Denmark Luncurkan Baterai Garam Cair 1 GWh, Dorong Transisi Energi Terbarukan Global
- account_circle Admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Esbjerg, Denmark — Denmark kembali mempertegas posisinya sebagai pelopor inovasi energi hijau dengan peluncuran sistem penyimpanan energi molten salt (garam cair) berkapasitas besar. Teknologi ini dipandang sebagai lompatan penting dalam menstabilkan energi terbarukan yang selama ini menghadapi tantangan sifat intermittennya.
Sistem baterai berupa penyimpanan energi termal berkapasitas 1 gigawatt-jam (GWh) ini dikembangkan oleh perusahaan Denmark, Hyme Energy, bekerja sama dengan perusahaan teknik asal Swiss, Sulzer. Baterai garam cair ini bukan sekadar konsep, tetapi sudah siap diterapkan secara komersial dalam jaringan listrik nyata.
Secara teknis, sistem ini menyimpan energi bukan dalam bentuk listrik langsung seperti pada baterai lithium-ion, melainkan sebagai energi panas pada garam cair bersuhu tinggi.
Energi listrik dari sumber terbarukan seperti angin dan surya dialihkan menjadi panas yang menaikkan suhu garam hingga sekitar 600°C. Energi panas tersebut disimpan dan dapat dikonversi kembali menjadi listrik atau digunakan sebagai sumber panas industri saat diperlukan.
Menurut data dari peluncuran, baterai garam cair ini mampu menyuplai listrik untuk sekitar 100.000 rumah selama kurang lebih 10 jam secara stabil saat pengisian penuh. Hal ini menandai lonjakan kapasitas dibandingkan sistem penyimpanan energi listrik konvensional yang biasanya hanya mampu bertahan beberapa jam.
CEO dan salah satu pendiri Hyme Energy, Ask Emil Løvschall-Jensen, mengatakan bahwa teknologi ini tidak hanya penting untuk menyimpan energi listrik, tetapi juga untuk menyediakan steam dan panas industri yang biasanya bergantung pada bahan bakar fosil, memberi nilai tambah ganda dalam upaya dekarbonisasi sektor energi dan industri.
Menurut pernyataan perusahaan, sistem ini telah menunjukkan efisiensi hingga 90 % dalam konversi energi panas dan dapat menyimpan energi hingga dua minggu.
Para ahli energi melihat teknologi baterai garam cair ini sebagai solusi yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah fluktuasi energi terbarukan, terutama bagi negara-negara dengan dominasi tenaga angin dan surya. Kehadiran sistem penyimpanan energi skala besar memungkinkan kelebihan energi saat produksi tinggi ditahan untuk digunakan saat permintaan melonjak atau produksi menurun.
Langkah Denmark ini dipandang sebagai peluang besar bagi banyak negara yang tengah mempercepat transisi menuju energi bersih. Jika teknologi ini berhasil direplikasi secara luas, baterai garam cair berpotensi menjadi salah satu pondasi utama dalam arsitektur sistem kelistrikan masa depan yang lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar