alam, seperti ledakan yang disebabkan gunung berapi yang menakutkan yang memuntahkan material yang berguna untuk kesuburan bumi, mungkin demikian juga dengan tumbal-tumbal manusia, jika dia berkehendak demikian

Maka akan dia sesatkan orang-orang yang dia inginkan, dengan segala cara, bahkan dengan menurunkan sebuah ajaran jika di butuhkan, untuk memastikan tercapainya tujuan dimaksud, tentu saja semua itu bagian dari hak prerogatif Tuhan

Yang sadar melihat relitas kekinian sebaiknya menarik diri, mengamati dengan seksama dalam kewaspadaan, ngono-yo-ngono ning-ojo-ngono, tidak usah ikut-ikutan membebek hanya untuk sebuah kemuliaan tampak, kemuliaan hore-hore atau kemegahan semu, kita dibekali akal pikiran di guna kewaspadaan untuk mengamati dan belajar dari kejadian hidup

Hidup tidak akan menemukan keagungannya hanya dengan mengikuti teks, karena hidup tentang menyadari apa yang berlangsung sebagai realitas yang nyata untuk di cermati, jika sebuah ajaran menghasilkan kegaduhan dan mereka kukuh bertahan di dalamnya, itu kebodohan, bacalah, sadari dari realitas bukan dari buku teks, karena buku tidak ikut merasakan hasil dari apa yang dia katakan, manusialah objek penderita atas relitas yang dijalani

Buku sekalipun itu bertuliskan kata-kata Tuhan tidak akan pernah bisa melebihi keagungan manusia, karena buku dan ucapan Tuhan membutuhkan manusia untuk sampai ke manusia yang lain, Tuhan tidak berdaya menyampaikan sabdanya tanpa ada manusia, tentu bagi mereka yang belum mencapai kebijaksanaan menganggap kata-kata seperti ini sebuah kesombongan, mereka lupa menjadi pintar karena tidak mengembangkan kesadaran dirinya

Realitas hidup yang sangat kacau mengarah prilaku barbarian, masih belum mampu membuka mata hati mereka, karena mereka bertumpu di hati sehingga mereka bercinta dengan kegelapan sadarnya, tentu saja semua itu kehendak bebas, bebas menentukan nasib hidupnya

Dan benar sebenar-benarnya semua itu mutlak atas ketentuan Tuhan mereka, karena jiwa mereka penuh kepasrahan sekalipun untuk digelapkan oleh Tuhan mereka sendiri, dan mereka tidak mau berdaya karenanya karena mereka telah berjanji iklas sejak semula, kita yang diluar pagar lebih beruntung menjadi saksi prilaku mereka yang gelap mata, bukankah sejelas itu juga yang di sabda-kan Tuhan mereka, bagi mereka yang berpikir

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

“SWA RGA”

Published

on

Swaha di Raga atau kemandirian sadar di dalam tubuh, tubuh ini adalah kuil Tuhan, Tuhan atau The Purusa tidak lain poros kehidupan, tidak lain yang hidup itu, yang berkesadaran sempurna itu, Maha Hidup itu yang berkesadaran sempurna di dalam Kuilnya, Sang Diri

Kemana dirimu hendak mencari sorga, di kolong langit manapun dirimu tidak akan temukan sorga karena sorga adalah suasana hati, hatimu yang mendamba sorga akan menjatuhkanmu ke neraka, keterikatan pada keinginan sorga itu racun yang merusak hatimu tanpa kamu sadari, pikiranmu selalu terbayang-bayang keadaan sorga sedangkan realitas hidupmu bertolak belakang dari harapanmu atas sorga segala pemenuhan

Keinginan keinginan tak terkendali itulah yang sebetulnya terjadi di dalam dirimu, terlepas dirimu sadari atau tidak, berilah jeda untuk melihat kebenaran-nya, jangan sakiti jiwamu dengan harapan-harapan semu yang kosong tidak berujung-pangkal, berpikirlah, otak disertakan untuk memudahkan hidupmu bukan untuk menyesatkan pikirmu kedalam angan-angan tak pasti, bukan untuk berilusi tentang yang tidak ada

Kemandirian sadar’mu swa atau siwa atau saiwa atau poros pelayanan hidup, tubuhmu adalah raga, kuil suci kesadaranmu, kendaraan sadarmu, swa yang mengendarai raga, yaitu swarga yang berubah menjadi sorga untuk sebuah dan banyak kepentingan, kondisi swarga/sorga ini sejatinya kondisi kemandiirian jiwa yang menjalani ketenangan dan kedamaian, keindahan rasa hidup, kejiwaan yang memandang hidup sebagai sebuah seni berkehidupan, jiwa yang damai yang berkeindahan hidup

Swarga/sorga itu bukanlah tempat akan tetapi suasana hati, akan tetapi kaum edin yang menganggap hidup berporos di hati salah menterjemah tentang sorga, ketidak mampuan mereka memasuki dimensi pengetahuan langit yang membuat mereka tertipu, menganggap sorga ada di sebuah dimensi yang di jaga oleh pasukan langit berpanah api, itu sesungguhnya ilusi mereka karena sorga sesungguhnya suasana hati – keadaan jiwa

Berada di sorga jika hatimu tidak tenang apalah guna, sedangkan rasa hati selalu bergolak atas dinamika hidup ini, jika suasana hati bergantung pada bergejolaknya kehidupan, adakah yang mampu mempertahankan kedamaian hatinya, tentu saja anda masing-masing memiliki jawaban sendiri-sendiri , namun bukan disana inti maksudnya

Swaha atau Swa atau kemandirian di dalam raganya tidak lain swarga/sorga, swa bermakna mandiri, mandiri berarti tidak bergantung apapun selain pada kemurnian sadar itu saja, tidak mendiuakan sadarnya pada apapun selain pada kebutuhan pemeliharaan hidup tubuhnya, kesadaran yang murni itu swaha atau yang hidup yang mandiri itu, yang murni yang tidak terbelenggu kondisi lain selain belenggu raganya, kesadaran yang tidak terhalang apapun selain keberadaan terbatas di dalam raganya, diri yang sadar yang tidak lain perwakilan kesadaran hidup Sang Maha Hidup itu sendiri, dia yang mandiri pada kesadaran murninya

Jiwa-jiwa mandiri inilah penghuni sorga, mereka pula poros utama pewujud kehidupan sorga di muka bumi, karena kedamaian dan kemakmuran hidup lah hasil akhir ber-SWA RGA, bukan mereka yang masih kebingungan mencari alamat sorga, mereka yang masih sibuk dengan prasangka pikiran mereka, hati mereka telah rusak oleh kebencian, mereka jiwa yang lemah yang terlalu takut pada bayangan mereka sendiri, mereka takut pada ilusinyailusinya, mereka para penyangkal kebenaran, mereka anti kebenaran, mereka sekumpulan kaum berjiwa rapuh, tidak mungkin mereka bisa mencapai Swa Rga, ngerti aja kga ! pegimana mau sampai

Berkelitlah, berdalihlah, ketika tanaman kebenaran tumbuh membesar, rasa malu akan membayangi hatimu ketika mengatakan kebohongan, sekalipun tidak ada yang mencibir atau menuding telunjuk ke mukamu, rasa itu akan bergelayut di hatimu dan tidak ada tempat bersembunyi yang aman di kolong langit bagi kebohonganmu itu, minta ampunan lah, hentikan

Hati yang rusak penuh kebencian, itulah yang mereka dapat dari mengumbar keinginan sorga melaui pengetahuan indria, mereka menginginkan sorga tetapi merusak keindahan kekuatan cipta Swa Rga, itu Dosa/kesalahan yang sangat besar, mereka sendiri yang membiarkan dirinya berkubang dalam lumpur kebodohan, oleh ulah mereka sendiri, oleh egonya yang tak terkendali, sebab-akibat harus terlaksana, dan ketika akibat dari sebab itu datang pastilah menyakitkan

Kehidupan ini berada di bawah naungan lautan energi tiada batas, energi yang sama yang menghubungkan manusia dengan sesama manusia , dengan alam dengan semesta, dan ketika energi yang dikuasai kegelapan sadar itu berbalik dikuasai getaran energi yang termurnikan oleh para ksatria kehidupan, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika dirimu masih memilih berkubang dalam kegelapan, namun itu kehendak bebas, setiap gerak mengandung resiko

Swa-Rga atau sorga bukan tentang keinginan duniawi namun itu tentang aksi-reaksi pencerahan dari kegelapan sadar yang menguasai kehidupan, manusialah penyebab utama apa yang terjadi di kehidupan, kegelapan mendorong kemunculan terang, kegelapan sadar menggiring pencapaian terang kesadaran, ketidak benaran memaksa kemunculan kebenaran, ketidak nyamanan hidup memicu Swa Rga

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

“MANUSIA PERTAMA”

Published

on

Manusia pertama,
siapa yang disebut manusia pertama, manusia yang mencapai kesempurnaan sadar, yang mencapai kesejatian diri di jaman apapun adalah manusia pertama, karena manusia terlahir angkara yang mengandung lupa, wujud pembelenggunya membuat lupa kesejatian dirinya dan kondisi lupa itu membuat kesadaran manusia berada dibawah kendali indria, tidak perduli siapapun dia, hal pertama yang harus dilakukannya adalah melampaui, mengupayakan kesadaran melampaui wujud untuk bisa menjadi manusia sepenuhnya atau menjadi yang pertama kalinya menjalani sebagai manusia seutuhnya

Di jaman manapun tanpa terkecuali, jika seseorang tidak mampu mencapai kesadaran sempurna yakni kesadaran akan diri sejati, mereka bukan manusia pertama, sekalipun atas penunjukan Tuhan, sekalipun Tuhan memberinya label khusus sebagai manusia pertama, percuma karena yang namanya manusia adalah yang tunggal pada kemuliaan dirinya, manusia pertama adalah manusia seutuhnya yang tidak menduakan kesadaranya selain kepada kedirian itu saja, yang mengenal jejak-jejak perwujudan dirinya, seperti itulah yang di maksud manusia pertama

Manusia pertama yang memberi terang kepada yang lain untuk kembali ke rumah asal, terlepas segelap apapun jaman bukan halangan, tanaman-tanaman itu pasti tumbuh karena sumber kekuatan hidup telah di genggam oleh-nya , sekuat apapun mereka berontak tidak ada guna, mereka hanya akan melukai dirinya sendiri, karena jamanlah yang meminta kehadirannya, jamanlah yang memaksanya terlahir kembali, jamanlah yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka agar dia dilahirkan guna pertolongan bagi jiwa-jiwa gelap itu

Seiring kelahirannya, kekuatan semesta memelihara hidup-nya sedemikian rupa, yang membimbing pencapaianya, memberinya segala kemudahan, semesta ada di pihaknya hingga misinya tuntas mengembalikan kesadaran manusia yang gelap menuju kesejatian diri, untuk menyadari kemuliaan yang melekat atas kedirian setiap individu

Kekuatan Maha semesta yang menyediakan semua kebutuhan atas misinya, baik spiritual maupun materi, kekuatan itu tiada lain Kemaha Bijaksanaan, kapan, dimana dan bagimana, apa yang bisa diraih apa yang tidak bisa didapatkan semata-mata ditentukan oleh kebijaksanaan tertinggi, penempaan, pengarahan, pembelajaran di terapkan setahap demi setahap hingga sampai pada masa kebangkitan, perubahan yang diawali gejolak alam, sedangkan dia hanya mengamati, mengingatkan, mengabarkan, menjaga jiwa-jiwa murni, meresap-merangkai, menyeimbangkan, setahap-setahap penuh ketelitian

Tidak usah berseteru, itu tidak efektif, selamatkan diri masing-masing, masuki agar berada di dimensi hampa agar tidak terseret gejolak karma buruk jaman, bening tidak mengijinkan distorsi, tidak mengalami gesekan tarik menarik dua sisi, bening tak tersentuh tak terseret, bening merefleksi jaman namun tidak terlibat dan melekat di dalamnya, melampaui guna melampaui kehancuran, pertolongan apa yang kamu harapkan selain bergantung pada dirimu sendiri !!! begitulah kenyataanya, percaya atau tidak percaya bukan urusan semesta, kepentingan semesta adalah terjaganya keseimbangan,
at any risk

Atlantia Ra

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam