Connect with us

Mangku Bumi

SABDA ORANG BINGUNG

Published

on


Jika Tuhan maha pencipta, dia Tuhan berbicara melalui seluruh yang dia wujudkan, seluruh wujud yang dia jadikan adalah jalan Sang Maha Pencipta mengkomunikasikan dirinya kepada ciptaanya, kesempurnaan yang termanifestasi pada wujud-wujud yang disertai segenap kesempurnaan masing-masing, dan pada wujud manusia lah dia Sang Maha hidup itu mencapai kesadaran sempurna’nya, begitulah kebenaran yang sesungguhnya kebenaran, jika Tuhan mu tidak berwujud maka dia Tuhan yang tidak mewujudkan apa-apa, kamu tertipu oleh ketidaktauanmu

Tidak ada pencipta yang tidak mewujud, yang tidak mewujud berarti sama sebangun tidak ada, bahwa di dalam yang mewujud itulah wujud dan juga tiada wujudnya tunggal, itulah yang dimaksud rwa bineda, ada dan tiada-nya tunggal, sisi negatif dan sisi positifnya dualitas tunggal dan yang ketiga adalah kesadaran yang mengetahuinya, keberadaan lah yang dapat mengenali ketiadaan, yang menyatakan tinggi rendah adalah yang wujud , yang mengetahui batas tiada batas adalah wujud, dan kesemua itu dikenali oleh kesadaran atas keberadaan, tanpa keberadaan tidak ada yang dapat dikenali dan mengenali , dan nabi anda kebingungan menyadari kebenaran sesederhana itu

Sekali lagi Tuhan berkomunikasi melalui apa yang dia wujudkan,kekuatan ciptanya menjadi pada apa yang dia cipta, tanpa yang berwujud dia bukan apa-apa, dia tidak mungkin dikenal sebagai pencipta, dia harus mewujud untuk menjadi Pencipta,dia bekerja mencipta dan seluruh yang dia cipta yang mengkomunikasikan tentang keberadaan-NYA, dan yang terpenting dari yang paling penting yang berkesadaran paling sempurna yang menyebutnya sebagai “Sang Pencipta” yakni manusia

Dia tidak berbicara untuk membuat manusia menjadi baik, tetapi dia bekerja memelihara kebaikan manusia tanpa bicara tanpa sabda, karena dia ada disetiap yang hidup, dia ada disetiap yang berkesadaran, dia asal, dia pula wujud, dia yang berkesadaran di dalam wujud yang dia jadikan, yang hidup itu yang berkesadaran atas hidupnya, dan kesadaran yang paling sempurna adalah pada diri manusia ini, kesempurnaan mewujud pada kesempurnaan dirinya

Tuhan yang tidak memahami dirinya sendiri berbicara tentang dirinya, tidak memahami dirinya yang bergerak mencipta dan seluruh yang dia cipta yang berbicara tentang dirinya, dan ketika dia berbicara tentang dirinya itu sama dengan dia berbicara tentang ketidaktauannya sendiri tentang dirinya, dia mengatakan begini dan begitu sesuai prasangka nya belaka, karena dia lupa oleh wujudnya yang berkesadaran sempurna yang telah menipunya

Mengapa kita membicarakan Tuhan karena Tuhan telah beredar luas di pasaran, karena Tuhan telah lupa siapa dirinya yang sesungguhnya hanya bergerak mencipta, bahkan ia mencipta kehancuran kehidupan karena kondisi lupanya yang tidak terkendali, karena dia lupa sadar menyadari kesejatian dirinya sehingga tidak dia sadar telah mencipta kehancuran, dia mencipta penyesatan kesadaran murni manusia yang sesungguhnya dia jadikan dari kesempurnaan miliknya

Sang Pencipta yang tidak lain Sang Maha hidup yang merupakan sebab dari segala sebab seluruh keberadaan, dan keberadaan dirinya yang termanifestasi sebagai yang paling sempurna adalah sebagai manusia, bahwa dia menganggap dirinya pikiran, dia terkelabui oleh kesadaran sempurnanya yang berasal mula kesempurnaan itu sendiri, dan di dalam kebingungan-nya dia bersabda menyabdakan kebingungan dirinya

Kesadaran murni adalah kesadaran yang melampaui pikiran, itu sama sebangun dengan ungkapan Tuhan tidak terpikirkan, karena pikiran terbatasi prasangka, karena pikiran adalah ranah persepsi dan hanya sebatas nilai yang diketahui, sebatas apa yang diketahui maka sebatas itu pula nilai yang di miliki, sekalipun itu atas Tuhan hanyalah sebuah nilai yang terbatas apa yang diketahui belaka

Berbeda pada kesadaran murni yang tiada batas, tidak terikat batas maupun nilai, yang dapat menyadari apapun bahkan yang dapat menyadari yang tiada-batas itu tidak lain kesadaran terjemahan dari hidup yang berasal mula Maha Hidup itu sendiri

Kesadaran sempurna inilah bukti kesempurnaan ciptanya, kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang termanifestasi pada kesempurnaan yang nyata, bukti nyata wujud kesempurnaan yang di miliki-nya, wujud Maha Sempurna yang berkesadaran sempurna inilah pembuktian teerbaik dari kesempurnaan yang di miliki-nya, dan kita sebagai diri-diri yang mewakili kesempurnaan itu idealnya rendah hati karena masih belum mampu melampaui keterkungkungan keterbatasan ini

Dan ketika kita mengetahui diri mewakili kesadaran hidup Sang Maha Pencipta, idealnya kita tau GUNA hidup untuk melayani kemuliaan yang di wariskan kepada setiap diri, GUNA mewujudkan kemuliaan hidup sesuai kemampuan masing-masing diri, yang pasti kita hidup bukan untuk memperseterukan yang tidak kita tau, kita di beri hidup bukan untuk meributkan kebodohan kita, bukan mempertengkarkan lupa kita atas ke dirian sejati kita

Jika Yang Maha Hidup adalah sebab dari segala sebab yang memulai semua keberadaan ini, kita yang berkesadaran sempurna inilah perwakilan paling sempurna dari yang hidup dimaksud, jika Yang Maha Hidup itu Tuhan maka yang berkesadaran hidup sempurna itulah Tuhan, Maha Hidup yang mencapai kesempurnaan sadarnya tercipta dari kesempurnaan miliknya sendiri, dia dirinya sendiri yang mencapai wujud sempurnanya

Dia yang mewujud sebagai seluruh keberadaan dan yang berkemampuan mengenali semua itu adalah kesadaran sempurna manusia, karena memang itulah tujuanya mencapai kesempurnaan untuk mengenali kesempurnaan dirinya melalui kedirian itu sendiri, namun kesempurnaan itu sendiri membuat Sang Diri tersesat, ketika Sang diri memilih berdiri pada bayangannya, ketika Sang Diri tidak lagi mengenal cara mempertahankan kemurnian sadarna, dan mereka jatuh kedalam ketidaktauan, mereka tersesat dan hidup diatas prasangka belaka

Sekawanan burung tidak pernah berdoa tetapi mereka hidup dan mencari makan, golongan ikan dan binatang lain-nya juga sama memiliki kesadaran dan berkemampuan adaptasi pada lingkungan hidup masing-masing karena sejak awal telah tercipta sedemikian rupa, kumpulan planet khusunya bumi yang kita tinggali pun hidup, mereka bergerak dan bekerja sedemikian rupa sesuai keadaan wujudnya, lalu manusia yang kesadaranya paling sempurna memilih sibuk berdoa

Manusia yang tidak berpengetahuan memilih sibuk berseteru tentang Tuhan yang setiap saat menghidupinya karena dia pikir Tuhan ada di dalam agama, karena mereka menyangka agama lebih hidup dibanding manusia, mereka tidak sadar manusialah yang memberi jiwa pada agama, bahkan menjiwai Tuhan yang di yakinin’nya, semata-mata karena ketidaktauan

Aku bersaksi bahwa kesadaran murni Sang Tuan Penyaksi hidupnya, kesadaranku adalah batas yang tiada batas, IA yang terbatas pada prasangka, IA tiada-batas pada kemurnian, IA yang mengetahui yang tertinggi sekaligus yang terendah, yang terbesar sekaligus yang terkecil , IA pembatas ketiadaan batasan dirinya, IA pula yang tidak terbatas pada kemurnian’nya, adakah Tuhan-Tuhan itu sudah mencapai pengetahuan kebijaksanaan tertinggi ini, jika belum – apakah dia layak mengklaim diri sebagai Tuhan yang tertinggi, ataukah Tuhan hanya sebatas yang mampu di klaim oleh kesadaran miliknya

Tentu saja Tuhan sejatinya Tuhan tidak melakukan klaim karena penciptaan ini bersifat final pada kesempurnaan miliknya, bersifat final karena tidak ada lawan selain kesempurnaan dirinya yang mewujud di atas kesempurnaan itu, lalu apa alasan logisnya dia mengklaim diri sebagai Pencipta yang Maha sempurna jika dia berkemampuan mewujud pada kesempurnaan yang mengejawantah pada ke’dirian’nya, jika dia Maha Sempurna maka dia akan memilih mewujudkan diri pada kesempurnaan yang melekat padanya, sehingga kesempurnaan’nya bukan hanya sebatas klaim

Jika kebesaran DIA-Tuhan mampu mewujud pada apapun yang dikehendaki-Nya, tentu pilihan dia adalah menjadikanya ada – bukan memilih hanya melakukan klaim belaka, apalah lagi “BERJANJI” karena Sang Pencipta tidak pernah berhutang pada apa yang dia cipta, karena dia mencipta wujud berserta seluruh penopang kehidupan wujud yang dia jadikan, dalam artian – tanpa penopang – tidak ada wujud yang dapat menjadi, semisal kesempurnaan alam bumi yang semula dia jadikan yang kemudian mahluk-mahluk biologis dapat hidup di atasnya

Orang-orang bingung bersabda diatas kebingungan-nya, berbicara tanpa kebijaksanaan diatas ketertipuan kesempurnaan sadarnya, dan yang tertipu mengikutinya tanpa kecerdasan karena mereka lebih senang mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukan yang seharusnya mereka ketahui dan di sadari,seketika itu mereka membiarkan diri terbuai ilusi’nya

Setiap saat mereka berperang melawan dirinya sendiri, seumur hidup bersusah payah mengingkari pesan-pesan yang setiap saat digetarkan kesadaran murni yang tertutup kegelapan prasangka, IA yang setiap saat selalu mengingatkan dirinya, bahwa penderitaan hidup yang selalu bergelayut di rasa hidup yang di jalani berasal mula ketersesatan yang tidak disadari, ketersesatan yang diyakini sebagai kebenaran, ketertipuan yang di sangka sebagai kebenaran

Bagian yang manakah dari kesadaran sempurna itu yang tidak merasa memiliki kebenaran, terlepas apakah kebenaran yang disadarinya diungkapkan atau tidak, sebab seluruh DIRI-DIRI yang SADAR itu tidak lain Maha Hidup yang rasa hidupnya diterjemahkan oleh tubuh Manusia Yang Maha Sempurna ini, tentu saja diri-diri itu akan merasa memiliki dan mengetahui “kebenaran” karena asal mula munculnya kesadaran itu sendiri tidak lain “kebenaran” yang mewujud

Capaian tingkat kebijaksanaan lah yang menjadi pembeda kebenaran-kebenaran tersebut, dan kebenaran tertinggi tidak lain tercapainya kebijaksanaan tertinggi oleh yang berkesadaran sempurna, yang demikian yang dimaksud sebagai Tuhan bukan yang mengklaim akan tetapi yang menjadi

Atlantia Ra


Mangku Bumi

Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa Lakukan Pelayanan bagi Umat Hindu Tengger

Published

on

GATRADEWATA | PROBOLINGGO |  Upacara rsi gana, mendem pedagingan, mlaspas dan ngaturang pujawali berhasil terselenggara dengan baik dan lancar di Pura Kahyangan Jagat Mulya Bhakti Titi Luhur. Pura ini berlokasi di Dusun Cerbeksari, Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upacara ngenteg linggih yang dirangkaikan piodalan tersebut digelar bertepatan Tilem Kanem, Sabtu (4/12).

Upacara yadnya ini berhasil digelar umat Hindu Tengger, tak terlepas atas dukungan dari Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa. Tak hanya pujawali, dalam pelaksanaan upacara kali ini juga digelar upacara matatah serta pawintenan pemangku dan serati. Rangkaian upacara dipuput sadhaka Siwa-Buddha, Ida Pandita Dukuh Celagi Daksa Dharma Kirti dan Ida Bhagawan Viveka Dharma Tarukan, serta Romo Dukun Pandita setempat.

Pelaksanaan upacara ini berkaitan dengan telah selesainya penataan pelinggih (bangunan suci) di pura tersebut. Umat Hindu Tenggar pun sangat antusias menyambut upacara ini. Mereka bersyukur atas rampungnya pembangunan pura dan telah terlaksananya upacara rsi gana dan pujawali di Pura Mulya Bhakti Titi Luhur.

Pura Kahyangan Jagat Mulya Bhakti Titi Luhur merupakan salah satu pura penting yang menjadi pusat peribadatan umat Hindu Tengger. Saat ini pura ini diempon 393 KK umat Hindu di kawasan Tengger. Pura ini sebenarnya telah lama berdiri. Kini, kahyangan ini semakin lengkap setelah berdirinya Gedong Candi Kabuyutan, Arca Roro Anteng dan Joko Seger, Arca Rsi Dadap Putih, dan Arca Hyang Ismoyo.

Ketua Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa, Jero Mangku Ketut Suryadi, menyampaikan, terselenggaranya upacara ini berawal dari keinginan pengempon pura. Salah seorang pemuka agama setempat, Mangku Sujarwo, menyampaikan keinginan umat Hindu setempat untuk memperbaiki kahyangan yang telah ada. Tujuannya untuk meningkatkan srada dan bakti umat dalam menjalankan agama Hindu dengan tetap mengedepankan local genius atau tradisi setempat.

“Kami dari Yayasan pun menyambut baik atas keinginan masyarakat Hindu Tengger itu. Setelah diskusi yang intens Ida Pandita Dukuh Celagi selaku pembina Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa dengan pengempon pura, akhirnya disepakati untuk melengkapi pura dengan beberapa pelinggih. Selanjutnya digelarlah upacara ini,” tutur Jero Mangku Suryadi.

Pembangunan Gedong Candi Kabuyutan dimaksudkan untuk memiliki fungsi seperti halnya pelinggih Kemulan bagi umat Hindu Bali. Jadi, bangunan suci ini berfungsi sebagai tempat menstanakan roh suci leluhur setelah upacara entas-entas (ngaben). “Tetap mengedepankan local genius. Kami hanya melengkapi berdasarkan sastra kegiatan upacara yadnya tersebut. Konsepnya tidak mem-Bali-kan Jawa,” ucapnya.

Terkait Arca Roro Anteng dan Joko Seger, Jero Mangku Suryadi mengungkapkan, kedua arca ini sebagai simbol leluhur (purusa dan pradana) masyarakat suku Tengger. Demikian pula Rsi Dadap Putih dipercaya sebagai leluhur umat Hindu Tengger. Kemudian, Arca Ismoyo sebagai bentuk penghormatan kepada Hyang Ismoyo yang dalam mitologi Jawa dipercaya sebagai penjaga tanah Jawa.

Jero Mangku Ketut Suryadi mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Hindu Tengger, khususnya pengempon Pura Mulya Bhakti Titi Luhur. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengurus PHDI Jatim, Dirjen Bimas Hindu (Direktur Keagamaan) dan Pembimas Hindu Jatim, Peradah, Prajaniti, serta PSN Jatim yang hadir dalam upacara tersebut. “Semoga pelayanan kami memberi manfaat bagi saudara Hindu Tengger,” tutupnya. (Rk)

Continue Reading

Daerah

Jangan Sampai Jadi Pemangku Tanggung, Ikuti Kursus Kepemangkuan Disini!

Published

on

GatraDewata ⌊Denpasar⌋ Pasraman Ghanta Yoga membuka kursus Kepemangkuan dibawah naungan Yayasan Taman Bukit Pengajaran. Pendaftaran sudah mulai dibuka sejak awal minggu ini dan akan ditutup pada tanggal 28 November 2020.

Pelatihan kepemangkuan ini akan digelar pada tanggal 29 November 2020, dimulai dengan proses mewinten. Pelatihan kepemangkuan ini berlangsung selama 3 bulan dengan total 24 kali pertemuan. Seluruh pelatihan akan dilakukan di Pasraman Ghanta Yoga yang beralamat di Gang Ulun Carik V Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Adapun materi yang akan diberikan dalam kursus kepemangkuan dasar ini, meliputi :

  • Sesana/swadarmaning pemangku; sesi ini akan terfokus untuk melatih peserta tata cara pemangku nganteb
  • Wariga; pengenalan pencarian hari baik
  • Tatwa
  • Upacara/Upakara; pemaparan upacara mulai dari manusa, dewa hingga butha yadnya
  • Dasar Kosala Kosali
  • Gegelaran pemangku; materi lanjutan dari swadarmaning pemangku


Kursus pelatihan kepemangkuan ini dibuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang sedang aktif maupun pemula dibidnag kepemangkuan. “Siapa saja boleh ikut; baik pemangku aktif maupun calon atau orang-orang yang ingin jadi pemangku” terang Ketua Pesraman Ghanta Yoga.

Donasi untuk kursus kepemangkuan ditetapkan sebesar 800 ribu/orang untuk seluruh sesi, yang berdurasi antara 1.5 hingga 2 jam per sesinya. Sebagai bonus, peserta akan diberikan pelatihan tambahan yaitu Yoga Asuci Laksana guna meningkatkan kesucian diri dan kerahayuan.  Peserta juga akan diberikan panduan materi untuk kemudian dibawa pulang, serta sertifikat bagi yang berhasil menuntaskan seluruh sesi.

Untuk keterangan lebih lanjut pembaca GatraDewata bisa menghubungi bagian administrasi di nomor 08993182858.<swn>

Continue Reading

Mangku Bumi

“NRIMO”

Published

on

By

GATRA DEWATA | Nrimo, bekerja tanpa mengharap hasil,bukan berarti tanpa hasil, pelayaan hidup diatas Rasa-Bhakti akan membangkitkan kekuatan tubuh membantu kemudahan pekerjaan hidup, keterjagaan adalah pengamat dan penggerak, kekuatan dan ghaib berada pada domain tubuh

Menjadi-Diri seutuhnya yang Sadar akan Kesejatian-Diri, Terjaga sebagai pengamat
sekaligus tuan penggerak kehidupan dengan Rasa Bhakti, sehingga, mau tidak mau segenap kekuatan badan tunduk membantu, sebab hidup adalah tentang pemeliharaan tubuh

Pemeliharaan dengan cara BENAR menghasilkan “Keseimbangan”, pencapaian keseimbangan-Hidup inilah yang disebut Pemilik Kesempurnaan, jika belum, maka Kesempurnaan tersebut masih sebatas bayangan, sama seperti menghayal tentang keberadaan Tuhan yang belum MENJADI, ibarat Sang-Maha-Hidup hanya Eksistensi Hidup Tanpa-Rupa Tanpa-Wujud tanpa Keterjagaan Atas Hidup’NYA

Nrimo,
menyederhanakan wajah keterjagaan sebagai sang pemilik kesadaran hidup itu saja, selanjutnya seluruh kekuatan atas pelihara cipta lebur adalah milik tubuh, yang berarti cipta pelihara lebur adalah sifat pembungkus hidup sang hidup, sehingga bukan lagi hasil yang “Utama” namun upaya penyelarasan Diri terhadap sifat Cipta Pelihara Lebur pembungkus hidup’Nya

Hidup tentang keterjagaan ini, saat ini, bukan di depan bukan di belakang, tetapi saat ini atas keterjagaan yang didapati, sekalipun ada yang mengaku kenal “Tuhan” Sang-Pencipta Alam-Semesta, apa pentingnya, membohongi diri mengenal Tuhan Sang Maha Hidup tetapi tidak mengenali kesejatian-diri adalah Sang-Hidup yang terjaga atas ke’Diri’an hidup’NYA

Hanya “merasa” TAU akan tetapi tidak pernah menjadi saksi hidup kejadian Awal Penciptaan, itu sebentuk kebohongan yang menyesatkan dari orang-orang yang disesatkan ketidaktauanya sendiri, penyaksian hanya ada saat keterjagaan ada, yang terjaga inilah yang berandai-andai

Adalah baik baik bagi individu berkeyakinan, tetap bisa meyakini sekalipun tidak menyaksikan apa yang diyakininya, namun keyakinan seperti itu bersifat Pribadi, menjadi Tidak-Baik ketika Keyakinan Individual dipaksak menjadi kebenaran umum, sebab kebenaran adalah “Kehendak Bebas”

Keterjagaan tidak lain eksistensi penyaksi keberadaan hidup’Nya sendiri atas kesadaran hidup yang dilayani, dan wajah keterjagaan idealnya di depan atau tampak depan bukan di belakang atau tampak belakang, halnya Sang Maha Hidup yang “tiada-wujud” mencapai wujud dan kehancuran wujud’Nya, begitulah KEPASTIAN WAJAH gerak-hidup mengarah depan bukan belakang, mungkin itu pula alasan Tuhan menempatkan wajah di depan bukan di belakang

Penggalian Kesejatian-Diri belakangan menjadi kata wajib spiritualitas, itu semata laku pikiran, bagi yang berasumsi Kesejatian-Diri sebuah pencarian, berputar-putar dalam kebingungan tanpa ujung-pangkal, menggali atau mencari “kesejatian-diri” yang tidak pernah kemanapun

Yang tidak pernah kemana-mana ITU tidak perlu di cari atau di gali, IA ada berselimut kegelapan, keberadaan Diri yang sedang bingung dikuasai lupa-maya-ghaib- kepalsuan, palsu sebab hanya bayangan, kegelapan ini tidak hancur, kegelapan hanya larut kedalam cahaya, itu sebab dikatakan hanya Pengetahuan yang dapat melebur penderitaan, membuat kegelapan bersinar dengan Cahaya Kesadaran, astra/astro, bintang yang bercahaya

Para pemula cenderung terbius ambisi prasangka menganggap kesejatian tentang kemampuan menjelajah alam ghaib,astral, bukan upaya menjadi manusia paripurna atas pelayanan hidup, hanya menghabiskan waktu bermain-main, kenikmatan kebanggan semu mencapai keremangan astral, seumpama bintang menunggu kematian bukan sebagai bintang bersinar

Kekuatan cipta-pelihara lebur yang bersifat ghaib adalah milik badan, keterjagaan sendiri hanya wajah sang hidup yang sama dengan yang menghidupi keGhaiban badan, Kebodohan yang menyelimuti Sang Tuan Hidup menjerumuskan kehidupan ke jurang kegelapan menjadi Budak-Maya/materialistis,menjadi pengejar dan penyembah materi maupun GHAIB materi

Yang berkeinginan tau tentang kesejatian diri idealnya memulainya dengan penyadaran Diri bukan materi, Diri dimunculkan oleh keberadaan materi penterjemah keterjagaan hidup, kemudian menerima pelayanan atas pemeliharaan pembungkus hidup’nya

Keterjagaan hanya melayani pemeliharaan hidupnya, tubuh dan segenap kekuatan cipta pelihara lebur maya/ghaib nyalah penyedia segala keperluan yang dibutuhkan untuk peliharaan dirinya, keterjagaan hanya berkehendak yang terrbaik

Jika kekuatan cipta pelihara lebur yang merupakan perangkat tubuh itu tidak atau belum memenuhinya, layani saja, keadaan itulah yang menurut’NYA (NYA keduanya karena ketidak selarasan) keadaan terrbaik diterima atas hidup atas pemeliharaan badanya saat itu, demikian jika dipenuhi, tidak perlu disombongkan karena hanya sebuah bentuk pemenuhan yang di dasari atas upaya penyeimbangan spirit materi

Pemenuhan atas keseimbangan spirit materi bukan hanya berbentuk kekayaan semata, walaupun upaya mencapai puncak kemuliaan hidup Pasti MENJADI SUMBER KEKUATAN PEWUJUD kemakmuran kehidupan, halnya yang tiada-wujud mewujud menjadi segalanya, akan tetapi ketahui dan sadarilah bahwa kebangkitan diawali oleh kehancuran

Itulah sebabnya NRIMO, agar kelebihan ambisi tidak menjerumuskan diri terseret pusaran Cakra Mangilingan menjadi perwakilan pengacau/penghancur dalam proses kebangkitan, hanya karena berambisi mempercepat, apa yang mau dipercepat karena semua mewujud atas dasar Kebijaksanaan kekuatan adaptasi, bukan oleh ego bukan pula oleh ambisi, tetapi NRIMO, Mengisi Ruang atas dasar Kebijaksanaan Menjadi

Sekalipun memilih menjadi kaum pemercepat penghancuran/pelaku perang tidak terlalu buruk, atau mewakili kegelapan sebagai aktor pelaku pemaksaan bangkitnya cahaya kebenaran, akan tetapi itu bukan yang terrbaik,
sekalipun itu Laku Mulia, namun Bukan Kemuliaan Di Atas Keluhuran Prilaku, akan tetapi atas ketidak berdayaan oleh desakan Ambisi-Ego

Demikian ketika manusia menyembah Kemuliaan Tuhan sebagai simbolisasi dari “Leluhur Seluruh Kehidupan”, menyembahlah kepada Kemuliaan-Luhur, baik atas keluhuran-pikiran Tuhan, keluhuran-ucap Tuhan, keluhuran-laku Tuhan, Trikaya Parisudha : Ucap
-Laku-Pikiran Selaras pada Kemuliaan Tuhan yang Luhur, sehingga apapun Ucap Laku Pikiran Penyembah mewakili Ucap-Laku-Pikiran Tuhan yang di sembah

Jika nama lain Tuhan adalah Sang Maha Hidup, maka Keterjagaan yang mewakili wajah-hidupnya tak lain Wajah Tuhan

Atlantia Ra

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam