Breaking News
light_mode

Ferrari Luce dan Pelajaran Bisnis Mahal, Ketika Desain Elegan Tak Cukup Menaklukkan Hati Konsumen

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kontroversi Ferrari Luce menunjukkan bahwa konsumen produk premium tidak hanya membeli teknologi dan desain, tetapi juga identitas, emosi, serta pengalaman yang melekat pada sebuah merek.

DENPASAR, 22 Agustus 2026 — Ferrari memberikan sebuah pelajaran penting tentang bisnis produk premium melalui Ferrari Luce, mobil listrik pertama dalam sejarah pabrikan asal Italia tersebut.

Luce hadir dengan pendekatan yang berbeda dari karakter Ferrari selama ini. Mobil listrik empat pintu dengan lima tempat duduk tersebut mengusung bahasa desain minimalis yang dikembangkan bersama Sir Jony Ive dan Marc Newson melalui LoveFrom, perusahaan desain yang didirikan Ive setelah meninggalkan Apple.

Ferrari menyebut Luce sebagai bagian dari transformasi menuju era elektrifikasi. Mobil ini dibanderol mulai sekitar €550.000 atau sekitar US$640.000 dan menawarkan tenaga lebih dari 1.000 CV, empat motor listrik serta kemampuan akselerasi 0-100 kilometer per jam dalam 2,5 detik.

Namun, desain Luce justru memicu perdebatan. Sebagian penggemar Ferrari menilai bentuknya terlalu jauh meninggalkan karakter visual mobil-mobil Ferrari yang selama puluhan tahun identik dengan lekuk agresif, suara mesin, dan aura emosional.

Di tengah kontroversi tersebut, muncul perspektif menarik dari pengamat bisnis dan inovasi, Dr. Indrawan Nugroho. Menurutnya, persoalan Ferrari Luce tidak semata-mata terletak pada teknologi kendaraan listrik atau kualitas desain.

“Ini bukan kegagalan teknologi, ini bukan kegagalan kendaraan listrik. Ini adalah kegagalan empati, kegagalan memahami siapa pelanggan Anda, kegagalan memahami apa yang mereka rasakan, kegagalan memahami apa yang sesungguhnya mereka beli.”

Dr. Indrawan menilai, pelanggan produk premium pada dasarnya tidak hanya membeli fungsi sebuah produk.

“Sering kali pelanggan tidak membeli produk Anda. Mereka membeli perasaan yang diberikan oleh produk itu. Mereka membeli identitas, membeli pengalaman, membeli makna.”

Ferrari Bukan Sekadar Mobil

Pandangan tersebut menjadi relevan ketika melihat posisi Ferrari di industri otomotif. Bagi sebagian besar konsumennya, Ferrari bukan sekadar alat transportasi.

Nama Ferrari membawa sejarah balap, eksklusivitas, suara mesin, desain agresif, serta pengalaman emosional yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Karena itu, perubahan menuju mobil listrik tidak hanya menjadi persoalan mengganti mesin pembakaran dengan motor listrik. Ferrari juga harus mempertahankan alasan emosional mengapa seseorang bersedia membayar sangat mahal untuk memiliki sebuah Ferrari.

Dr. Indrawan Nugroho, Influenser.

Dr. Indrawan menilai Jony Ive tetap merupakan salah satu desainer produk paling berpengaruh di dunia. Pengalaman Ive di Apple telah menghasilkan sejumlah produk ikonik dengan pendekatan desain yang bersih, sederhana dan minimalis.

Namun, menurutnya, pendekatan tersebut belum tentu dapat diterapkan begitu saja pada setiap kategori produk.

“Jony Ive mungkin salah satu product designer terbaik di dunia. Tidak ada yang meragukan itu. Tapi supercar bukan sekadar produk. Supercar adalah pengalaman emosional yang kebetulan memiliki empat roda.”

Ferrari sendiri menegaskan bahwa desain Luce memang sengaja mengambil arah baru. Pabrikan tersebut menyatakan desainnya dikembangkan melalui kolaborasi dengan Jony Ive dan Marc Newson untuk menghadirkan perspektif baru sekaligus membangun bahasa desain baru bagi Ferrari.

Ketika Merek China Memainkan Emosi

Fenomena menarik lainnya muncul dari perkembangan industri mobil listrik China.

BYD dan Xiaomi, dua perusahaan yang memiliki akar kuat di sektor teknologi dan elektronik, mulai memasuki segmen performa tinggi dengan produk-produk yang berusaha menghadirkan tampilan agresif, eksotis dan dramatis.

Dalam perspektif Dr. Indrawan, fenomena tersebut memberikan ironi tersendiri.

“Merek China yang dulu sering dianggap sebagai peniru justru terlihat lebih memahami jiwa sebuah supercar dibandingkan Ferrari sendiri.”

Pernyataan tersebut bukan berarti kualitas Ferrari Luce secara teknis berada di bawah produk pesaingnya. Sebaliknya, Luce memiliki spesifikasi yang sangat tinggi.

Ferrari membekali Luce dengan baterai 122 kWh, arsitektur 800 volt, empat motor listrik dan tenaga maksimum sekitar 1.050 CV. Mobil tersebut memiliki jarak tempuh lebih dari 530 kilometer dan kecepatan puncak lebih dari 310 kilometer per jam.

Persoalannya lebih dalam: bagaimana sebuah merek mempertahankan jiwanya ketika memasuki teknologi baru?

Saham Sempat Tertekan, Penjualan Justru Berbicara

Kontroversi desain Luce memang sempat berdampak terhadap sentimen investor. Saham Ferrari dilaporkan turun setelah peluncuran mobil tersebut, dengan kekhawatiran bahwa desain yang kontroversial dapat memengaruhi persepsi terhadap merek.

Namun, jika hanya melihat penurunan saham, gambaran mengenai Luce menjadi tidak lengkap.

Ferrari justru berhasil memenuhi target penjualan 2026 untuk Luce, yakni hampir 500 unit, hanya sekitar dua bulan setelah peluncuran. Permintaan yang kuat, terutama dari pasar China, turut mendorong pencapaian tersebut.

Bahkan pada Agustus 2026, unit khusus Chassis 0 Ferrari Luce terjual US$40 juta melalui lelang RM Sotheby’s dalam rangka penggalangan dana amal. Nilai tersebut menjadikannya mobil baru dengan harga lelang tertinggi yang pernah tercatat. Dana hasil lelang akan digunakan untuk program pendidikan melalui Ferrari Foundation.

Dengan demikian, kontroversi Luce belum bisa disebut sebagai kegagalan bisnis. Justru, kasus tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah produk dapat mendapat kritik keras sekaligus memiliki permintaan yang sangat kuat.

Pelajaran Bisnis dari Ferrari Luce

Menurut Dr. Indrawan, pelajaran terbesar dari kasus Ferrari Luce tidak hanya berlaku untuk industri otomotif.

Perusahaan mana pun harus memahami bahwa pelanggan tidak selalu membeli spesifikasi, fitur atau teknologi.

Mereka membeli sesuatu yang lebih abstrak: perasaan, identitas, status, pengalaman dan makna.

“Pertanyaannya sekarang, apakah Anda benar-benar mengenal pelanggan paling setia Anda? Atau jangan-jangan selama ini Anda hanya mengira bahwa Anda mengenal mereka?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Perusahaan dapat memiliki teknologi terbaik, desainer kelas dunia dan produk dengan spesifikasi luar biasa. Namun, ketika produk tersebut tidak mampu membangun hubungan emosional dengan konsumennya, merek tetap menghadapi risiko kehilangan sebagian dari daya tarik yang selama ini membuatnya istimewa.

Ferrari Luce pada akhirnya bukan hanya cerita tentang mobil listrik.

Ia menjadi studi kasus tentang bagaimana sebuah merek legendaris berusaha menjawab pertanyaan paling sulit dalam inovasi: bagaimana berubah tanpa kehilangan alasan mengapa pelanggan mencintai Anda sejak awal.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peneliti Temukan Protein PDI, “Lem Mikroskopis” yang Berpotensi Memperlambat Penuaan Otak

    Peneliti Temukan Protein PDI, “Lem Mikroskopis” yang Berpotensi Memperlambat Penuaan Otak

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 10Komentar

    SYDNEY – Tim ilmuwan dari Macquarie University, Australia, mengidentifikasi protein umum dalam sel tubuh manusia yang berpotensi menjadi senjata baru melawan penuaan otak. Protein ini dikenal sebagai disulphide isomerase atau PDI, yang berfungsi layaknya “lem mikroskopis” untuk memperbaiki kerusakan DNA sekaligus melindungi otak dari penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, dan motor neuron disease. Selama ini, […]

  • “Bali Merdeka Saja Kalo Begini” Tokoh Bali Mendesak Presiden Realisasikan Ground Breaking Bandara Bali Utara

    “Bali Merdeka Saja Kalo Begini” Tokoh Bali Mendesak Presiden Realisasikan Ground Breaking Bandara Bali Utara

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 142Komentar

    DENPASAR – Tokoh Masyarakat Bali, Para Penglingsir Bali dan masyarakat secara luas mendesak Presiden segera merealisasikan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan Bandara Bali Utara di Kabupaten Buleleng. Desakan itu mencuat dalam pertemuan antara jajaran PT BIBU dengan sejumlah tokoh puri dan masyarakat Bali, Kamis (12/2), di Jalan Soputan, Denpasar. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh, […]

  • Dr. Ichsanuddin Noorsy: Konflik AS–Israel vs Iran Bukan Sekadar Nuklir, tapi Perebutan Kendali Teluk

    Dr. Ichsanuddin Noorsy: Konflik AS–Israel vs Iran Bukan Sekadar Nuklir, tapi Perebutan Kendali Teluk

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 7Komentar

    JAKARTA – Ekonom politik Dr. Ichsanuddin Noorsy menilai konflik antara Amerika Serikat dan Israel menghadapi Iran tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai isu senjata nuklir semata. Dalam sebuah wawancara podcast, ia menyebut eskalasi yang terjadi merupakan bagian dari pertarungan geopolitik panjang untuk menguasai kawasan Teluk yang strategis secara energi dan militer. Menurutnya, publik awam kerap […]

  • Momentum Hari Pers Nasional, Ketum AWDI Serahkan Mandat DPW Bali

    Momentum Hari Pers Nasional, Ketum AWDI Serahkan Mandat DPW Bali

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Denpasar — Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap 9 Februari kembali menjadi momentum reflektif bagi insan pers untuk meneguhkan peran strategisnya dalam menjaga demokrasi yang sehat. HPN tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan seremonial, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab besar pers dalam menegakkan kebenaran, keadilan, serta kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Sejalan dengan […]

  • Kekayaan Instan dan Jejak Uang Kotor yang Tak Pernah Hilang

    Kekayaan Instan dan Jejak Uang Kotor yang Tak Pernah Hilang

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kekayaan yang melonjak secara tiba-tiba kerap mengusik nalar publik. Bukan karena lahir dari terobosan usaha atau akumulasi kerja panjang, melainkan karena muncul tanpa penjelasan yang sepadan dengan riwayat pekerjaan, kewajiban pajak, maupun aktivitas ekonomi yang diketahui. Dalam situasi seperti ini, persoalan utama bukan bagaimana uang digunakan, melainkan bagaimana asal-usulnya dapat dipertanggungjawabkan. Markas Melawan […]

  • Naluri Prostitusi Terungkap! Ketika Monyet Yale Memahami Uang dan Menjual Layanan Seks

    Naluri Prostitusi Terungkap! Ketika Monyet Yale Memahami Uang dan Menjual Layanan Seks

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 6Komentar

    DENPASAR – Sebuah eksperimen perilaku yang dilakukan para peneliti di Yale University membuka bab baru dalam pemahaman tentang asal-usul perilaku ekonomi. Dalam penelitian yang kini kerap dikutip di berbagai literatur akademik itu, sekelompok monyet kapusin diperkenalkan pada konsep mata uang sederhana berupa koin token yang dapat ditukarkan dengan makanan favorit mereka. Hasilnya jauh melampaui dugaan […]

expand_less