Connect with us

Mangku Bumi

SABDA ORANG BINGUNG

Published

on


Jika Tuhan maha pencipta, dia Tuhan berbicara melalui seluruh yang dia wujudkan, seluruh wujud yang dia jadikan adalah jalan Sang Maha Pencipta mengkomunikasikan dirinya kepada ciptaanya, kesempurnaan yang termanifestasi pada wujud-wujud yang disertai segenap kesempurnaan masing-masing, dan pada wujud manusia lah dia Sang Maha hidup itu mencapai kesadaran sempurna’nya, begitulah kebenaran yang sesungguhnya kebenaran, jika Tuhan mu tidak berwujud maka dia Tuhan yang tidak mewujudkan apa-apa, kamu tertipu oleh ketidaktauanmu

Tidak ada pencipta yang tidak mewujud, yang tidak mewujud berarti sama sebangun tidak ada, bahwa di dalam yang mewujud itulah wujud dan juga tiada wujudnya tunggal, itulah yang dimaksud rwa bineda, ada dan tiada-nya tunggal, sisi negatif dan sisi positifnya dualitas tunggal dan yang ketiga adalah kesadaran yang mengetahuinya, keberadaan lah yang dapat mengenali ketiadaan, yang menyatakan tinggi rendah adalah yang wujud , yang mengetahui batas tiada batas adalah wujud, dan kesemua itu dikenali oleh kesadaran atas keberadaan, tanpa keberadaan tidak ada yang dapat dikenali dan mengenali , dan nabi anda kebingungan menyadari kebenaran sesederhana itu

Sekali lagi Tuhan berkomunikasi melalui apa yang dia wujudkan,kekuatan ciptanya menjadi pada apa yang dia cipta, tanpa yang berwujud dia bukan apa-apa, dia tidak mungkin dikenal sebagai pencipta, dia harus mewujud untuk menjadi Pencipta,dia bekerja mencipta dan seluruh yang dia cipta yang mengkomunikasikan tentang keberadaan-NYA, dan yang terpenting dari yang paling penting yang berkesadaran paling sempurna yang menyebutnya sebagai “Sang Pencipta” yakni manusia

Dia tidak berbicara untuk membuat manusia menjadi baik, tetapi dia bekerja memelihara kebaikan manusia tanpa bicara tanpa sabda, karena dia ada disetiap yang hidup, dia ada disetiap yang berkesadaran, dia asal, dia pula wujud, dia yang berkesadaran di dalam wujud yang dia jadikan, yang hidup itu yang berkesadaran atas hidupnya, dan kesadaran yang paling sempurna adalah pada diri manusia ini, kesempurnaan mewujud pada kesempurnaan dirinya

Tuhan yang tidak memahami dirinya sendiri berbicara tentang dirinya, tidak memahami dirinya yang bergerak mencipta dan seluruh yang dia cipta yang berbicara tentang dirinya, dan ketika dia berbicara tentang dirinya itu sama dengan dia berbicara tentang ketidaktauannya sendiri tentang dirinya, dia mengatakan begini dan begitu sesuai prasangka nya belaka, karena dia lupa oleh wujudnya yang berkesadaran sempurna yang telah menipunya

Mengapa kita membicarakan Tuhan karena Tuhan telah beredar luas di pasaran, karena Tuhan telah lupa siapa dirinya yang sesungguhnya hanya bergerak mencipta, bahkan ia mencipta kehancuran kehidupan karena kondisi lupanya yang tidak terkendali, karena dia lupa sadar menyadari kesejatian dirinya sehingga tidak dia sadar telah mencipta kehancuran, dia mencipta penyesatan kesadaran murni manusia yang sesungguhnya dia jadikan dari kesempurnaan miliknya

Sang Pencipta yang tidak lain Sang Maha hidup yang merupakan sebab dari segala sebab seluruh keberadaan, dan keberadaan dirinya yang termanifestasi sebagai yang paling sempurna adalah sebagai manusia, bahwa dia menganggap dirinya pikiran, dia terkelabui oleh kesadaran sempurnanya yang berasal mula kesempurnaan itu sendiri, dan di dalam kebingungan-nya dia bersabda menyabdakan kebingungan dirinya

Kesadaran murni adalah kesadaran yang melampaui pikiran, itu sama sebangun dengan ungkapan Tuhan tidak terpikirkan, karena pikiran terbatasi prasangka, karena pikiran adalah ranah persepsi dan hanya sebatas nilai yang diketahui, sebatas apa yang diketahui maka sebatas itu pula nilai yang di miliki, sekalipun itu atas Tuhan hanyalah sebuah nilai yang terbatas apa yang diketahui belaka

Berbeda pada kesadaran murni yang tiada batas, tidak terikat batas maupun nilai, yang dapat menyadari apapun bahkan yang dapat menyadari yang tiada-batas itu tidak lain kesadaran terjemahan dari hidup yang berasal mula Maha Hidup itu sendiri

Kesadaran sempurna inilah bukti kesempurnaan ciptanya, kesempurnaan Sang Maha Pencipta yang termanifestasi pada kesempurnaan yang nyata, bukti nyata wujud kesempurnaan yang di miliki-nya, wujud Maha Sempurna yang berkesadaran sempurna inilah pembuktian teerbaik dari kesempurnaan yang di miliki-nya, dan kita sebagai diri-diri yang mewakili kesempurnaan itu idealnya rendah hati karena masih belum mampu melampaui keterkungkungan keterbatasan ini

Dan ketika kita mengetahui diri mewakili kesadaran hidup Sang Maha Pencipta, idealnya kita tau GUNA hidup untuk melayani kemuliaan yang di wariskan kepada setiap diri, GUNA mewujudkan kemuliaan hidup sesuai kemampuan masing-masing diri, yang pasti kita hidup bukan untuk memperseterukan yang tidak kita tau, kita di beri hidup bukan untuk meributkan kebodohan kita, bukan mempertengkarkan lupa kita atas ke dirian sejati kita

Jika Yang Maha Hidup adalah sebab dari segala sebab yang memulai semua keberadaan ini, kita yang berkesadaran sempurna inilah perwakilan paling sempurna dari yang hidup dimaksud, jika Yang Maha Hidup itu Tuhan maka yang berkesadaran hidup sempurna itulah Tuhan, Maha Hidup yang mencapai kesempurnaan sadarnya tercipta dari kesempurnaan miliknya sendiri, dia dirinya sendiri yang mencapai wujud sempurnanya

Dia yang mewujud sebagai seluruh keberadaan dan yang berkemampuan mengenali semua itu adalah kesadaran sempurna manusia, karena memang itulah tujuanya mencapai kesempurnaan untuk mengenali kesempurnaan dirinya melalui kedirian itu sendiri, namun kesempurnaan itu sendiri membuat Sang Diri tersesat, ketika Sang diri memilih berdiri pada bayangannya, ketika Sang Diri tidak lagi mengenal cara mempertahankan kemurnian sadarna, dan mereka jatuh kedalam ketidaktauan, mereka tersesat dan hidup diatas prasangka belaka

Sekawanan burung tidak pernah berdoa tetapi mereka hidup dan mencari makan, golongan ikan dan binatang lain-nya juga sama memiliki kesadaran dan berkemampuan adaptasi pada lingkungan hidup masing-masing karena sejak awal telah tercipta sedemikian rupa, kumpulan planet khusunya bumi yang kita tinggali pun hidup, mereka bergerak dan bekerja sedemikian rupa sesuai keadaan wujudnya, lalu manusia yang kesadaranya paling sempurna memilih sibuk berdoa

Manusia yang tidak berpengetahuan memilih sibuk berseteru tentang Tuhan yang setiap saat menghidupinya karena dia pikir Tuhan ada di dalam agama, karena mereka menyangka agama lebih hidup dibanding manusia, mereka tidak sadar manusialah yang memberi jiwa pada agama, bahkan menjiwai Tuhan yang di yakinin’nya, semata-mata karena ketidaktauan

Aku bersaksi bahwa kesadaran murni Sang Tuan Penyaksi hidupnya, kesadaranku adalah batas yang tiada batas, IA yang terbatas pada prasangka, IA tiada-batas pada kemurnian, IA yang mengetahui yang tertinggi sekaligus yang terendah, yang terbesar sekaligus yang terkecil , IA pembatas ketiadaan batasan dirinya, IA pula yang tidak terbatas pada kemurnian’nya, adakah Tuhan-Tuhan itu sudah mencapai pengetahuan kebijaksanaan tertinggi ini, jika belum – apakah dia layak mengklaim diri sebagai Tuhan yang tertinggi, ataukah Tuhan hanya sebatas yang mampu di klaim oleh kesadaran miliknya

Tentu saja Tuhan sejatinya Tuhan tidak melakukan klaim karena penciptaan ini bersifat final pada kesempurnaan miliknya, bersifat final karena tidak ada lawan selain kesempurnaan dirinya yang mewujud di atas kesempurnaan itu, lalu apa alasan logisnya dia mengklaim diri sebagai Pencipta yang Maha sempurna jika dia berkemampuan mewujud pada kesempurnaan yang mengejawantah pada ke’dirian’nya, jika dia Maha Sempurna maka dia akan memilih mewujudkan diri pada kesempurnaan yang melekat padanya, sehingga kesempurnaan’nya bukan hanya sebatas klaim

Jika kebesaran DIA-Tuhan mampu mewujud pada apapun yang dikehendaki-Nya, tentu pilihan dia adalah menjadikanya ada – bukan memilih hanya melakukan klaim belaka, apalah lagi “BERJANJI” karena Sang Pencipta tidak pernah berhutang pada apa yang dia cipta, karena dia mencipta wujud berserta seluruh penopang kehidupan wujud yang dia jadikan, dalam artian – tanpa penopang – tidak ada wujud yang dapat menjadi, semisal kesempurnaan alam bumi yang semula dia jadikan yang kemudian mahluk-mahluk biologis dapat hidup di atasnya

Orang-orang bingung bersabda diatas kebingungan-nya, berbicara tanpa kebijaksanaan diatas ketertipuan kesempurnaan sadarnya, dan yang tertipu mengikutinya tanpa kecerdasan karena mereka lebih senang mendengar apa yang ingin mereka dengar, bukan yang seharusnya mereka ketahui dan di sadari,seketika itu mereka membiarkan diri terbuai ilusi’nya

Setiap saat mereka berperang melawan dirinya sendiri, seumur hidup bersusah payah mengingkari pesan-pesan yang setiap saat digetarkan kesadaran murni yang tertutup kegelapan prasangka, IA yang setiap saat selalu mengingatkan dirinya, bahwa penderitaan hidup yang selalu bergelayut di rasa hidup yang di jalani berasal mula ketersesatan yang tidak disadari, ketersesatan yang diyakini sebagai kebenaran, ketertipuan yang di sangka sebagai kebenaran

Bagian yang manakah dari kesadaran sempurna itu yang tidak merasa memiliki kebenaran, terlepas apakah kebenaran yang disadarinya diungkapkan atau tidak, sebab seluruh DIRI-DIRI yang SADAR itu tidak lain Maha Hidup yang rasa hidupnya diterjemahkan oleh tubuh Manusia Yang Maha Sempurna ini, tentu saja diri-diri itu akan merasa memiliki dan mengetahui “kebenaran” karena asal mula munculnya kesadaran itu sendiri tidak lain “kebenaran” yang mewujud

Capaian tingkat kebijaksanaan lah yang menjadi pembeda kebenaran-kebenaran tersebut, dan kebenaran tertinggi tidak lain tercapainya kebijaksanaan tertinggi oleh yang berkesadaran sempurna, yang demikian yang dimaksud sebagai Tuhan bukan yang mengklaim akan tetapi yang menjadi

Atlantia Ra


Mangku Bumi

DIV BUNGA ABADI

Published

on

Div-Sinar,
divine yang sempurna yang bersifat ketuhanan

Tuhan sebab dari segala sebab berasal dari sumber hidup, yang hidup berkesadaran hidup disetiap sampul pembungkus hidupnya, Kesadaran paling sempurna ada di pembungkus’nya yang maha sempurna, kesempurnaan mengejawantah

“Hidup-Kesadaran Tuhan-badan Wadagh pembungkus hidup”, diantara hidup dan badan pembungkus hidup ada “kesadaran yang bersinar/divine”

Hidup ini semula Maha Hidup yang tunggal, terpisah-pisah oleh wujud pembungkus hidupnya, terlihat berbeda tapi “Sejatinya Tunggal” – “Bina Ika Tunggal Ika” ITU sesungguhnya terhubung pada kesamaan bahan dasar yaitu Maha Hidup, yang hidup yang menjadi “sebab dari segala sebab keberadaan”

Keterhubungan kepada Maha Tunggal terhalang oleh ketidakmurnian, keterikatan memunculkan keterbelahan karena rasa yang berbeda, prasangka berlebihan memupuk rasa saling curiga

Kesadaran terkotak-kotak prasangka dari persepsi tentang diri dan keberadaan, diawali informasi yang diserap mentah tanpa saringan hingga membenci diri sendiri karena ketidaktauan bahwa setiap yang hidup terhubung pada asal mula hidup itu sendiri

Div-Sinar,
mengamati sinar sebagai jalan melampaui keberadaan berupa yang mengamati di balik materi, dewa-div-sinar bergetar menimbulkan sabda-suara, suara pengantar pengetahuan penciptaan, suara merupa raksa-sa pada kekuasaan rasa, tentang indria/kama/nafsu, serta yang ketiga “yang hidup melihat di balik materi” yang tidak menjalani perubahan

Yang hidup menggetarkan Div sinar berwujud kesadaran, div sinar kehidupan menggetarkan sabda berwujud aksara, prada-na pembentuk tubuh, aksara A’ng-KSA’h-RA : yang tidak mati

Tidak mati karena bersumber div sinar kehidupan, div sendiri bersumber Maha Hidup, div dimensi kecerdasan dewata, yang sempurna bersifat ketuhanan, pendelegasi kekuatan cipta ditopang tarikan kekuatan raksa berupa Indria

Sumber-Hidup tiada wujud, menetap kosong tidak menjalani perubahan, adalah pembungkus hidup yang mewujud dan menjalani kehancuran wujud, SAT-NAM penguasa nirwana SA’Ta’ba’a’i NAMa’si’wa’ya aksara perekat antar dimensi, sinar di yang bergetar memunculkan aksara yang mendasari bentuk fisik-pertiwi

Nir-Wana jalan mengetahui sumber hidup yang tiada wujud, melampaui wujud, termasuk melampaui kesadaran,
nir : bukan,
wana wujud, melampaui menjadi yang bukan sekaligus wujud, purusha utama yang melihat di balik materi

Melampaui kesadaran wujud menetap sebagai yang melihat di balik materi tidak menjalani perubahan begitulah kebenaran tuhan yang adalah kebenaran abadi, kebenaran yang tidak mengalami perubahan, yang abadi, seperti yang hidup tidak mengalami kematian, dan yang hidup itu yang sedang menyadari hidupnya saat ini

Sanghyang “MANU”,
ketika yang melihat di balik materi manunggal div saat melakukan pekerjaan hidup melalui penggetaran kemaha sempurnaan badan yang mengandung segenap record pengetahuan penciptaan yang pernah di jalani/dilalui’nya

Kekuatan badan yang maha sempurna itu di getarkan ke alam, berupaya membentuk konstelasi, keterhubungan pada jejak kekuatan cipta pada benda-benda di semesta yang mengawali penciptaan semesta biologis

Berbentuk Kala-Cakra-Bhuana Agung penghubungan/penyelarasan/harmonisasi kekuatan Semesta pada poros sa’ba’ta’a’Ing – na’ma’si’wa’Yang, ING YANG poros Dewata Nawasanga Bhuana Alit, Bapa-Akasa Ibu-Pertiwi “Nunggal” bhagawan MANU, MANUnggal, meng’ESA, berupa penyatuan pada segenap sumber kekuatan wujud yang berasal mula Tunggal

Darakha Ruba

Continue Reading

Mangku Bumi

BUDHIDAYA

Published

on

Berprilaku bukan hanya bertheori, sekalipun theori atas kebenaran dibutuhkan untuk merekayasa keteraturan hidup agar yang hidup bertindak benar, karena memang begitulah kebenaran hidup apa adanya

Bagaimana cara mengatur hidup agar benar jika yang mengatur tidak tau apa-apa tentang kebenaran, yang terjadi pastilah pembenaran belaka, pembenaran yang dilengkapi hukuman yang tidak manusiawi bagi pelanggar

Semisal Tuhan,
mungkinkah tuhan tau cara terbbaik mengatur MANU’sa jika dia sendiri tidak pernah menjadi manusia, mungkinkah dia mengajar manusia cara manunggal jika dia tidak pernah terpisah, Ehiphasika

Otak tidak lain kloning kecerdasan semesta, cerdaslah atau diam dalam kebodohan, jangan berkata sepatah katapun yang menjadi pertunjukan kebodohanmu, karena kamu dirimu perwakilan kecerdasan yang menciptamu, kecerdasan yang mewujud sebagai dirimu, begitulah kebenaran sejati

Dan ketika kamu bodoh semata karena kamu belum mengetahui yang sebenar’nya, kamu dirimu sendiri yang telah membiarkan diri dalam kebodohan, kebodohan Kamu beserta Tuhanmu tidak mau menolong diri sendiri, sehingga kamu berputar-putar dalam prasangkamu, sedangkan AKU ITU dia tidak menjalani perubahan,
AKU-KAMU,
AKU-TUHAN

Siapa bilang tuhan tidak ada, tuhan ada dan terbukti menjadi sumber keributan bagi orang-orang yang sedang dijangkiti penyakit kebodohan, tuhan sumber keributan itu nyata adanya, orang-orang bodoh itu sedang memperebutkan kemahaan tuhan-tuhan’nya

Mereka tidak malu-malu mempertontonkan kemaha bodohan tuhan mereka, dan dengan pongah hendak mengajari kebaikan hidup, kebodohan yang di agung-agungkan sebagai kebaikan, gubrakh

Mengajari diri ber”budhi” prakhreti luhur agar tidak mempertontonkan kebodohan saja mereka tidak mampu, dan dengan pede berambisi mengajari “kebenaran Tuhan” pada yang lain, betapa to LOL

Menyadari kebenaran diri saja tak mampu , sekalipun sadar tapi masih terlalu jauh, dan kebodohan atas ketidaktauan mereka diatas bebankan pada nama tuhan, yang tidak lain ungkapan ketidak tauan tentang penciptaan

Maha Hidup yang berlabel TUHAN itu berprilaku mencipta, dia tidak pernah mengajari siapapun untuk mencipta, karena dia dirinya sendiri hanya bertindak apa adanya mencipta, dan seluruh ciptaan itulah sabdanya

Kemudian dan tiba-tiba orang bodoh mengumbar Ego yang tidak tertahankan mengaku-aku mendengar tuhan bersabda, duhhhh betapa kasihan’Nya Tuhan’mu mendapat tubuh pembungkus yang begitu bodoh, sampai tidak mampu menyadari kebenaran yang melekat atas kedirian

Yang tidak mengetahui yang sebenarnya pasti tertipu menyabdakan Tuhan,dia dirinya tidak sadar mengaku-aku tuhan atau menyabdakan ketidaktauan tentang penciptaan, karena yang berkesadaran itu benih hidup maha hidup yang tidak lain tuhan, tuhan yang juga berbisik kepada diri’nya sendiri tentang keberadaan Tuhan sesuai angan-angan’Nya

Tuan eh Tuhan yang mewujudkan diri menjadi seluruh bentuk di semesta, seluuh wujud-wujud yang dijadikan itulah sabdanya, bahkan ia mencipta pada kesempurnaan yang berwujud pada kesempurnaan di masing-masing sampul pembungkus hidupnya, kesempurnaan yang mengejawantah begiulah yang dimaksud sebagai tuhan, begitu pulalah wujud seluruh sabda’nya

Yang diam tidak menjalani perubahan begitulah kesejatian tuhan, dan yang “diam” tidak menjalani perubahan itu hanya dapat disadari melalui tubuh manusia ini, dari dalam badan kasar ini

Maha hidup yang diterjemahkan sebagai diri yang melihat di balik materi, diri yang memiliki segenap kemungkinan yang “tiada-batas” untuk menyadari seluruh proses penciptaan, bukan untuk mengaku-aku diri mendengar sabda sang pencipta (tuhan) dan mengklaim atau diklaim sebagai perwakilan tuhan yang sedang bodoh

Yang menyebut ketiada batasan adalah yang berbatas, adalah yang “tiada-batas” di dalam wujud pembungkusnya yang membatasi, akan tetapi ia tau bahwa kesejatian dirinya tiada batas, meniadakan pembatas pembatas itulah tujuan tuhan tuan hidup itu berwujud pada tubuh manusia bukan hanya untuk bersabda, karena sabda tuhan sejatinya Tuhan adalah seluruh yang dia cipta, sekalipun itu kesesatan

Melampaui wujud meniadakan pembatas-pembatas kekuatan cipta mewarisi kekuatan cipta begitulah ketuhanan yang sejati, manunggal dalam kemampuan ciptanya, yang pasti bukan hanya sebatas bercocotlogika, karena tuhan memberi bukti bukan janji-janji

Darakha Ruba

Continue Reading

Mangku Bumi

PENGADILAN AKHIR JAMAN

Published

on

Bahwasanya seluruh kita yang terlahir wujud, sejak semula terkelabui “maya-wujud” yang maha ghaib, dan membiarkan diri larut dalam kesombongan Ego yang menikmati keangkuhan’nya diatas kebodohan yang tidak tertahankan

Berbangga diri diatas kebodohan adalah “dosa-kesalahan” yang dia sendiri tidak berupaya mengampuni diri atas kebodohan dirinya, tetapi memilih memohon mohon belas kasihan tuhan, memohon-mohon pada tuhan yang dia lupakan, itu adalah prikaku kontradiktif, kalau tidak boleh disebut prilaku sakit

Salah satu ke’Agung’an sifat tuhan IA’lah rendah hati, karena tuhan tidak butuh puja-puji, apalagi dengan pujian lebay diatas kepura-puraan orang-orangan tuhan, yang berprilaku diatas kepalsuan, karena mereka sedang berdiri di atas bayangan angan-angan’nya

Mengangan-angankan Tuhan samasekali bukan ketuhanan yang esa tunggal, yang dimaksud ketuhanan yang sejati adalah kesadaran tuhan yang mewarisi segenap sifat-sifat Tuhan, ketuhann bukanlah
hafalan sifat-sifat tuhan, kemudian merasa layak mengklaim diri bertuhan

Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna ke”MANU”nggalan pada tuhan, yang dimaksud manunggal tuhan yakni menjadi tuhan, pewaris sifat-sifat tuhan yang slaah satunya mewujud cipta kemakmuran merata , ketuhanan yang masih mengumbar sifat-sifat kebinatangan tidak lain tuhan’nya binatang

Badan dan tubuh ini tidak lain binatang, jika seseorang lupa kesejatian diri maka yang hidup di tubuh itu secara otomatis hanya berkesadaran binatang, seklalipun mereka ngotot mengaku diri bertuhan, maka tuhanya tidak lain tuhan binatang, karena yang berangan-angan tentang tuhan adalah kesadaran tubuh binatangnya (kesadaran tubuh dan badan)

Keyakinan tuhan hanyalah omong-omong kosong tuhan,bahkan tuhan sendiri tidak sadar, semakin besar keyakinan yang dia tanamkan akan disertai keraguan yang sama sebesar yakin yang dia munculkan

Berpendapatlah sesuka hatimu tentang kebenaran, terlepas apakah pendapatmu itu mempertontonkan kebodohan ataukah kepintaran, tidak ada yang bisa mengadili pemikiran, selama itu untuk dirimu atau kaummu, dan jika ada yang berani mengadili pemikiranmu, itu tandanya kamu sudah tidak punya apa-apa lagi untuk mempertahankan hidupmu, kamu sudah mati layaknya bangkai berjalan

Bahkan jika tuhan mulai berani mengadili prilaku, tuhanpun harus mendapati dirinya diadili oleh kehendak bebas manusia, atau jika seorang nabi (nabe/guru) berani mengadili prilaku maka sang nabi itupun sangat layak diadili, karena sebab akibat, yang “SOK” mengadili akan diadili, seperti halnya yang membunuh, terbunuh

Bekalilah dirimu dengan pengetahuan yang benar, agar saat kamu diadili kamu bisa menuntut pengadilan balik diatas pengetahuan’mu tentang kebenaran yang benar, yang tidak memiliki celah kemungkinan dibantah

Oleh sebab Tuhan mereka telah lancang mangadili kebenaran orang lain, yang merasa diadili pun berhak membela “Kebenaran-Tuhan” yang kesadaran hidupnya sedang di wakilinya, jika seorang nabe-guru yang lancang tanpa kebijaksanaan, guru itupun layak diberi pelajaran kebijaksanaan, karena ada sebab pasti ada akibat, setiap gerak adalah karma

Yakin bukanlah kebutuhan pokok hidup, tetapi kehendak, berteguh pada kehendak atas pemeliharaan kehidipan tubuh pembungkus hidup’nya

Yakin atau keyakinan sekalipun sudah berbukti nyata tidak memiliki kekuatan mengentaskan penderitaan hidu, justru kekacuan tuhan’lah yang di timbulkan’nya , hanya pengetahuan yang dapat melakukanya, pengetahuan yang benar bahwa kesadaran diri ini adalah perwakilan hidup “Sang-Maha-Hidup”

Lalu apa langkah selanjutnya setelah kita berpengetahuan yang benar seperti yang dimaksud diatas, apakah hanya diam berbangga diri terbuai angan-angan kemuliaan yang sedang diwakili itu…

Akh….
tentu saja itu pemikiran bodoh yang tidak layak dibanggakan apalagi menghayalkan kemuliaan diri, karena kesadaran itu sendiri manifestasi kecerdasan maha sempurna warisan sang pencipta semesta, cerdaslah !!!

Badan kasar yang kita semua kendarai ini beserta tubuh dan segenap perangkat penopang hidupnya adalah manifestasi kesempurnaan sang maha pencipta, yang artinya di dalam tubuh ini terkandung segenap kesempurnaan penciptaannya, kesempurnan yang mengejawantah

Yang berarti tanpa keraguan bahwa segenap kesempurnaan melekat padanya, karena kesempurnaan itu sendiri bahan dasarnya mewujud, yang perlu di upayakan adalah menemukan KNOP lalu meng”CLICK”nya ke posisi “MODE-ON”, berupaya menemukan cara menggetarkan kekuatan maha sempurnanya, guna memudahkan pemeliharaan hidup

Bukankah hanya itu yang paling dibutuhkan hidup ini, bukan mempertontonkan ketololan menyeterukan tuhan yang tidak pernah ada, setidaknya Tuhan yang tidak pernah berani menongolkan diri dan mengaku tuhan

Kemampuan menggetaran kekuatan cipta tubuh yang maha sempurna itulah hasil Ketuhanan, yang sering saya sebut “menjadi manusia seutuhnya” tuhan, utuh-tunggal antara keteguhan kehendak (kehendak konstant) dari yang melihat di balik materi menggetarkan kesempurnaan kekuatan cipta tubuh yang dikendarai’nya

Perangkat Cipta Maha Sempurna itu sejak semula sudah tersedia, yaitu wujud wadagh yang selain “mesin maha canggih” penterjemah “maha sempurna” kesadaran hidup, yang juga penterjemah kekuatan maha cipta, dan karena semua kita lupa diri atas keterjeratan Maya, tidak tau lagi cara mengoperasikanya secara benar, bahkan kesadaran yang tidak lain tuan kehidupan tidak lagi mengenali siapa dirinya

Tugas utama hidup adalah mengembalikan semua ini kepada yang seharunya,hanya itu saja yang layak di upayakan, terlepas sekuat apapun kemampuan kita, tidaklah penting, bekerjalah kamu tanpa mengharap hasil

Itulah gunanya meditasi sinar suara, guna menguatkan kesadaran yang melampaui wujud, agar tidak lagi terombang ambing rasa hidup, sedemikian dapat selalu terfocus menggetarkan kekuatan maha ciota tubuh yang dikendarai’NYA
(NYA = TUHAN)
THEN BANG !!!

Darakha Ruba

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam